Augustsson, Sofia Ryman, Malin Bergh, and Kornelia Petersson. “Post-Race Reactions: The Emotional Paradox of High Performance and Anxiety – A Conventional Content Analysis.” BMC Sports Science, Medicine and Rehabilitation 16, no. 183 (2024).
Nicolas, M., M. Banizette, and G. Y. Millet. “Stress and Recovery States after a 24 h Ultra-Marathon Race: A One-Month Follow-Up Study.” Psychology of Sport and Exercise 12, no. 4 (2011): 368–374.
National Institute of Mental Health. “Depression.” Diakses Juli 2026.
Post-Race Blues: Kenapa Setelah Race Merasa Hampa?

Post-race blues bukan diagnosis resmi, tetapi istilah untuk rasa hampa, sedih, kehilangan arah, atau motivasi turun setelah menyelesaikan race.
Rasa ini bisa muncul karena kombinasi kelelahan fisik, hilangnya struktur latihan, ekspektasi performa, dan identitas yang terlalu terikat pada race.
Biasanya ini membaik dengan pemulihan, rutinitas baru, dan tujuan yang lebih sehat; tetapi jika gejala menetap lebih dari dua minggu atau mengganggu fungsi harian, sebaiknya cari bantuan profesional.
Setelah persiapan berbulan-bulan, garis finis race sering dibayangkan sebagai akhir yang bahagia dengan medali di tangan, foto dan video race, serta ucapan selamat dari banyak orang.
Setelah itu semua usai, kemudian rasa muncullah semacam rasa hampa, seakan kehilangan arah. Bangun pagi rasanya tak ada tujuan. Tubuh lelah, tetapi pikiran gelisah. Ada yang merasa sedih tanpa alasan yang jelas, ada yang merasa kehilangan rutinitas, ada pula yang langsung ingin mendaftar race baru hanya supaya punya sesuatu untuk dikejar lagi. Kondisi ini sering disebut post-race blues.
Post-race blues bukan diagnosis klinis resmi, tetapi menggambarkan rasa hampa, murung, kehilangan arah, atau turunnya motivasi setelah menyelesaikan lomba endurance seperti lari jarak jauh, triatlon, HYROX, atau event fisik berat lainnya.
Studi kualitatif tahun 2024 pada 16 atlet rekreasional yang menyelesaikan endurance race lebih dari 180 menit menemukan empat tema besar setelah race, yakni high on life, kehilangan energi/ambivalensi/melankoli, emosi yang dipengaruhi aktivitas, serta perubahan emosi seiring waktu dan kebutuhan tujuan baru.
Table of Content
1. Penyesuaian diri setelah race
Selama persiapan race, setiap minggunya kamu punya pola rutinitas. Ada jadwal latihan, long run, strength training, tapering, target pace, simulasi nutrisi, dan countdown menuju hari H.
Banyak keputusan harian rasanya punya tujuan, seperti tidur lebih cepat, makan lebih teratur, menolak begadang, dan tetap latihan meskipun sedang malas.
Begitu race selesai, struktur itu tiba-tiba hilang. Dalam studi 2024, beberapa peserta menggambarkan rasa kosong, seperti ada ruang besar yang sebelumnya diisi latihan dan target, lalu mendadak tidak ada lagi.
Para peneliti juga menyimpulkan bahwa perasaan yang dirasakan setelah race dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk lamanya waktu yang dihabiskan untuk latihan dan kesulitan menetapkan tujuan baru setelah race selesai.
2. Tubuh masih lelah, jadi emosi ikut turun
Selain menguras otot, endurance race juga menguras sistem saraf, tidur, energi mental, dan cadangan fisik. Setelah euforia finish memudar, tubuh bisa baru terasa benar-benar lelah.
Studi pada pelari 24 jam menunjukkan bahwa ultra-endurance race dapat meningkatkan stres yang dirasakan dan mengubah pemulihan psikologis, fisik, emosional, maupun sosial. Dalam studi itu, stres dan pemulihan membutuhkan sekitar dua minggu untuk kembali ke baseline, dan para peneliti menekankan pentingnya memantau kondisi psikologis pada fase awal setelah race.
Jadi, kalau beberapa hari setelah race kamu merasa kosong, malas, sensitif, atau hilang semangat, mungkin tubuh memang belum pulih. Kurang tidur, nyeri otot, inflamasi, dehidrasi ringan, pola makan kacau setelah race, dan turunnya intensitas aktivitas bisa ikut memengaruhi mood.
3. Ekspektasi performa bisa memperbesar rasa kecewa

Orang yang berhasil mencapai garis finis, bahkan yang mendapat personal best, tetap bisa merasa hampa. Namun, risiko rasa kecewa bisa lebih besar jika hasil race tidak sesuai ekspektasi.
Studi mencatat, gangguan mood setelah race pada ultramaraton lebih kuat berkaitan dengan selisih antara prediksi performa dan hasil aktual dibanding tingkat kelelahan yang dirasakan. Gangguan mood itu dapat berupa energi menurun, kebingungan meningkat, dan kelelahan yang lebih tinggi.
Bagi pelari yang sudah menginvestasikan banyak waktu, uang, dan emosi, race berisi harapan, identitas, pembuktian diri, dan cerita personal.
4. Jangan buru-buru mendaftar race baru
Mendaftar race baru bisa menjadi cara sehat untuk menjaga motivasi, tetapi bisa juga menjadi cara menghindari rasa hampa. Bedanya ada pada niat dan kondisi tubuh.
Jika tubuh masih lelah, tidur belum beres, nyeri belum hilang, atau mood masih turun, menambah target baru terlalu cepat bisa membuat pemulihan terabaikan.
Studi memang menyebut bahwa menetapkan tujuan masa depan sebelum event dapat menjadi alat untuk mengurangi emosi negatif pasca race. Namun, para peneliti juga menekankan pentingnya bisa berlatih untuk kesenangan sementara waktu setelah race, bukan langsung kembali ke tekanan performa.
Coba beri jeda beberapa hari sampai dua minggu untuk recovery aktif. Jalan santai, latihan mobilitas, berenang ringan, bersepeda, atau slow jogging bisa membantu jika tubuh siap.
Setelah itu, buat tujuan kecil yang tidak fokus pada performa, misalnya tidur lebih teratur, memperbaiki strength, kembali menikmati easy run, atau latihan tanpa membandingkan pace.
5. Kapan perlu mencari batuan profesional?
Post-race blues biasanya sementara. Namun, tetap ada batas yang perlu diperhatikan. Depresi mayor mencakup mood rendah atau hilangnya minat hampir sepanjang waktu selama setidaknya dua minggu dan mengganggu aktivitas harian.
Cari bantuan profesional jika rasa sedih, kosong, atau kehilangan minat berlangsung lebih dari dua minggu; makin berat; mengganggu kerja, sekolah, hubungan, tidur, atau makan; disertai rasa tidak berharga; atau muncul pikiran menyakiti diri.
Jika ada pikiran untuk bunuh diri atau merasa tidak aman dengan diri sendiri, segera hubungi layanan darurat atau orang tepercaya.
Untuk fase ringan, langkah yang bisa dilakukan adalah membuat post-race plan sebelum hari lomba. Caranya bisa dengan menjadwalkan tidur cukup, makan teratur, recovery aktif, quality time dengan orang terdekat, dan satu atau dua aktivitas yang tidak berhubungan dengan performa.
Bisa juda dengan menulis refleksi race tanpa menghakimi diri, dari apa yang berjalan baik, apa yang bisa dipelajari, dan apa yang ingin dirawat dari proses ini.
Referensi
![[QUIZ] Jam Lari Kamu Bisa Menunjukkan Karakter Kamu lho!](https://image.idntimes.com/post/20211018/healthy-young-asian-runner-woman-warm-up-body-stretching-before-exercise-f86cce9f67ab87e1f2714ff01fb5315e-ac9dc8ae0dc9088384b5ca1785f74038.jpg)






![[QUIZ] Dari Pace Larimu, Kami Tebak Kepribadianmu Alpha, Beta, atau Omega](https://image.idntimes.com/post/20260203/pexels-runffwpu-5961767_cccb4dcd-2034-4996-8d35-1d0f57a8c13e.jpg)
![[QUIZ] Dari Masalah Kesehatanmu saat Ini, Ini Jus yang Bisa Kamu Minum](https://image.idntimes.com/post/20251216/1000070337_346a25bd-0de3-43bc-a1db-37734a1ba48d.jpg)

![[QUIZ] Pilih Waktu Larimu, Kami Tebak Kebiasaan Sehat yang Perlu Kamu Pertahankan](https://image.idntimes.com/post/20260709/upload_8acff9f1de8b26c968870d3b35b3e89b_70dfa521-21d0-4420-a20f-ca9b889bb18c.jpg)






![[QUIZ] Berapa Usia Otak Kamu, Berani Tes?](https://image.idntimes.com/post/20251001/milad-fakurian-58z17lnvs4u-unsplash_371012b9-b4c4-4084-93f2-e0f7a69a46ee.jpg)



