Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Gut-Skin Axis: Hubungan Tersembunyi antara Usus dan Jerawat
ilustrasi seorang perempuan mengalami masalah jerawat (pexels.com/Polina Tankilevitch)
  • Para ahli menemukan hubungan erat antara kesehatan usus dan jerawat melalui gut-skin axis, di mana ketidakseimbangan mikrobiota usus dapat memicu peradangan yang berdampak pada kulit.
  • Stres terbukti memengaruhi keseimbangan hormon dan mikrobiota usus, yang kemudian dapat memperburuk kondisi pencernaan serta berpengaruh pada kesehatan kulit dan suasana hati.
  • Menjaga kesehatan usus lewat pola makan seimbang, tidur cukup, olahraga, pengelolaan stres, serta hidrasi optimal menjadi kunci mendukung kulit lebih bersih dan sehat dari dalam.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Artikel ini menyoroti pandangan positif bahwa kesehatan kulit dapat ditingkatkan melalui pemahaman lebih dalam tentang hubungan antara usus dan kulit. Dengan menunjukkan bagaimana keseimbangan mikrobioma, pengelolaan stres, pola makan sehat, tidur cukup, dan olahraga saling mendukung, artikel ini membuka peluang pendekatan holistik yang memperkuat kesehatan tubuh sekaligus memperbaiki kondisi kulit dari dalam.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jerawat sering dianggap sebagai masalah kulit yang dipicu oleh minyak berlebih, bakteri, atau hormon. Padahal, dalam beberapa tahun terakhir, para ahli mulai melihat bahwa kondisi kulit juga sangat dipengaruhi oleh apa yang terjadi di dalam tubuh, terutama di saluran pencernaan. Usus bukan hanya tempat mencerna makanan, tetapi juga pusat penting bagi sistem kekebalan dan keseimbangan mikroorganisme tubuh.

Hubungan antara usus dan kulit dikenal sebagai gut-skin axis, yaitu jalur komunikasi yang menghubungkan kesehatan pencernaan dengan kondisi kulit. Ketika keseimbangan bakteri baik di usus terganggu, peradangan dalam tubuh bisa meningkat, dan efeknya bisa muncul di permukaan kulit, termasuk dalam bentuk jerawat yang sulit diatasi.

1. Hubungan antara kesehatan usus dan jerawat

Para ahli meyakini bahwa orang dengan jerawat memiliki peningkatan permeabilitas usus. Ini melibatkan usus yang membiarkan senyawa selain nutrisi dan air masuk ke aliran darah. Beberapa menyebutnya sebagai usus bocor.

Studi terbaru juga menemukan bahwa penderita jerawat cenderung memiliki keragaman bakteri usus yang lebih rendah serta kekurangan bakteri baik seperti Lactobacillus dan Bifidobacterium. Hubungan ini dikenal sebagai gut-skin axis, meski mekanismenya belum sepenuhnya dipahami (Microorganisms, 2022).

Teori yang menjelaskan hubungan ini:

  • Ketidakseimbangan bakteri (disbiosis): Berkurangnya bakteri baik menurunkan produksi asam lemak penting yang menjaga dinding usus sehingga memicu peradangan yang bisa memperparah jerawat. 

  • Sistem imun: Mikroba usus dapat memengaruhi respons imun yang berperan dalam munculnya jerawat. 

  • Sinyal sel (mTOR): Perubahan mikroba usus bisa memengaruhi jalur mTOR yang berkaitan dengan kesehatan kulit

  • Sistem saraf: Mikroba usus menghasilkan neurotransmiter yang dapat memengaruhi kondisi kulit. 

  • Mikrobioma kulit: Zat dari usus dapat memengaruhi jenis bakteri yang hidup di kulit, yang turut berperan dalam munculnya jerawat.

2. Pengaruh stres terhadap kesehatan usus 

Saat stres, kondisi tubuh berubah dan memicu ketidakseimbangan hormon. Ini bisa mengganggu sistem pencernaan, menyebabkan mual, diare, atau sakit perut, bahkan jika bakteri baik di usus sebenarnya cukup seimbang.

Perempuan cenderung lebih rentan terhadap gangguan usus akibat stres, yang menjadi salah satu alasan mengapa kasus IBS lebih banyak terjadi pada perempuan. Salah satu penyebabnya, mikrobiota usus juga berperan dalam mengatur hormon seperti estrogen.

Stres, kesehatan mental, dan kesehatan usus saling terhubung. Stres dapat memicu masalah pencernaan, sementara usus yang tidak sehat bisa berdampak pada berat badan, kualitas tidur, kondisi kulit, hingga konsentrasi dan kejernihan berpikir.

Pada orang dengan gangguan pencernaan, seperti sindrom iritasi usus besar, penyakit Crohn, atau kolitis ulseratif, stres sering memicu kambuhnya gejala. Bahkan, orang sehat pun bisa mengalami gangguan pencernaan hanya karena stres.

Karena itu, mengelola stres, kecemasan, dan depresi bisa menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan usus tetap stabil.

3. Tanda dan gejala usus yang tidak sehat

ilustrasi perut buncit (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)

Banyak orang mengalami gejala pencernaan sesekali. Namun, jika kamu memiliki gejala kronis, yang mungkin terjadi setiap minggu atau bahkan setiap hari, itu dapat menandakan bahwa kamu memiliki usus yang tidak sehat.

Beberapa gejala ini, meliputi:

  • Gas.

  • Kembung.

  • Kram.

  • Ketidaknyamanan perut.

  • Diare.

  • Sembelit.

Efek kesehatan usus yang buruk dapat meluas di luar sistem pencernaan. Hal ini dapat menyebabkan gejala, seperti:

  • Masalah tidur.

  • Kelelahan yang terus-menerus.

  • Perubahan kulit.

  • Intoleransi makanan.

  • Mengidam makanan manis.

  • Gangguan suasana hati yang tidak dapat dijelaskan.

4. Menyembuhkan usus untuk menyembuhkan kulit

Meningkatkan kesehatan usus dimulai dengan melihat secara komprehensif seluruh gaya hidup:

  • Fokus pada makanan yang ramah usus: Pola makan yang sehat adalah dasar untuk usus yang sehat. Fokus pada makanan nabati utuh, seperti buah-buahan, sayuran, dan biji-bijian utuh. Makanan ini menyediakan nutrisi dan serat yang dibutuhkan bakteri baik, yang membantu menenangkan jalur peradangan. Batasi atau hindari makanan ultra-olahan. 

  • Tidur cukup: Usahakan untuk tidur setidaknya tujuh jam setiap malam. Kurang tidur kronis dapat mengubah keseimbangan usus yang rapuh dan meningkatkan peradangan serta hormon stres dalam tubuh.

  • Kelola stres: Stres memicu respons "lawan atau lari" yang dapat menyebabkan peradangan dan mengganggu mikrobioma usus. Menemukan cara sehat untuk mengelolanya dapat membuat usus menjadi lebih sehat.

  • Aktif berolahraga: Olahraga bukan hanya untuk kesehatan jantung, otot, dan paru-paru; tapi juga dapat menjaga sistem kekebalan tubuh dan saluran pencernaan tetap sehat. Cobalah bentuk olahraga apa pun yang paling cocok untukmu.

  • Tetap terhidrasi: Air menopang dan melumasi saluran pencernaan. Air sangat penting untuk menjaga keteraturan buang air besar dan sangat penting saat cuaca panas.

5. Manfaatkan perawatan topikal untuk mengatasi jerawat

Obat jerawat topikal dan rutinitas perawatan kulit yang baik juga merupakan bagian penting dalam mengelola jerawat. Jerawat ringan mungkin merespons dengan baik terhadap produk yang dijual bebas yang mengandung:

  • Adapalene, yang melawan peradangan dan membantu kulit melepaskan sel-sel tua dengan lebih efisien.

  • Benzoyl peroxide, yang dapat melawan bakteri penyebab peradangan di kulit.

  • Asam salisilat, yang membantu membersihkan pori-pori yang tersumbat dan menenangkan peradangan.

Perawatan lain yang seringkali ampuh untuk mengatasi jerawat, meliputi:

  • Retinoid: Tersedia dalam bentuk krim atau gel, retinoid dapat mempercepat pergantian sel kulit, membersihkan pori-pori, dan menenangkan peradangan.

  • Antibiotik topikal: Sering diresepkan sebagai krim atau kapas yang sudah direndam, obat-obatan ini membunuh bakteri penyebab jerawat dan meredakan peradangan.

  • Prosedur estetika: Pengelupasan kimia, perawatan laser, dan terapi cahaya biru mengobati peradangan di bawah permukaan kulit.

Jadi, merawat kulit dari luar saja tidak cukup. Menjaga kesehatan usus juga bisa menjadi kunci untuk mendapatkan kulit yang lebih bersih dan sehat dari dalam.

Referensi

Franciscan Health. "How Is Gut Health Connected To Mental And Physical Health?" Diakses pada Maret 2026.

Henry Ford Health. "The Link Between Gut Health and Acne." Diakses pada Maret 2026.

Pedro Sánchez-Pellicer et al., “Acne, Microbiome, and Probiotics: The Gut–Skin Axis,” Microorganisms 10, no. 7 (June 27, 2022): 1303, https://doi.org/10.3390/microorganisms10071303.

ZOE. "What’s The Relationship Between Gut Health and Acne?" Diakses pada Maret 2026.

Editorial Team