ilustrasi laki-laki sedang berlari (pexels.com/RUN 4 FFWPU)
Berikut ini tanda-tanda yang perlu kamu waspadai:
Sedikit kecewa karena melewatkan latihan itu wajar. Namun, waspada jika satu hari tanpa lari memicu rasa bersalah parah, marah, panik, atau takut berat badan langsung bertambah.
Pada olahraga kompulsif, lari bukan lagi untuk memperoleh manfaat, melainkan untuk menghindari emosi negatif yang muncul ketika tidak berolahraga.
Nyeri tajam, pincang, demam, pusing, dan kelelahan berat seharusnya menjadi alasan untuk mengevaluasi latihan. Pada pola yang tidak sehat, seseorang terus berlari, menyembunyikan atau mengabaikan nyeri, atau mengonsumsi obat agar tetap dapat menyelesaikan jadwal.
Tinjauan ilmiah mengenai olahraga kompulsif menemukan bahwa cedera merupakan salah satu konsekuensi negatif yang paling sering dilaporkan. Masalah sosial dan depresi juga ditemukan, meskipun hubungan sebab akibatnya masih perlu diteliti lebih lanjut.
Lari mulai bermasalah ketika jarak dan durasinya ditentukan oleh berapa banyak makanan yang baru dikonsumsi. Kamu mungkin merasa harus menambah kilometer setelah makan besar atau tidak mengizinkan makan sebelum mencapai target tertentu.
Pola ini dapat berkaitan dengan gangguan makan dan rendahnya ketersediaan energi, yaitu ketika energi dari makanan tidak cukup untuk mendukung fungsi tubuh setelah kebutuhan latihan diperhitungkan.
Kekurangan energi yang berlangsung lama dapat berkembang menjadi relative energy deficiency in sport (RED). Dampaknya bisa meliputi gangguan menstruasi, penurunan libido, kesehatan tulang memburuk, sering sakit, gangguan suasana hati, sulit pulih, serta performa yang menurun. Perempuan maupun laki-laki dapat mengalaminya.
Peningkatan jarak merupakan bagian normal dari program latihan. Namun, pada pola kompulsif, target terus ditingkatkan untuk memperoleh rasa puas yang sama. Easy run berubah menjadi tempo, rest day diganti dengan latihan lain, dan setiap sesi dianggap kurang jika tidak berakhir dengan kelelahan.
Kamu juga mungkin menambahkan sesi secara diam-diam atau berlari lebih jauh dari program karena merasa itu belum cukup.
Jadwal latihan memang butuh komitmen. Namun, pola menjadi tidak sehat ketika pekerjaan, hubungan, tidur, acara keluarga, atau aktivitas lain terus dikorbankan demi lari.
Kekhawatiran juga muncul jika nilai diri sepenuhnya bergantung pada pace, jarak, bentuk tubuh, atau konsistensi latihan. Hari terasa baik hanya ketika berhasil berlari dan merasa gagal ketika tidak melakukannya.
Salah satu tanda terpenting adalah hilangnya kontrol. Kamu menyadari tubuh kelelahan, hubungan terganggu, atau latihan berlebihan, tetapi setiap upaya untuk menguranginya berakhir dengan kembali pada pola yang sama.
Lari mungkin juga tidak lagi menyenangkan, berubah menjadi aturan kaku yang harus dipenuhi agar pikiran terasa tenang.