Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kenapa Lari Terasa Lebih Berat Padahal Pace Sama?

Kenapa Lari Terasa Lebih Berat Padahal Pace Sama?
ilustrasi jogging (pexels.com/Ketut Subiyanto)
Intinya Sih
  • Lari dengan pace sama bisa terasa lebih berat karena tubuh mengalami cardiovascular drift, di mana detak jantung meningkat akibat upaya menjaga suhu tubuh dan kehilangan cairan.

  • Efisiensi energi menurun saat berlari lama karena perubahan metabolisme, penumpukan laktat, serta berkurangnya glikogen otot yang membuat tubuh bekerja lebih keras mempertahankan kecepatan.

  • Faktor seperti dehidrasi, kurang tidur, dan stres turut memengaruhi persepsi lelah pelari, sehingga penting memantau detak jantung dan kondisi tubuh selain hanya melihat angka pace.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Banyak pelari pernah mengalaminya. Minggu lalu berlari dengan pace 6:00 menit/km terasa santai, tetapi hari ini dengan kecepatan yang sama justru membuat napas tesengal lebih cepat dan kaki rasanya sangat berat. Padahal data di jam olahraga menunjukkan pace yang serupa.

Tidak selalu berarti kebugaran tiba-tiba menurun, tetapi tubuh manusia tidak selalu merespons latihan dengan cara yang sama. Beberapa faktor berperan, seperti fisiologis, lingkungan, hingga kondisi mental yang membuat effort mempertahankan pace tertentu menjadi lebih besar.

Table of Content

Tubuh mengalami cardiovascular drift

Tubuh mengalami cardiovascular drift

Banyak pelari menganggap bahwa jika pace tetap sama, maka begitu juga dengan beban tubuh. Itu tidak selalu benar. Saat berlari dalam durasi yang cukup lama, tubuh dapat mengalami fenomena yang disebut cardiovascular drift.

Kondisi ini ditandai dengan meningkatnya detak jantung secara bertahap meski kecepatan lari dan intensitas latihan sebenarnya tidak berubah. Fenomena ini terjadi karena tubuh terus berusaha menjaga suhu tetap stabil.

Ketika suhu tubuh meningkat selama berlari, lebih banyak darah dialirkan ke kulit untuk membantu melepaskan panas melalui keringat. Pada saat yang sama, tubuh juga kehilangan cairan akibat berkeringat sehingga volume plasma darah sedikit berkurang. Akibatnya, jumlah darah yang dipompa jantung dalam setiap denyut menurun.

Untuk mengimbanginya, jantung harus berdetak lebih cepat agar pasokan oksigen ke otot tetap terjaga. Inilah sebabnya mengapa detak jantung bisa terus naik walaupun pace tetap konstan. Pelari pun mulai merasa napas lebih berat dan usaha yang dikeluarkan makin besar.

Energi yang dihasilkan tidak selalu efisien

Seorang perempuan dan laki-laki berolahraga jogging bersama di jalur taman dengan latar gedung dan pepohonan hijau.
ilustrasi perempuan dan laki-laki sedang jogging (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Selain dipengaruhi kerja jantung, rasa berat saat berlari juga berkaitan dengan cara otot menghasilkan energi. Meskipun pace tetap sama, proses metabolisme di dalam tubuh terus berubah sepanjang sesi lari.

Pada menit-menit awal, tubuh masih menyesuaikan kebutuhan oksigen dengan aktivitas yang dilakukan. Selama masa transisi tersebut, tubuh masih mengandalkan sebagian energi dari sistem anaerob sebelum sistem aerob mengambil alih secara optimal.

Makin lama berlari, otot juga menghasilkan berbagai produk sampingan metabolisme, seperti laktat dan ion hidrogen. Di sisi lain, cadangan glikogen dalam otot juga perlahan berkurang selama aktivitas berlangsung, terutama jika durasi lari cukup panjang atau asupan karbohidrat sebelumnya kurang memadai.

Ketika bahan bakar mulai menipis, tubuh harus bekerja lebih keras untuk menghasilkan energi dalam jumlah yang sama. Akibatnya, pace yang biasanya terasa nyaman bisa berubah menjadi terasa jauh lebih berat.

Inilah alasan mengapa pelari disarankan tidak hanya memantau pace, tetapi juga memperhatikan detak jantung dan rate of perceived exertion (RPE) untuk mendapatkan gambaran yang lebih utuh mengenai kondisi tubuh saat berlari.

Faktor lainnya yang turut berpengaruh

Tidak hanya kondisi fisik saat berlari, faktor sehari-hari juga dapat memengaruhi bagaimana tubuh merasakan suatu latihan. Dehidrasi ringan akibat kurang minum sebelum atau selama berlari dapat meningkatkan detak jantung dan suhu tubuh, sehingga pace yang biasanya terasa nyaman menjadi lebih melelahkan.

Di sisi lain, kurang tidur dan stres juga berperan. Kurang istirahat menghambat proses pemulihan tubuh, sementara stres dapat meningkatkan persepsi terhadap rasa lelah. Akibatnya, meski lari dengan pace yang sama, tetapi lari bisa terasa lebih berat karena tubuh dan otak sedang tidak berada dalam kondisi optimal.

Tidak semua hari adalah hari terbaik untuk berlari. Pace yang sama bisa terasa lebih berat karena pengaruh banyak faktor, mulai dari cardiovascular drift, perubahan metabolisme, cuaca, hidrasi, hingga kualitas tidur dan tingkat stres. Karena itu, mengevaluasi latihan sebaiknya tidak cuma mengandalkan pace, tetapi juga memahami mekanisme ini.

Referensi

Dawson, E. A., R. Shave, K George, G. Whyte, D. Ball, D. Gaze, and P. Collinson. “Cardiac Drift during Prolonged Exercise with Echocardiographic Evidence of Reduced Diastolic Function of the Heart.” European Journal of Applied Physiology 94, no. 3 (March 11, 2005): 305–9.

Faulkner, James, Gaynor Parfitt, and Roger Eston. “The Rating of Perceived Exertion during Competitive Running Scales with Time.” Psychophysiology 45, no. 6 (September 18, 2008): 977–85.

Papini, Gabriele B., Alberto G. Bonomi, and Francesco Sartor. “Proof-of-Concept Model for Instantaneous Heart Rate-Drift Correction during Low and High Exercise Exertion.” Frontiers in Physiology 15 (April 22, 2024): 1358785.

Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
savira Ivanka
Nuruliar F
savira Ivanka
Editorsavira Ivanka

Related Articles

See More