- Lansia.
- Orang dengan kulit lebih gelap.
- Orang yang jarang terkena sinar matahari langsung.
- Orang yang lebih banyak menutup permukaan kulit.
- Orang dengan gangguan penyerapan lemak.
- Orang dengan obesitas atau riwayat operasi bypass lambung.
Studi: Rajin Berjemur Tidak Menjamin Tubuh Cukup Vitamin D

Sebuah studi di Inggris menemukan kadar vitamin D tetap rendah pada banyak lansia dan orang berkulit lebih gelap, termasuk selama musim panas.
Produksi vitamin D dipengaruhi usia, warna kulit, lokasi, waktu paparan, pakaian, polusi, serta kondisi kesehatan—bukan sekadar seberapa sering seseorang keluar rumah.
Berjemur bukan satu-satunya solusi. Kelompok berisiko perlu memperhatikan makanan, kondisi kesehatannya, serta kebutuhan pemeriksaan atau suplementasi bersama tenaga medis.
Beraktivitas di luar ruangan berarti kamu terpapar sinar matahari. Makin lama aktivitasnya, makin banyak paparannya. Situasi tersebut membuat banyak orang menganggap kadar vitamin D dalam tubuh pasti aman.
Faktanya, paparan sinar matahari memang membantu kulit memproduksi vitamin D, tetapi tidak menjamin jumlah yang dihasilkan cukup. Bukti baru datang dari Inggris. Sebuah penelitian menemukan bahwa kadar vitamin D pada sejumlah kelompok berisiko tetap rendah sepanjang tahun, bahkan saat musim panas.
Table of Content
1. Studi menemukan kadar vitamin D tetap rendah saat musim panas
Penelitian yang diterbitkan dalam European Journal of Clinical Nutrition pada Mei 2026 ini menganalisis status vitamin D dari 299 orang yang tinggal di wilayah utara Inggris. Para partisipan mencakup orang berusia 65 tahun ke atas serta orang dewasa dari kelompok etnis minoritas dengan warna kulit lebih gelap.
Kadar vitamin D dinilai dengan mengukur 25-hydroxyvitamin D atau 25(OH)D dalam sampel darah. Bentuk vitamin D ini paling umum digunakan untuk menggambarkan status vitamin D tubuh.
Dengan batas kurang dari 50 nanomol per liter, para peneliti menemukan kadar vitamin D rendah pada 54,8 persen peserta lansia dan 72,1 persen peserta dari kelompok etnis minoritas. Proporsi tersebut tidak menurun selama musim panas, ketika paparan sinar matahari seharusnya lebih besar.
Menurut studi tersebut, musim panas tidak otomatis memperbaiki kadar vitamin D, khususnya pada kelompok yang memang lebih rentan. Namun, studi tersebut mengingatkan temuan ini tidak boleh diartikan bahwa sinar matahari tidak bermanfaat atau bahwa semua orang yang sering beraktivitas di luar pasti kekurangan vitamin D.
Penelitian ini dilakukan di wilayah utara Inggris, yang memiliki kondisi geografis, intensitas ultraviolet, cuaca, serta pola hidup berbeda dari negara tropis. Pesertanya juga berasal dari kelompok berisiko tertentu, bukan populasi umum. Penelitian tersebut merupakan hasil tahap skrining untuk sebuah uji suplementasi, bukan penelitian yang mengukur secara langsung durasi berjemur setiap peserta.
Studi ini didanai oleh BetterYou Ltd., perusahaan yang menjual suplemen nutrisi. Namun, peneliti melaporkan bahwa perusahaan tersebut tidak terlibat dalam desain, pelaksanaan, analisis, maupun interpretasi hasil penelitian.
2. Mengapa terkena sinar matahari belum tentu cukup?

Kulit memproduksi vitamin D ketika terkena radiasi ultraviolet B (UVB). Namun, proses tersebut dipengaruhi oleh banyak hal, seperti lokasi geografis, musim, waktu paparan, tutupan awan, polusi udara, luas kulit yang terbuka, penggunaan pakaian, warna kulit, dan usia.
Melanin, pigmen yang memberi warna pada kulit, mengurangi kemampuan kulit menghasilkan vitamin D dari paparan UVB. Karena itu, orang dengan kulit lebih gelap umumnyan butuh paparan UVB lebih besar untuk menghasilkan jumlah vitamin D yang sama dibanding orang dengan kulit lebih terang.
Ada juga faktor usia. Seiring penuaan, kemampuan kulit memproduksi vitamin D menurun. Lansia juga mungkin lebih jarang beraktivitas di luar rumah sehingga jumlah paparan efektifnya makin terbatas.
Selain itu, berada di tempat terang tidak selalu berarti kulit menerima UVB yang dibutuhkan. Sinar UVB tidak dapat menembus kaca. Duduk di dekat jendela atau berada di dalam kendaraan yang terkena sinar matahari, misalnya, tidak memberikan efek yang sama dengan paparan langsung pada kulit.
Status vitamin D juga dipengaruhi oleh asupan makanan, kemampuan usus menyerap lemak, fungsi hati dan ginjal, berat badan, penggunaan obat tertentu, serta kondisi kesehatan yang mendasari.
Orang dengan penyakit yang mengganggu penyerapan lemak, seperti penyakit Crohn, penyakit celiac, dan beberapa gangguan hati lebih berisiko mengalami kadar vitamin D rendah.
3. Jadi, apakah perlu berjemur lebih lama?
Tidak ada durasi paparan matahari yang dapat menjamin kecukupan vitamin D bagi semua orang. Kebutuhan dan respons tubuh berbeda, sedangkan paparan ultraviolet berlebihan meningkatkan risiko kerusakan kulit dan kanker kulit.
Sebaiknya fokus pada sumber vitamin D lainnya, misalnya dari makanan seperti ikan berlemak, kuning telur, jamur yang terpapar UV, serta produk yang difortifikasi. Kandungan dalam makanan alami relatif terbatas sehingga beberapa orang mungkin butuh suplemen. Namun, sebelum mengonsumsi suplemen sebaiknya berkonsultasi dulu dengan dokter atau ahli gizi agar disesuaikan dengan usia, pola makan, kondisi kesehatan, dan faktor risiko.
Orang yang lebih berisiko memiliki vitamin D rendah antara lain:
Tidak semua orang sehat harus tes rutin vitamin D. Pedoman Endocrine Society tahun 2024 tidak merekomendasikan pemeriksaan 25(OH)D rutin pada orang dewasa sehat tanpa indikasi medis tertentu. Pedoman tersebut juga mengingatkan bahwa belum ada satu angka kadar vitamin D yang terbukti memberikan manfaat kesehatan spesifik bagi setiap orang.
Namun, pemeriksaan dapat dipertimbangkan oleh dokter jika ada faktor risiko, gangguan tulang, masalah penyerapan, kadar kalsium abnormal, atau kondisi medis lain yang memengaruhi metabolisme vitamin D. Hasil pemeriksaan pun perlu dinilai bersama keadaan klinis, karena batas asupan yang cukup atau rendah bisa berbeda di antara pedoman.
Suplemen juga tidak sebaiknya diminum dalam dosis tinggi hanya karena seseorang merasa kurang terkena matahari. Vitamin D larut dalam lemak dan dapat menumpuk jika dikonsumsi berlebihan. Jalan keluarnya bukan mengejar matahari sebanyak mungkin, melainkan memastikan kebutuhan vitamin D dipenuhi secara seimbang dan sesuai kondisi tubuh.
Referensi
Alice Goddard, Anthony Watson, Rowena Tilbury, Bernard M. Corfe, dan Andrea Fairley, “Circannual Prevalence of Vitamin D Insufficiency in Older and Minoritized Ethnic Adults in Northern Britain: Screening Outcomes from a Clinical Trial (ISRCTN13778806),” European Journal of Clinical Nutrition, 19 Mei 2026, https://doi.org/10.1038/s41430-026-01760-z.
Newcastle University, “Summer Sun Fails to Fix Vitamin D Gap in At-Risk Groups,” diakses Juli 2026.
National Institutes of Health, Office of Dietary Supplements, “Vitamin D: Fact Sheet for Health Professionals,” diakses Juli 2026.
World Health Organization, “Ultraviolet Radiation,” diakses Juli 2026.
Marie B. Demay et al., “Vitamin D for the Prevention of Disease: An Endocrine Society Clinical Practice Guideline,” Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism 109, no. 8 (2024): 1907–1947, https://doi.org/10.1210/clinem/dgae290.














![[QUIZ] Kami Tahu Jenis Plank yang Paling Cocok Buat Kamu](https://image.idntimes.com/post/20260514/1000000974_527de4ae-f27a-4997-8ca1-b3385c1cef0d.jpg)






