Yuanhang Yang et al., “Population-based Estimated Glomerular Filtration Rate Distributions and Associated Health Outcomes Provide Opportunities for Early Identification of and Primary Prevention of Chronic Kidney Disease,” Kidney International 109, no. 3 (January 21, 2026): 559–68, https://doi.org/10.1016/j.kint.2025.11.009.
Pierre Delanaye and Christophe Mariat, “Percentiles of Estimating Glomerular Filtration Rate: A New Personalized Tool for Detection of Chronic Kidney Disease,” Kidney International 109, no. 3 (February 19, 2026): 436–38, https://doi.org/10.1016/j.kint.2025.12.010.
Science Daily. "Doctors may be missing early signs of kidney disease." Diakses Juni 2026.
Karolinska Institutet. “eGFR Percentile Explorer.” Diakses Juni 2026.
Studi: Hasil Tes Ginjal Normal Tetap Bisa Menunjukkan Risiko Serius

- Studi Karolinska Institutet menemukan bahwa hasil tes ginjal eGFR yang tampak normal bisa menyembunyikan risiko gagal ginjal di masa depan, tergantung usia dan jenis kelamin seseorang.
- Analisis terhadap 1,1 juta orang menunjukkan individu dengan eGFR di bawah persentil ke-25 memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami gagal ginjal meski nilainya masih dalam batas normal.
- Peneliti mengembangkan alat daring berbasis persentil eGFR untuk membantu dokter menilai risiko lebih akurat dan mendorong pemeriksaan lanjutan seperti tes albumin urine guna deteksi dini penyakit ginjal.
Kebanyakan orang menganggap jika hasil laboratorium dalam rentang normal, berarti aman. Jika di luar rentang normal, berarti ada masalah. Biasanya kecenderungannya seperti itu. Namun, studi terbaru dari Karolinska Institutet menunjukkan bahwa kesehatan ginjal mungkin tidak sesederhana itu.
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Kidney International ini menemukan bahwa bahkan hasil tes ginjal yang terlihat normal dapat menyimpan informasi penting tentang risiko kesehatan seseorang di masa depan.
Fokus studi: eGFR
Fokus penelitian ini adalah estimated glomerular filtration rate (eGFR), ukuran yang paling sering digunakan untuk menilai seberapa baik ginjal menyaring darah.
Secara umum, nilai eGFR di atas 60 mL/menit/1,73 m² sering dianggap masih berada dalam kategori yang relatif baik. Dokter biasanya tidak terlalu khawatir jika hasil pasien berada di atas angka tersebut.
Namun para peneliti mulai mempertanyakan satu hal penting, apakah nilai "normal" itu benar-benar normal untuk semua orang?
Seorang pria berusia 80 tahun dan seorang perempuan berusia 45 tahun tentu memiliki fungsi ginjal yang secara alami berbeda. Jika nilai eGFR dua orang tersebut sama, apakah maknanya juga sama? Pertanyaan inilah yang melatarbelakangi penelitian berskala besar tersebut.
Studi melibatkan 1,1 juta orang
Para peneliti menganalisis data lebih dari 1,1 juta orang dewasa berusia 40 hingga 100 tahun di wilayah Stockholm, Swedia. Jumlah ini mewakili sekitar 80 persen populasi dalam rentang usia tersebut. Mereka juga mengevaluasi hampir 7 juta hasil pemeriksaan eGFR yang dikumpulkan selama periode 2006–2021.
Alih-alih hanya menggunakan satu batas angka normal, tim peneliti membuat grafik persentil berdasarkan usia dan jenis kelamin, mirip grafik pertumbuhan yang digunakan dokter anak untuk memantau tinggi dan berat badan. Ini memungkinkan dokter melihat apakah fungsi ginjal seseorang berada di atas rata-rata, rata-rata, atau justru jauh di bawah kelompok seusianya.
Hasilnya, para peneliti menemukan bahwa orang dengan nilai eGFR yang berada di bawah persentil ke-25 untuk usia dan jenis kelaminnya memiliki risiko yang lebih tinggi mengalami gagal ginjal di kemudian hari hingga membutuhkan dialisis atau transplantasi ginjal. Bahkan ketika angka eGFR tersebut masih berada dalam rentang yang selama ini dianggap normal.
Salah satu contoh yang diberikan oleh tim peneliti: Seorang perempuan berusia 55 tahun dengan eGFR 80 kemungkinan besar akan dianggap memiliki fungsi ginjal yang baik oleh banyak dokter. Namun, ketika dibandingkan dengan perempuan lain seusianya, nilai tersebut ternyata berada di sekitar persentil ke-10. Menurut analisis penelitian, kondisi ini berkaitan dengan risiko memerlukan dialisis di masa depan yang sekitar tiga kali lebih tinggi dibanding kelompok rata-rata.
Temuan lain yang tak kalah menarik adalah adanya pola berbentuk huruf U antara persentil eGFR dan risiko kematian. Artinya, bukan hanya kelompok dengan fungsi ginjal relatif rendah yang memiliki risiko lebih tinggi. Individu yang berada pada ujung sangat tinggi distribusi eGFR juga menunjukkan peningkatan risiko kematian dibanding mereka yang berada di kisaran tengah.
Fenomena ini kemungkinan mencerminkan bahwa nilai eGFR yang sangat tinggi tidak selalu berarti ginjal lebih sehat. Dalam beberapa kondisi, itu bisa mencerminkan hiperfiltrasi ginjal atau faktor medis lain yang perlu perhatian lebih lanjut.
Apa artinya bagi pasien dan dokter?

Temuan ini tidak berarti bahwa jutaan orang dengan hasil eGFR normal sebenarnya mengidap penyakit ginjal. Penelitian ini menunjukkan bahwa fungsi ginjal sebaiknya tidak cuma dinilai berdasarkan satu angka batas universal. Konteks usia dan jenis kelamin juga penting.
Dalam praktik klinis saat ini, salah satu pemeriksaan penting untuk mendeteksi kerusakan ginjal dini adalah tes albumin urine atau urine albumin-to-creatinine ratio (uACR). Tes ini dapat menemukan kebocoran protein yang sering muncul jauh sebelum fungsi ginjal turun drastis.
Namun, studi tersebut menemukan bahwa di antara orang-orang yang memiliki eGFR di atas 60 tetapi berada di bawah persentil ke-25 untuk kelompok usia dan jenis kelaminnya, hanya sekitar satu dari empat yang menjalani pemeriksaan albumin urine lanjutan.
Dengan kata lain, ada peluang untuk mendeteksi risiko lebih dini yang mungkin belum dimanfaatkan secara optimal.
Hal ini sangat penting karena penyakit ginjal kronis sering berkembang diam-diam.
Menurut berbagai estimasi global, sekitar 10–15 persen orang dewasa hidup dengan penyakit ginjal kronis, dan banyak di antaranya baru tahu kondisinya setelah kehilangan sebagian besar fungsi ginjal. Penyakit ini bahkan diperkirakan akan menjadi salah satu dari lima penyebab utama hilangnya tahun kehidupan pada 2040.
Karena itu, para peneliti mengembangkan alat daring berbasis persentil eGFR yang memungkinkan tenaga kesehatan membandingkan hasil pasien dengan populasi seusia dan sejenis kelamin. Tujuannya bukan untuk menggantikan pemeriksaan yang sudah ada, melainkan membantu mengidentifikasi orang yang mungkin membutuhkan evaluasi lebih lanjut lebih awal.
Bagi masyarakat umum, pesan penelitian ini adalah jangan terpaku pada label "normal" atau "tidak normal" saat membaca hasil laboratorium. Riwayat kesehatan, tekanan darah, diabetes, kadar albumin urine, usia, dan faktor risiko lain tetap perlu dipertimbangkan bersama-sama.
Temuan ini membuka peluang agar risiko penyakit ginjal dapat dikenali lebih cepat, ketika intervensi masih memiliki kesempatan terbesar untuk mencegah kerusakan yang lebih berat.
Referensi

![[QUIZ] Pilih Otot yang Ingin Dibentuk, Kami Rekomendasikan Latihannya](https://image.idntimes.com/post/20240705/anastase-maragos-fp7cfyppukm-unsplash-77608e651ffd65a27bc7ca3ab51d5a4c-9ee8fcedf24c176618a81cd66dfe2478.jpg)





![[QUIZ] Seberapa Jeli Matamu Menebak Karakter Upin & Ipin Ini?](https://image.idntimes.com/post/20240731/kuis-tebak-karakter-upin-ipin-6-55566cf7f1ec9f5b672c87a76e3236d7.jpg)




![[QUIZ] Latihan Kardio Pilihanmu Bisa Ungkap Siapa Dirimu Sebenarnya](https://image.idntimes.com/post/20250717/5593_035c0cfe-bc9b-4152-a4fa-a826ddc77043.jpg)

![[QUIZ] Seberapa Jeli Matamu Menebak Pemain Timnas Indonesia Ini?](https://image.idntimes.com/post/20240911/kuis-seberapa-jeli-melihat-pemain-timnas-bola-indonesia-22-6e90820e99468f9b34fe4e14a8725078.jpg)
![[QUIZ] Seberapa Jeli Matamu Menebak Member EXO Ini?](https://image.idntimes.com/post/20260205/exo_7438b4ac-131b-4cdb-a9b4-10c846a77239.jpg)


