Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kapan Lari Berubah dari Sehat Jadi Obsesif?
ilustrasi lari (unsplash.com/Diana Rafira)
  • Banyak berlari atau mengikuti jadwal latihan ketat tidak otomatis berarti obsesif. Masalahnya muncul ketika seseorang kehilangan kendali dan terus berlari meski menimbulkan kerugian.

  • Rasa bersalah saat istirahat, memaksakan lari ketika cedera, serta menggunakan olahraga untuk “membayar” makanan merupakan tanda yang perlu diperhatikan.

  • Pola lari kompulsif dapat berkaitan dengan cedera, kekurangan energi, gangguan makan, serta masalah psikologis dan sosial.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Hujan deras, badan tidak enak, lutut sakit, tetapi yang terpikir justru bagaimana tetap bisa lari. Bagi sebagian orang, melewatkan jadwal lari terasa seperti kegagalan, meski tubuh sebenarnya butuh istirahat.

Disiplin memang penting, tapi perlu berhati-hati ketika keputusan soal lari tidak lagi berdasarkan tujuan, kondisi tubuh, atau rasa senang, melainkan dorongan yang sulit ditolak.

Pola seperti ini sering disebut exercise addiction atau olahraga kompulsif. Belum ada kriteria diagnosis klinis yang baku, dan kuesioner seperti Exercise Addiction Inventory hanya dipakai untuk menyaring risiko, bukan memastikan diagnosis.

1. Komitmen sehat vs ketergantungan lari

Seorang pelari maraton bisa berlatih 5–6 kali seminggu tanpa memiliki hubungan yang bermasalah dengan olahraga. Sebaliknya, orang dengan jarak lari lebih pendek bisa menunjukkan pola kompulsif jika merasa terpaksa berlari dan tidak mampu berhenti saat tubuh butuh istirahat.

Penelitian biasanya melihat beberapa tanda, seperti:

  • Lari menjadi pusat kehidupan.

  • Kebutuhan untuk terus menambah latihan.

  • Perubahan suasana hati.

  • Gejala withdrawal ketika tidak berlari.

  • Konflik dengan kehidupan lain.

  • Kembali pada volume berlebihan setelah mencoba menguranginya.

Studi pada pelari amatir menunjukkan risiko ketergantungan olahraga tidak hanya soal durasi atau jarak, tapi juga faktor psikologis seperti ketidakpuasan bentuk tubuh, gangguan makan, kecemasan, dan alasan seseorang berlari.

Perbedaan utama ada pada fleksibilitas. Komitmen yang sehat tetap memberi ruang untuk menyesuaikan latihan ketika sakit, cedera, lelah, atau ada kebutuhan lain, sedangkan pola kompulsif membuat lari terasa seperti kewajiban yang tidak bisa ditawar.

2. Tanda kebiasaan lari mulai menjadi obsesif

ilustrasi laki-laki sedang berlari (pexels.com/RUN 4 FFWPU)

Berikut ini tanda-tanda yang perlu kamu waspadai:

  • Merasa sangat bersalah atau cemas saat beristirahat

Sedikit kecewa karena melewatkan latihan itu wajar. Namun, waspada jika satu hari tanpa lari memicu rasa bersalah parah, marah, panik, atau takut berat badan langsung bertambah.

Pada olahraga kompulsif, lari bukan lagi untuk memperoleh manfaat, melainkan untuk menghindari emosi negatif yang muncul ketika tidak berolahraga.

  • Tetap berlari saat cedera atau sakit

Nyeri tajam, pincang, demam, pusing, dan kelelahan berat seharusnya menjadi alasan untuk mengevaluasi latihan. Pada pola yang tidak sehat, seseorang terus berlari, menyembunyikan atau mengabaikan nyeri, atau mengonsumsi obat agar tetap dapat menyelesaikan jadwal.

Tinjauan ilmiah mengenai olahraga kompulsif menemukan bahwa cedera merupakan salah satu konsekuensi negatif yang paling sering dilaporkan. Masalah sosial dan depresi juga ditemukan, meskipun hubungan sebab akibatnya masih perlu diteliti lebih lanjut.

  • Lari dikendalikan oleh pola makan

Lari mulai bermasalah ketika jarak dan durasinya ditentukan oleh berapa banyak makanan yang baru dikonsumsi. Kamu mungkin merasa harus menambah kilometer setelah makan besar atau tidak mengizinkan makan sebelum mencapai target tertentu.

Pola ini dapat berkaitan dengan gangguan makan dan rendahnya ketersediaan energi, yaitu ketika energi dari makanan tidak cukup untuk mendukung fungsi tubuh setelah kebutuhan latihan diperhitungkan.

Kekurangan energi yang berlangsung lama dapat berkembang menjadi relative energy deficiency in sport (RED). Dampaknya bisa meliputi gangguan menstruasi, penurunan libido, kesehatan tulang memburuk, sering sakit, gangguan suasana hati, sulit pulih, serta performa yang menurun. Perempuan maupun laki-laki dapat mengalaminya.

  • Volume latihan terus bertambah dan tidak pernah terasa cukup

Peningkatan jarak merupakan bagian normal dari program latihan. Namun, pada pola kompulsif, target terus ditingkatkan untuk memperoleh rasa puas yang sama. Easy run berubah menjadi tempo, rest day diganti dengan latihan lain, dan setiap sesi dianggap kurang jika tidak berakhir dengan kelelahan.

Kamu juga mungkin menambahkan sesi secara diam-diam atau berlari lebih jauh dari program karena merasa itu belum cukup.

  • Lari mulai menggeser seluruh aspek kehidupan

Jadwal latihan memang butuh komitmen. Namun, pola menjadi tidak sehat ketika pekerjaan, hubungan, tidur, acara keluarga, atau aktivitas lain terus dikorbankan demi lari.

Kekhawatiran juga muncul jika nilai diri sepenuhnya bergantung pada pace, jarak, bentuk tubuh, atau konsistensi latihan. Hari terasa baik hanya ketika berhasil berlari dan merasa gagal ketika tidak melakukannya.

  • Sudah ingin mengurangi, tetapi tidak berhasil

Salah satu tanda terpenting adalah hilangnya kontrol. Kamu menyadari tubuh kelelahan, hubungan terganggu, atau latihan berlebihan, tetapi setiap upaya untuk menguranginya berakhir dengan kembali pada pola yang sama.

Lari mungkin juga tidak lagi menyenangkan, berubah menjadi aturan kaku yang harus dipenuhi agar pikiran terasa tenang.

3. Apa yang bisa dilakukan?

Mulailah dengan mengamati fungsi lari dalam hidupmu. Tanyakan ini kepada diri sendiri:

  • Apakah aku bisa mengambil hari istirahat tanpa merasa harus menghukum diri?

  • Apakah aku mengubah latihan saat sakit atau cedera?

  • Apakah aku tetap makan cukup pada hari tanpa lari?

  • Apakah lari masih memberi kesenangan?

  • Apakah orang terdekat pernah mengkhawatirkan kebiasaan lariku?

  • Apakah aku sudah mencoba mengurangi latihan tetapi tidak berhasil?

Satu jawaban “ya” belum berarti kamu mengalami ketergantungan olahraga. Namun, makin banyak pola tersebut muncul dan makin besar dampaknya terhadap kesehatan serta kehidupan sehari-hari, makin penting untuk mencari bantuan.

Jadikan hari pemulihan sebagai bagian dari program, bukan kegagalan. Hindari mengganti setiap rest day dengan aktivitas lain hanya untuk membakar kalori. Jika menggunakan smartwatch, pertimbangkan menyembunyikan data kalori atau batasi pemeriksaan statistik.

Bicarakan situasi ini dengan pelatih, dokter olahraga, psikolog, atau ahli gizi olahraga. Jika terdapat pembatasan makan, ketakutan terhadap kenaikan berat badan, menstruasi tidak teratur, penurunan libido, cedera tulang berulang, atau berat badan turun tanpa direncanakan, dibutuhkan evaluasi multidisiplin.

Penanganan tidak selalu berarti berhenti berolahraga selamanya, tetapi lebih pada menyusun kembali pola gerak yang fleksibel, aman, dan tidak didorong rasa takut.

Hentikan latihan dan segera cari pertolongan medis jika muncul nyeri dada, pingsan, sesak yang tidak wajar, kebingungan, kelemahan berat, urine gelap setelah latihan, atau nyeri tulang yang membuat sulit menahan beban.

Referensi

Cunningham, Rachel A., et al. “Compulsive Exercise or Exercise Dependence? Clarifying Conceptualizations of Exercise in the Context of Eating Disorder Pathology.” Journal of Clinical Sport Psychology 16, no. 1 (2022): 1–18. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/34093941/.

Granziol, Umberto, Mark D. Griffiths, Liye Zou, et al. “The Expanded Exercise Addiction Inventory (EAI-3): Towards Reliable and International Screening of Exercise-Related Dysfunction.” International Journal of Mental Health and Addiction 22, no. 6 (2024): 3559–85. https://doi.org/10.1007/s11469-023-01066-2.

Lichtenstein, Mia Beck, Cecilie Juul Hinze, Bolette Emborg, Freja Thomsen, and Simone Daugaard Hemmingsen. “Compulsive Exercise: Links, Risks and Challenges Faced.” Psychology Research and Behavior Management 10 (2017): 85–95. https://doi.org/10.2147/PRBM.S113093.

Lukács, Andrea, Péter Sasvári, Beatrix Varga, and Krisztina Mayer. “Exercise Addiction and Its Related Factors in Amateur Runners.” Journal of Behavioral Addictions 8, no. 2 (2019): 343–49. https://doi.org/10.1556/2006.8.2019.28.

Martenstyn, Jordan A., Phillipa Aouad, Stephen Touyz, and Sarah Maguire. “Treatment Considerations for Compulsive Exercise in High-Performance Athletes with an Eating Disorder.” Sports Medicine—Open 8 (2022). https://doi.org/10.1186/s40798-022-00425-y.

Mountjoy, Margo, Kathryn E. Ackerman, David M. Bailey, et al. “2023 International Olympic Committee’s (IOC) Consensus Statement on Relative Energy Deficiency in Sport (REDs).” British Journal of Sports Medicine 57, no. 17 (2023): 1073–97. https://doi.org/10.1136/bjsports-2023-106994.

Curated For You

Editorial Team

Related Article