Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Indonesia Kasus Nomor 3 Kusta di Dunia, Target Eliminasi 2030
ilustrasi lepra atau kusta (CDC/Dr. D.S. Martin)
  • Indonesia menempati peringkat ketiga dunia dalam temuan kasus baru kusta, dengan lebih dari 16.292 kasus pada tahun 2025, tertinggi dalam empat tahun terakhir.

  • Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan kusta disebabkan bakteri Mycobacterium leprae, bukan kutukan atau keturunan, serta dapat disembuhkan dengan pengobatan rutin.

  • Stigma dan kurangnya edukasi masyarakat menjadi hambatan utama eliminasi kusta. Pemerintah mendorong pencegahan lewat imunisasi BCG, kebersihan diri, dan peningkatan daya tahan tubuh.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kusta atau lepra adalah penyakit infeksi kronis (menahun) yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Penyakit ini menyerang kulit dan saraf tepi, bukan disebabkan oleh kutukan atau keturunan.

"Penyakit ini sering disebut sebagai 'kutukan Tuhan'. Itu sebabnya kenapa stigma negatifnya kental sekali. Legenda-legenda ini terbawa sampai sekarang bahwa ini penyakit distigmakan sebagai kutukan. Padahal penyebabnya bakteri," ujar Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, yang dikutip dalam saluran YouTube Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) dalam acara 'Konferensi Nasional Kusta 2026'.

Peta sebaran kusta

Indonesia menduduki peringkat ke-3 dunia untuk temuan kasus baru kusta, dengan sebaran hampir di seluruh wilayah Indonesia.

Sepanjang tahun 2025, lebih dari 16.292 kasus baru yang ditemukan. Capaian kasus ini menjadi yang tertinggi dalam 4 tahun terakhir.

"Sasar kawasan akan membantu Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk mengeliminasi kusta di tahun 2030. Kita sekitar 14.000-15.000 stiap tahun. Kusta obatnya sudah ada, kalau diminum pasti sembuh," kata Menkes Budi.

Obat akan cegah penularan

ilustrasi beragam obat (pexels.com/www.kaboompics.com)

Stigma kusta muncul karena masyarakat minim edukasi. Karena tidak mengerti cara penularannya, masyarakat berasumsi negatif dan bertingkah aneh terhadap pasien kusta.

Ada ketakutan berlebih karena melihat perubahan fisik pasien, yang bikin masyarakat tega mengucilkan mereka. Penderita jadi merasa bersalah, minder, dan menarik diri dari lingkungan.

"Kalau minum (obat) pasti sembuh, menularnya juga lebih susah—sekali minum obat, dia sudah tidak menular lagi. Jadi sebenarnya nggak usah terlalu khawatir kalau dia menularkan. Kalau dia kena kusta, suruh minum obat," tambah Menkes Budi.

Cara mencegah kusta

Belum ada vaksin kusta, tetapi penyakit ini bisa dicegah dengan cara-cara berikut ini:

  • Imunisasi BCG: Bacillus Calmette-Guerin (BCG) dapat menurunkan risiko infeksi bakteri Mycobacterium (tuberkulosis dan kusta).

  • Jaga kebersihan: Rajin menjaga kebersihan diri untuk kesehatan tubuh seutuhnya.

  • Perkuat daya tahan tubuh: Imbangi dengan makan makanan bergizi, istirahat yang cukup, dan rutin berolahraga.

  • Batasi kontak erat: Jika menemukan seseorang dengan kusta, segera ke puskesmas untuk mendapatkan pengobatan.

Stigma dan diskriminasi di masyarakat, selain menambah beban penyandang kusta, juga menjadi hambatan keberhasilan upaya pengendalian penyakit kusta di Indonesia.

Selama stigma masih tinggi akan sulit untuk mengeliminasi penyakit kusta. Stigma itu sangat erat kaitannya dengan ketidaktahuan. Kusta bukan turunan, bukan pula kutukan karena penyakit ini dapat disembuhkan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article