Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Fakta Cyclospora, Parasit Pemicu Diare Berkepanjangan

Fakta Cyclospora, Parasit Pemicu Diare Berkepanjangan
ilustrasi makan salad (pexels.com/www.kaboompics.com)
Intinya Sih
  • Cyclospora cayetanensis adalah parasit mikroskopis yang menyebabkan infeksi usus bernama cyclosporiasis.

  • Penularan biasanya terjadi lewat makanan atau air yang terkontaminasi tinja, terutama produk segar yang dimakan mentah.

  • Gejala utamanya adalah diare cair yang bisa berlangsung lama, hilang-timbul, dan membaik dengan antibiotik tertentu bila didiagnosis tepat.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Diare biasanya dianggap karena salah makan, tidak cocok dengan makanan atau minuman tertentu, yang kemudian membaik dalam satu atau dua hari. Namun, pada cyclosporiasis, diare bisa berlangsung lebih lama, datang dan pergi, serta membuat tubuh sangat lelah. Penyebabnya adalah parasit Cyclospora cayetanensis yang juga dikenal sebagai Cyclospora.

Orang dapat terinfeksi dengan mengonsumsi makanan atau air yang mengandung parasit tersebut. Walaupun biasanya cyclosporiasis biasanya tidak mengancam jiwa, tetapi kamu tetap perlu mewaspadainya.

Berikut ini fakta seputar infeksi Cyclospora, parasit yang bisa menyebabkan diare berkepanjangan.

Table of Content

1. Apa itu Cyclospora?

1. Apa itu Cyclospora?

Cyclospora adalah parasit penyebab penyakit usus yang disebut cyclosporiasis. Infeksi biasanya menyerang usus kecil dan paling sering menyebabkan diare cair dengan frekuensi sering, kadang terasa mendadak dan sulit ditahan.

Cyclospora cayetanensis adalah parasit koksidia yang menginfeksi manusia. Parasit ini memiliki siklus penularan fekal-oral dan menjadi penyebab penting wabah penyakit saluran cerna di negara maju, terutama yang berkaitan dengan konsumsi produk segar yang terkontaminasi.

Cyclosporiasis biasanya tidak menular langsung dari orang ke orang. Ini karena parasit yang keluar lewat tinja belum langsung infektif. Cyclospora butuh waktu setidaknya 1–2 minggu di lingkungan luar tubuh untuk menjadi infektif.

2. Bagaimana penularannya?

Penularan terjadi saat seseorang menelan makanan atau air yang terkontaminasi tinja yang mengandung Cyclospora. Wabah cyclosporiasis sering dikaitkan dengan produk segar, terutama yang dimakan mentah.

Produk segar yang paling sering terlibat dalam wabah Cyclospora terutama salad siap saji, seperti herba (cilantro, basil), dan buah beri seperti raspberi, serta sayuran yang dipotong/diolah pabrik.

3. Gejala apa yang perlu dicurigai?

Seorang anak memegang tisu toilet sambil memegang perutnya di kamar mandi, menggambarkan kondisi sakit perut atau diare.
ilustrasi diare (magnific.com/jcomp)

Gejala biasanya muncul sekitar satu minggu setelah terpapar, tetapi bisa berkisar dari 2 hari sampai 2 minggu atau lebih.

Gejala yang paling umum adalah diare cair. Keluhan lain yang bisa muncul meliputi:

  • Penurunan nafsu makan.
  • Berat badan turun.
  • Kram perut.
  • Perut kembung.
  • Banyak gas.
  • Mual.
  • Kelelahan.

Gejala yang lebih jarang termasuk muntah, nyeri badan, sakit kepala, demam ringan, dan gejala mirip flu.

Ciri yang membuat Cyclospora perlu diwaspadai adalah durasinya. Tanpa pengobatan, gejala dapat berlangsung dari beberapa hari sampai sebulan atau lebih. Diare juga bisa tampak membaik, lalu kambuh lagi. Kelelahan bahkan bisa bertahan setelah gejala pencernaan membaik.

Segera temui dokter jika diare cair berlangsung beberapa hari, terjadi setelah makan produk mentah yang dicurigai, disertai tanda dehidrasi, demam, darah pada tinja, penurunan berat badan, atau jika kamu punya daya tahan tubuh lemah.

4. Diagnosis dan pengobatan

Cyclosporiasis didiagnosis lewat pemeriksaan sampel tinja. Namun, pemeriksaan laboratorium bisa sulit mendeteksi Cyclospora, bahkan pada pasien bergejala.

Pasien mungkin perlu mengirim beberapa sampel tinja pada hari berbeda, dan dokter perlu secara khusus meminta pemeriksaan Cyclospora karena tidak selalu termasuk dalam tes tinja rutin.

Obat pilihan untuk cyclosporiasis adalah trimethoprim-sulfamethoxazole (TMP-SMX). Sebagian besar orang sehat dapat pulih tanpa terapi, tetapi penyakitnya bisa berkepanjangan.

Pada orang dengan HIV atau kondisi imunokompromi, terapi bisa membutuhkan durasi lebih panjang.

Selama diare, penting untuk minum cukup cairan, istirahat, dan cegah dehidrasi. Jangan minum antibiotik sembarangan tanpa diagnosis karena tidak semua obat diare atau antibiotik efektif untuk Cyclospora.

Azithromycin, metronidazole, doxycycline, dan ciprofloxacin tidak terbukti sebagai alternatif yang efektif untuk Cyclospora.

5. Pencegahan

Pencegahan dimulai dari keamanan makanan.

  • Cuci tangan dengan sabun dan air sebelum serta setelah menangani buah dan sayur mentah.
  • Cuci semua buah dan sayur di bawah air mengalir sebelum dimakan, dipotong, atau dimasak.
  • Menyikat produk yang keras seperti melon dan mentimun.
  • Membuang bagian buah atau sayur yang rusak atau memar.
  • Segera dinginkan buah dan sayur yang sudah dipotong, dikupas, atau dimasak.

Namun, pencegahan tidak selalu sempurna. Belum sepenuhnya diketahui bagaimana Cyclospora masuk ke makanan dan air, dan desinfeksi kimia rutin pada makanan atau air kemungkinan tidak membunuh Cyclospora, terutama di wilayah endemik.

Kesimpulannya, Cyclospora layak diwaspadai ketika mengalami diare cair yang menetap atau hilang timbul, terutama setelah makan produk segar mentah. Kuncinya adalah mengenali gejala, mencari pemeriksaan yang tepat, menjaga hidrasi, dan memastikan keamanan pangan.

Referensi

Centers for Disease Control and Prevention (CDC). “Surveillance of Cyclosporiasis.” Diakses Juli 2026.

Michigan Department of Health and Human Services. “Infectious Disease Outbreaks: Cyclosporiasis Outbreak.” Diakses Juli 2026.

CDC. “About Cyclosporiasis.” Diakses Juli 2026.

CDC. “Symptoms of Cyclosporiasis.” Diakses Juli 2026.

CDC. “Preventing Cyclosporiasis.” Diakses Juli 2026.

CDC. “Clinical Care of Cyclosporiasis.” Diakses Juli 2026.

U.S. Food and Drug Administration. “Investigations of Foodborne Illness Outbreaks.” Diakses Juli 2026.

Almeria, Sonia, Hediye Nese Cinar, and J. P. Dubey. “Cyclospora cayetanensis and Cyclosporiasis: An Update.” Microorganisms 7, no. 9 (2019): 317.

Goetzman, Justine, Adyneshia Carter, Ana Oliveira, and L. Amanda Ingram. “Outbreak of Cyclosporiasis Among Patrons of a Mexican-Style Restaurant — Limestone County, Alabama, May–June 2023.” Morbidity and Mortality Weekly Report 74, no. 13 (2025): 217–221.

Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F

Related Articles

See More