ilustrasi obat antibiotik (pexels.com/Karolina Grabowska)
Bila dokter mencurigai infeksi C. difficile, ada beberapa cara untuk menegakkan diagnosis, yaitu:
- Sigmoidoskopi: dokter akan memasukkan tabung fleksibel dengan kamera kecil di ujungnya ke usus besar bagian bawah untuk mencari tanda-tanda infeksi
- Tes tinja: untuk mengetahui apakah C. difficile telah menghasilkan racun
- Pemindaian: bila dokter mencurigai adanya komplikasi, mungkin CT scan bisa dilakukan
Bila memang terbukti adanya infeksi C. difficile, dokter akan segera memberi pengobatan. Standar pengobatannya adalah dengan pemberian antibiotik. Dokter mungkin akan meresepkan vancomycin atau fidaxomicin. Metronidazole juga bisa diberikan bila vancomycin atau fidaxomicin tidak tersedia.
Bila saat terapi antibiotik muncul gejala, dokter mungkin mempertimbangkan penghentian antibiotik tersebut dan meresepkan antibiotik baru.
Meski demikian, terapi antibiotik mungkin bisa membuat infeksi C. difficile memburuk dengan cara menyerang bakteri baik di tubuh. Maka dari itu, dokter juga akan merekomendasikan hal-hal ini sebagai bagian dari terapi:
- Konsumsi probiotik: untuk membantu mengembalikan keseimbangan bakteri di usus, misalnya Saccharomyces boulardii
- Operasi: bila gejala parah atau terjadi gagal organ atau perforasi pada lapisan dinding perut, mungkin perlu dilakukan pembedahan untuk mengangkat bagian usus besar yang terkena
- Transplantasi mikrobiota feses (FMT): ini mungkin diperlukan untuk kasus infeksi C. difficile yang berulang. Dokter akan memindahkan bakteri dari usus besar orang yang sehat ke usus besar pasien dengan C. difficile
Akan tetapi, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengeluarkan peringatan efek buruk setelah ada laporan kematian akibat infeksi serius yang resistan terhadap antibiotik yang berkembang setelah transplantasi dilakukan. Semua uji klinis FMT ditangguhkan.