Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Manfaat dan Cara Mencuci Hidung dengan Benar

Manfaat dan Cara Mencuci Hidung dengan Benar
ilustrasi mencuci hidung, irigasi nasal (commons.wikimedia.org/Birte and Villy Fink Isaksen)
  • Cuci hidung membantu mengencerkan lendir serta membersihkan alergen, debu, dan kotoran dari rongga hidung.

  • Gunakan air berlabel steril atau distilasi, atau air yang sudah direbus dan didinginkan—bukan air keran mentah.

  • Larutan, posisi kepala, tekanan aliran, serta kebersihan alat menentukan keamanan prosedur.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Ketika hidung penuh lendir dan bernapas mulai terasa tidak nyaman, orang akan mencari cara untuk melegakannya. Salah satu cara yang kerap digunakan adalah mencuci hidung dengan larutan garam atau saline.

Mencuci hidung berbeda dari semprotan saline yang hanya menghasilkan kabut halus. Prosedur ini mengalirkan larutan dari satu lubang hidung hingga keluar melalui lubang hidung lainnya, menggunakan botol khusus, neti pot, atau alat irigasi hidung.

Meski terlihat sederhana, tetapi jenis air dan cara penggunaannya tidak boleh diabaikan.

  1. Manfaat rutin mencuci hidung

    Larutan saline membantu mengencerkan lendir yang kental dan membilas debu, serbuk sari, kerak, serta zat lain yang menempel di dalam hidung. Proses ini juga dapat membantu kerja sistem pembersihan alami hidung, yaitu lendir dan rambut-rambut halus yang membawa kotoran keluar dari saluran napas.

    Pedoman klinis dalam jurnal Clinical and Experimental Otorhinolaryngology merekomendasikan irigasi saline sebagai bagian dari penanganan rinosinusitis kronis pada orang dewasa. Manfaatnya meliputi perbaikan gejala, pembersihan lendir, dan peningkatan kualitas hidup.

    Cuci hidung juga dapat membantu sebagian orang dengan rinitis alergi. Tinjauan terhadap 14 penelitian dengan 747 peserta menemukan bahwa irigasi saline mungkin mengurangi gejala alergi hingga tiga bulan dibandingkan tanpa irigasi. Namun, kualitas buktinya dinilai rendah karena ukuran studi kecil dan metode yang beragam. Belum cukup bukti untuk menyatakan bahwa cuci hidung dapat menggantikan semprotan steroid atau obat antihistamin.

    Artinya, cuci hidung berfungsi sebagai perawatan pendukung untuk meredakan gejala, bukan sebagai pengganti diagnosis dan pengobatan dari dokter.

  2. Cara mencuci hidung yang benar

    Ilustrasi larutan air garam untuk mencuci dan membersihkan hidung dalam perawatan kebersihan saluran pernapasan.
    ilustrasi air garam untuk membersihkan hidung (commons.wikimedia.org/Rillke)
    1. Cuci dan keringkan tangan. Pastikan alat irigasi sudah bersih dan benar-benar kering sebelum digunakan.
    2. Siapkan larutan saline. Pilihan paling praktis adalah larutan saline steril siap pakai atau saset garam khusus cuci hidung yang dilarutkan sesuai petunjuk. Jangan memakai air biasa tanpa garam karena dapat menimbulkan rasa perih.
    3. Gunakan air yang aman. Pilih air berlabel steril atau distilasi. Air keran dapat digunakan setelah direbus selama 3–5 menit, lalu didinginkan hingga suam-suam kuku. Air rebusan yang tidak langsung digunakan dapat disimpan dalam wadah bersih dan tertutup selama maksimal 24 jam. Tulisan “air minum” atau “air mineral” pada kemasan tidak otomatis berarti air tersebut steril atau telah melalui proses distilasi.
    4. Condongkan tubuh di atas wastafel. Miringkan kepala ke satu sisi dengan posisi dahi dan dagu kurang lebih sejajar. Buka mulut dan bernapaslah melalui mulut.
    5. Alirkan larutan secara perlahan. Tempelkan ujung alat pada lubang hidung yang berada di atas. Biarkan larutan mengalir dan keluar melalui lubang hidung di bawah. Jangan menekan botol terlalu kuat.
    6. Ulangi pada sisi lainnya. Setelah selesai, keluarkan sisa cairan dan lendir dengan mengembuskan hidung secara perlahan.
    7. Bersihkan alat setelah dipakai. Ikuti petunjuk pembersihan dari produsen, kemudian keringkan bagian dalam alat dengan tisu bersih atau biarkan mengering sempurna. Jangan berbagi alat dengan orang lain.

    Tidak ada frekuensi yang sama untuk setiap orang. Penggunaan pada rinosinusitis kronis, anak-anak, atau setelah operasi sinus perlu mengikuti arahan dokter.

  3. Mengapa air keran tidak boleh langsung digunakan?

    Air keran yang aman diminum belum tentu aman dimasukkan ke hidung. Mikroorganisme dalam jumlah kecil biasanya akan mati ketika tertelan karena berhadapan dengan asam lambung. Jika masuk melalui hidung, organisme tersebut dapat bertahan dan, dalam kasus yang sangat jarang, mencapai otak.

    Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) mencatat adanya kematian akibat infeksi Naegleria fowleri dan Acanthamoeba setelah penggunaan air keran untuk membilas hidung.

    CDC menyarankan penggunaan air steril, air distilasi, atau air yang telah direbus hingga bergolak setidaknya satu menit dan kemudian didinginkan.

    Sebuah laporan dalam jurnal Emerging Infectious Diseases mengidentifikasi 10 pasien dengan infeksi Acanthamoeba yang memiliki riwayat mencuci hidung. Seluruh pasien mempunyai kondisi yang melemahkan sistem imun dan setidaknya empat diketahui menggunakan air keran. Penelitian tersebut tidak membuktikan bahwa irigasi hidung menjadi penyebab infeksi, tetapi memperkuat pentingnya penggunaan air yang aman.

    Orang dengan sistem imun yang lemah sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Hentikan penggunaan jika cuci hidung menimbulkan nyeri, mimisan berulang, tekanan pada telinga, atau gejala memburuk. Segera cari pertolongan medis apabila muncul sakit kepala berat, demam, muntah, atau kebingungan setelah mencuci hidung.

    Cuci hidung dapat membantu membuat napas lebih lega, tetapi manfaatnya bergantung pada prosedur yang aman. Larutan saline yang tepat, air steril, aliran lembut, dan alat yang bersih merupakan bagian terpentingnya.

    Referensi

    Do-Yang Park et al., “Clinical Practice Guideline: Nasal Irrigation for Chronic Rhinosinusitis in Adults,” Clinical and Experimental Otorhinolaryngology 15, no. 1 (2022): 5–23, https://doi.org/10.21053/ceo.2021.00654.

    Karen Head et al., “Saline Irrigation for Allergic Rhinitis,” Cochrane Database of Systematic Reviews, no. 6 (2018): CD012597, https://doi.org/10.1002/14651858.CD012597.pub2.

    U.S. Food and Drug Administration, “Is Rinsing Your Sinuses with Neti Pots Safe?,” diakses September 2026.

    Centers for Disease Control and Prevention, “How to Safely Rinse Sinuses,” diakses September 2026.

    Julia C. Haston et al., “Acanthamoeba Infection and Nasal Rinsing, United States, 1994–2022,” Emerging Infectious Diseases 30, no. 4 (2024): 783–85, https://doi.org/10.3201/eid3004.231076.

Share Article

Related Articles

See More