- Mengandalkan lengan, bukannya punggung
Gagal Pull-Up Terus? Mungkin Kamu Masih Melakukan 12 Kesalahan Ini

- Pull-up membutuhkan koordinasi punggung, lengan, grip, dan core—bukan tenaga lengan semata.
- Kesalahan umum seperti grip lemah, core tidak aktif, atau ROM pendek dapat memperlambat progres.
- Latihan pendukung dan teknik yang benar terbukti membantu mempercepat kemampuan melakukan pull-up penuh.
Ada momen ketika kamu menggenggam palang pull-up dengan niat penuh, tetapi tubuh tak kunjung terangkat seperti yang diharapkan. Rasa frustrasi itu wajar, apalagi ketika kamu merasa sudah rutin latihan namun progres mandek. Pull-up memang latihan yang menuntut kekuatan, teknik, dan kesabaran, kombinasi yang tak selalu mudah ditemukan pada awal perjalanan, apalagi kalau kamu tidak sabar.
Dalam proses belajar, tubuh memberikan sinyal, dan kadang sinyal itu berupa kegagalan yang berulang. Namun justru dari situlah muncul petunjuk. Mungkin masalahnya bukan kamu yang kurang kuat, tetapi ada yang perlu diperbaiki. Memahami kesalahan umum dalam pull-up bisa menjadi titik balik, membantu tubuh akhirnya terangkat hingga atas palang.
Manfaat pull-up
Pull-up masuk dalam kelompok gerakan compound, yang berarti melibatkan banyak otot sekaligus dalam satu gerakan. Otot punggung atas, latissimus dorsi, biseps, bahu, core, hingga lengan bawah bekerja bersamaan untuk membantu mengangkat tubuh.
Studi menunjukkan bahwa gerakan tarik vertikal seperti pull-up memberi aktivasi tinggi pada otot punggung dan lengan, membuatnya efektif untuk meningkatkan kekuatan tubuh bagian atas.
Selain kekuatan, pull-up juga melatih koordinasi dan kontrol tubuh. Ketika dilakukan dengan konsisten, gerakan ini membantu memperbaiki postur, meningkatkan daya cengkeram (grip strength), dan mendukung performa latihan lain seperti deadlift, rowing, hingga olahraga yang membutuhkan stabilitas bahu. Bagi banyak orang, pull-up juga menjadi simbol progres, yaitu sebuah kemampuan yang dulunya terasa mustahil, kini bisa dicapai dengan teknik yang tepat.
Kesalahan pull-up yang sering menghambat progres

Coba cek apakah kamu melakukan kesalahan umum pull-up di bawah ini:
Banyak orang memulai pull-up seperti sedang menarik sesuatu cuma dengan kekuatan tangan. Padahal, mesin penggerak utama pull-up adalah punggung, khususnya otot latissimus dorsi. Ketika seluruh beban dialihkan ke bisep, gerakan menjadi lebih berat, cepat melelahkan, dan sulit naik meski kekuatan sudah dilatih.
Cara yang lebih efektif adalah mengaktifkan punggung terlebih dahulu. Gerakkan tulang belikat ke bawah dan ke belakang (scapular depression and retraction) sebelum memulai tarikan. Aktivasi otot punggung yang tepat meningkatkan efisiensi tarikan serta mengurangi risiko cedera bahu.
- Mengabaikan kekuatan genggaman tangan (grip)
Cengkeraman yang lemah membuat tubuh terasa seperti “terpeleset” dari palang, sehingga otot tidak bisa bekerja optimal. Grip yang tidak stabil membuat gerakan terputus, tenaga boros, dan momentum jadi tidak terkendali. Akhirnya, tubuh sulit naik meskipun otot punggung dan lengan sebenarnya cukup kuat.
Melatih grip dengan dead hang atau farmer’s carry bisa mengubah performa pull-up secara signifikan. Peningkatan grip strength berkaitan erat dengan performa upper body, termasuk pull-up dan aktivitas tarik lainnya.
- Tidak mengaktifkan core
Saat core (otot inti) tidak aktif, tubuh cenderung melengkung atau mengayun seperti bandul. Ayunan berlebih membuat pull-up menjadi tidak efisien, membuat tubuh mengandalkan momentum alih-alih kekuatan otot sebenarnya. Ini juga menambah tekanan pada punggung bawah dan bahu.
Kalau core kamu kuat, tubuh mampu mempertahankan garis stabil dari kepala hingga kaki. Gerakan menjadi lebih terkontrol dan tenaga tersalurkan ke otot yang tepat. Stabilitas core akan meningkatkan performa latihan tarik dan mencegah kompensasi gerak yang memicu cedera.
- Range of motion (ROM) tidak penuh
Sebagian orang hanya menarik tubuh setengah, atau berhenti sebelum dagu melewati palang. Gerakan parsial memang terasa lebih mudah, tetapi sering menghambat perkembangan kekuatan jangka panjang. ROM yang tidak penuh membuat otot tidak bekerja optimal dan progres jadi lambat.
Melatih kontrol sepanjang gerakan, dari dead hang hingga posisi paling atas, akan membantu membangun kekuatan menyeluruh. Latihan dengan ROM penuh lebih efektif meningkatkan kekuatan dan hipertrofi dibanding ROM pendek.
- Tidak melakukan latihan pendukung
Beberapa orang langsung memaksakan pull-up tanpa mempersiapkan tubuh dengan latihan pendukung. Contohnya lat-pull down, inverted rows, atau assisted pull-up. Akibatnya, bentuk gerakan mudah rusak dan progres justru terhambat.
Latihan pendukung memberi kesempatan otot belajar pola gerakan yang benar, meningkatkan kekuatan punggung secara bertahap, dan menumbuhkan koneksi neuromuskular yang dibutuhkan untuk tarikan penuh. Pelatih kebugaran kerap merekomendasikan progressive overload dengan bentuk asistensi untuk mempercepat adaptasi tanpa membuat tubuh kewalahan.
- Pegangan terlalu sempit (narrow grip)
Jika posisi kedua tangan terlalu rapat saat mengenggam palang, gerakan pull-up akan lebih banyak menggunakan otot lengan bawah daripada otot punggung besar seperti latissimus dorsi, sehingga tujuan pull-up sebagai latihan punggung dan lengan atas jadi melenceng.
Dengan posisi grip yang terlalu sempit, kamu malah mengubah beban menjadi semacam curl angkat badan yang kurang efisien untuk kekuatan punggung dan stabilitas tubuh.
- Tekanan genggaman (grip pressure) kurang tepat
Banyak orang hanya menarik palang ke bawah secara vertikal saat pull-up. Padahal, dengan sedikit menekan ke dalam (seolah mematahkan palang sambil menariknya), kamu bisa mengaktifkan otot bagian atas, termasuk dada dan punggung, menjadi lebih optimal. Cara ini membantu tubuh “mengencang”, meminimalkan pemborosan energi, sehingga gerakan lebih efisien dan stabil.
- Anggota tubuh bawah tidak aktif
Jika kamu menggantung dari palang dan membiarkan kaki, pinggul, inti tubuh tidak aktif, banyak tenaga terbuang karena tubuh tidak terkunci. Sebaliknya, menjaga ketegangan tubuh (mengencangkan core, glutes atau paha, menarik kaki lurus dengan ujung kaki menunjuk ke bawah dapat membantu “menyambung” tenaga dari seluruh tubuh dan membuat pull-up lebih kuat dan stabil.
- Melepaskan stabilitas bahu saat bagian bawah repetisi
Sering terjadi, setelah naik turun, di bagian bawah pull-up orang membiarkan bahu “lepas” dan relaks. Ini bisa berisiko buat sendi bahu. Idealnya, meskipun lengan lurus di bawah, tetapi bahu tetap harus ditarik ke bawah dan ke belakang untuk menjaga stabilitas bahu, mengurangi risiko cedera, dan menjaga kualitas repetisi.
- Siku terlalu sejajar dengan torso
Jika siku kamu tetap berada dalam satu garis vertikal dengan badan saat menarik, otot punggung tidak mendapat rentang gerak optimal—otot lat kehilangan peregangan dan kontraksi maksimal. Sebaiknya regangkan siku sedikit ke depan relatif terhadap torso saat menarik. Ini memberi peregangan lebih besar pada lat dan memaksimalkan rekrutmen otot punggung.
- Postur tubuh membungkuk saat posisi atas atau selama repetisi
Jika punggung atas dan dada membungkuk di palang atas, gerakan menjadi kurang efisien karena beban tidak didistribusikan secara ideal, dan otot punggung sulit bekerja maksimal. Menjaga thoracic spine ekstensi alami, yaitu dada terbuka, punggung atas tidak membungkuk, akan membantu otot bekerja secara benar, mencegah kompresi tulang belakang, dan menjaga postur baik selama gerakan.
- Pull-up dilakukan saat akhir sesi latihan
Banyak orang menjadikan pull-up sebagai latihan terakhir setelah sudah mengerjakan banyak latihan punggung atau beban lain. Namun, ketika otot sudah lelah, kekuatan dan teknik bisa turun, hasil pull-up tidak optimal dan risiko cedera meningkat. Lebih baik pull-up dilakukan saat tubuh masih fresh. Misalnya sebagai bagian awal dari sesi latihan punggung atau upper body supaya kamu bisa memproduksi tenaga maksimal dan menjaga teknik.
Di balik gerakan pull-up ada koordinasi otot dan teknik yang saling mendukung. Ketika salah satu lemah, seluruh gerakan bisa ikut terpengaruh. Memahami kesalahan umum bisa membantumu memperbaiki pola latihan dan memicu progres.
Setiap repetisi yang gagal adalah informasi. Setiap upaya yang terasa berat adalah proses. Dengan teknik yang tepat, latihan pendukung yang konsisten, dan kesabaran dalam membangun kekuatan, pull-up kamu yang terus gagal perlahan akan menjadi gerakan yang tubuhmu kenali dengan lebih baik.
Referensi
Author Williamson, Phil Price, and Toby Williamson, “A Comparison of Muscle Activity Between Strict, Kipping and Butterfly Pull-ups,” The Journal of Sport and Exercise Science 5, no. 2 (January 1, 2021), https://doi.org/10.36905/jses.2021.02.08.
James A Dickie et al., “Electromyographic Analysis of Muscle Activation During Pull-up Variations,” Journal of Electromyography and Kinesiology 32 (November 28, 2016): 30–36, https://doi.org/10.1016/j.jelekin.2016.11.004.
Piotr Szaflik et al., “Handgrip Strength as an Indicator of Overall Strength and Functional Performance—Systematic Review,” Applied Sciences 15, no. 4 (February 11, 2025): 1847, https://doi.org/10.3390/app15041847.
Maria João Valamatos et al., “Influence of Full Range of Motion Vs. Equalized Partial Range of Motion Training on Muscle Architecture and Mechanical Properties,” European Journal of Applied Physiology 118, no. 9 (July 7, 2018): 1969–83, https://doi.org/10.1007/s00421-018-3932-x.
"Common Pullup Mistakes You Should Be Avoiding." Men's Health. Diakses November 2025.
"The Definitive List Of Pull-Up Mistakes." Caliber. Diakses November 2025.

















