"Salah satunya mengontrol, ingin melakukan kontrol pada pasangan. Kemudian karena adanya karakteristik tertentu pada pelaku kekerasan, misalnya dia secara biologis ada gangguan, ada cedera kepala yang menyebabkan dia sulit untuk melakukan kontrol pada perilakunya," kata psikolog klinis, Meiri Dias Tuti, M.Psi kepada IDN Times.
Kasus Kekerasan di Bandung Bongkar Sisi Gelap Kasih Sayang Toksik

- Kasus kekerasan dan penyekapan di Bandung menyoroti pentingnya membedakan kasih sayang tulus dengan perilaku kontrol yang bisa berujung pada kekerasan dalam hubungan.
- Psikolog menjelaskan bahwa pelaku kekerasan sering memiliki motif mengontrol pasangan, dipengaruhi faktor biologis seperti cedera kepala atau gangguan kepribadian yang menghambat empati dan pengendalian diri.
- Riwayat keluarga serta kurangnya nilai sosial turut memicu perilaku kekerasan, menunjukkan bahwa tindakan tersebut berkaitan erat dengan gangguan psikologis dan pola perilaku berulang.
Dalam sebuah hubungan, perhatian dan rasa sayang biasanya adalah tanda cinta. Namun, tidak semua bentuk perhatian lahir dari niat yang sehat. Ada kalanya perilaku yang tampak sebagai kepedulian atau kasih sayang justru berpotensi menjadi awal dari kontrol yang berlebihan lalu berkembang menjadi kekerasan.
Bercermin dari kasus kekerasan dan penyekapan seorang perempuan di Bandung oleh kekasihnya, psikolog mengingatkan bahwa masyarakat harus lebih jeli membedakan antara kasih sayang dan upaya mengendalikan pasangan. Kenyataannya, banyak hubungan yang pada awalnya terlihat baik-baik saja perlahan berubah menjadi hubungan yang penuh tekanan, intimidasi, hingga kekerasan fisik maupun psikologis.
Table of Content
Adanya perilaku ingin mengontrol
Dalam konteks kekerasan pada pasangan secara fisik, salah satu kemungkinan terjadinya adalah karena adanya motif pelaku untuk mengontrol pasangan. Secara biologis, pelaku juga kemungkinan mengalami gangguan.
Gangguan kepribadian juga berpotensi membuat pelaku melakukan hal-hal yang kurang empati atau tidak ada penyesalan.
Faktor kurangnya norma sosial atau pemahaman nilai sosial dalam diri membuatnya menjadi pelaku kekerasan fisik pada pasangan yang mungkin tujuannya adalah untuk melakukan kontrol dalam relasi tersebut.
Adanya kemungkinan gangguan psikologis

Melakukan kekerasan pada pasangan secara fisik merupakan salah satu tanda gangguan psikologis, yang dapat berupa kekerasan fisik, seksual, emosional atau tindakan-tindakan mengontrol yang dilakukan oleh pasangan intim.
"Itu memiliki pola perilaku yang berkelanjutan sepanjang relasi tersebut. Di balik kenapa seseorang bisa melakukan kekerasan fisik pada pasangan, itu ada penyebabnya. Misalnya, karena mungkin secara biologis ada cedera kepala yang menyebabkan pelaku kesulitan dalam melakukan kontrol dan fungsi eksekutif," Meiri menjelaskan.
Secara psikologis, mungkin juga ada gangguan kepribadian, yang membuat pelaku kekerasan tidak memiliki empati atau tidak memiliki rasa penyesalan, sehingga melakukan perilaku kekerasan fisik pada pasangannya secara berulang.
Kurangnya nilai-nilai sosial membuat pelaku tidak memiliki kesadaran dan kontrol diri bahwa perilaku yang dia lakukan itu memiliki konsekuensi, misalnya yang berkaitan dengan hukum dan lain sebagainya.
Kemungkinan adanya riwayat keluarga
Perilaku kekerasan terhadap pasangan juga terkait dengan riwayat keluarga, apakah ada gangguan mental atau gangguan kepribadian yang menyebabkan seseorang memiliki perilaku seperti itu.
"Pengalaman masa lalu dari keluarga juga dapat berpengaruh. Jadi, kalau ada seseorang yang melakukan kekerasan fisik pada pasangan, pasti itu sudah dikatakan memiliki gangguan psikologis," ujar Meiri.


![[QUIZ] Latihan Kardio Pilihanmu Bisa Ungkap Siapa Dirimu Sebenarnya](https://image.idntimes.com/post/20250717/5593_035c0cfe-bc9b-4152-a4fa-a826ddc77043.jpg)





![[QUIZ] Pilih Workout Station HYROX Tersulit, Kami Tebak Kondisi Mentalmu](https://image.idntimes.com/post/20251209/upload_3d6c2660299615dc7370ee9897f59de5_2bf142e8-ba76-4e2a-bd73-c5087d60da0d.jpg)










