Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Jangan Asal Korek, Begini Cara Aman Membersihkan Telinga

Jangan Asal Korek, Begini Cara Aman Membersihkan Telinga
ilustrasi membersihkan telinga (magnific.com/cookie_studio)
  • Serumen atau kotoran telinga normalnya melindungi liang telinga dan keluar sendiri; cukup lap daun telinga serta kotoran yang terlihat di bagian luar tanpa memasukkan benda ke dalam.

  • Cotton bud dan benda lain dapat mendorong serumen makin dalam, memicu sumbatan atau cedera; ear candle juga tidak terbukti efektif dan berisiko menyebabkan luka.

  • Sumbatan bergejala dapat memerlukan pelunak serumen atau penanganan tenaga kesehatan; nyeri, cairan atau darah, serta gangguan pendengaran mendadak harus segera diperiksa dokter.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Ada rasa puas ketika cotton bud keluar membawa kotoran telinga. Ada perasaan telinga menjadi bersih. Namun, yang terjadi bisa sebaliknya, bahwa sebagian kotoran telinga atau serumen terdorong makin dalam.

Serumen diproduksi oleh kelenjar pada bagian luar liang telinga dan berfungsi melumasi serta melindungi kulit liang telinga. Serumen juga membantu menangkap debu dan partikel asing. Normalnya, serumen dan sel kulit mati perlahan bergerak ke arah lubang telinga, dibantu oleh gerakan rahang ketika berbicara atau mengunyah, kemudian mengering dan terlepas dengan sendirinya.

Daripada mengorek telinga sampai dalam, ini dia cara membersihkan telinga yang aman.

  1. 1. Bersihkan bagian luar, bukan liang telinga

    Menurut American Academy of Otolaryngology–Head and Neck Surgery Foundation (AAO-HNSF), kalau telinga tidak memiliki sumbatan serumen, tidak ada keharusan untuk membersihkan liang telinga, alias dibiarkan saja.

    Membersihkan telinga berlebihan justru dapat mengiritasi liang telinga dan meningkatkan risiko masalah.

    Cara sederhana membersihkan telinga setelah mandi antara lain:

    1. Gunakan kain atau handuk bersih yang lembut.
    2. Lap daun telinga dan lipatan-lipatannya.
    3. Bersihkan serumen yang memang sudah terlihat di bagian paling luar lubang telinga.
    4. Jangan memasukkan kain, jari, cotton bud, atau alat lainnya lebih dalam.

    Sedikit serumen merupakan kondisi normal dan merupakan bagian dari mekanisme perlindungan telinga.

  2. 2. Cotton bud dapat mendorong kotoran telinga makin dalam

    Sejumlah cotton buds putih tersusun di atas permukaan putih sebagai ilustrasi alat pembersih telinga sehari-hari.
    ilustrasi korek kuping atau cotton buds (pexels.com/Karolina Grabowska)

    Mengorek telinga dengan cotton bud sudah menjadi kebiasaan banyak orang. Kamu termasuk?

    Ketika cotton bud dimasukkan, sebagian serumen mungkin memang menempel pada kapas, tetapi bagian lainnya dapat terdorong lebih jauh menuju bagian sempit liang telinga dan gendang telinga. Lama-kelamaan, serumen dapat memadat menjadi impaksi serumen.

    Ada pula risiko cedera langsung.

    Penelitian dari data instalasi gawat darurat di Amerika Serikat (AS) memperkirakan sekitar 263.338 anak di bawah 18 tahun mengalami cedera telinga terkait cotton-tip applicator selama tahun 1990–2010. Hampir tiga perempat cedera terjadi ketika alat tersebut digunakan untuk membersihkan telinga. Perforasi atau robekan gendang telinga ditemukan pada sekitar seperempat kasus yang tercatat.

    Dari studi tersebut, terlihat bahwa risiko cedera akibat memasukkan cotton bud ke dalam liang telinga itu nyata sehingga tidak disarankan.

    Prinsip yang sama berlaku untuk pengorek berbahan logam, jepit rambut, alat berkamera, atau benda lain yang digunakan untuk mengeluarkan kotoran telinga.

  3. 3. Jika ada sumbatan, obat tetes bisa membantu

    Impaksi serumen adalah kondisi ketika penumpukan kotoran telinga menimbulkan gejala atau menghalangi pemeriksaan liang maupun gendang telinga. Gejalanya bisa berupa rasa penuh atau tersumbat, pendengaran berkurang, telinga berdenging, gatal, atau sakit telinga.

    Pada kondisi seperti ini, dokter mungkin menyarankan penggunaan cerumenolytic, yaitu cairan yang membantu melunakkan atau memecah serumen.

    Beberapa produk menggunakan bahan berbasis air, minyak, gliserin, hidrogen peroksida, carbamide peroxide, atau senyawa lainnya.

    Metaanalisis 2021 terhadap 26 uji klinis menemukan beberapa jenis cerumenolytic dapat membantu membersihkan serumen, terutama ketika digunakan bersama metode pengeluaran serumen lainnya. Namun, tidak ada alasan untuk menganggap satu cairan rumahan tertentu sebagai solusi universal.

    Penggunaan pelunak serumen sebelum iritasi direkomendasikan apabila pengeluaran serumen memang diperlukan. Namun, jangan asal meneteskan atau menyemprot telinga jika ada kemungkinan gendang telinga berlubang.

    Hindari melakukan irigasi atau menggunakan cairan pelunak tanpa arahan dokter jika pernah:

    • Mengalami perforasi gendang telinga.
    • Menggunakan ear tube.
    • Menjalani operasi telinga tertentu.

    Diabetes, sistem kekebalan tubuh yang lemah, penyempitan liang telinga, penggunaan obat antikoagulan, dan beberapa kondisi lain juga dapat mengubah pilihan metode teraman.

    Pemeriksaan oleh dokter THT adalah yang pilihan yang paling aman.

  4. 4. Jangan menggunakan ear candle

    Ada metode bernama ear candling. Sebuah lilin berbentuk kerucut dimasukkan ke lubang telinga dan dinyalakan, dengan klaim bahwa tekanan negatif dari panas akan menyedot serumen keluar. Sayangnya, mekanisme tersebut tidak didukung penelitian.

    Eksperimen yang mengevaluasi ear candle tidak menemukan tekanan negatif yang mampu menarik serumen. Pada uji klinis kecil, serumen tidak berhasil dikeluarkan dan lilin justru meninggalkan endapan lilin pada sebagian telinga. Survei terhadap dokter THT juga menemukan kasus luka bakar, penyumbatan oleh lilin, gangguan pendengaran, otitis eksterna, hingga perforasi gendang telinga.

  5. 5. Kalau tetap tersumbat, biarkan tenaga kesehatan yang mengeluarkannya

    Ilustrasi telinga manusia dengan liang telinga bagian dalam tampak bersih dan bebas dari kotoran telinga.
    ilustrasi liang telinga yang tampak bersih (pexels.com/www.kaboompics.com)

    Ketika kotoran telinga sudah keras, menutup liang telinga, atau tidak membaik dengan penanganan awal, sebaiknya ini ditangani oleh tenaga kesehatan.

    Metode yang dapat digunakan antara lain irigasi, microsuction, dan pengeluaran manual menggunakan instrumen khusus. Pilihannya bergantung pada kondisi liang telinga, gendang telinga, kekerasan serumen, riwayat penyakit, serta keahlian petugas.

    Jika keluhan tetap ada setelah liang telinga sudah bersih, dokter perlu mencari penyebab lain selain serumen. Ini penting karena telinga tersumbat dan pendengaran berkurang tidak selalu disebabkan oleh penumpukan kotoran telinga.

    Nyeri, cairan atau darah yang keluar dari telinga sebaiknya diperiksa oleh dokter. Kehilangan pendengaran yang muncul mendadak dalam satu atau kedua telinga merupakan kondisi yang perlu mendapat evaluasi medis segera, karena gangguan pendengaran sensorineural mendadak dapat terasa seperti telinga sekadar tersumbat.

    Kehilangan pendengaran yang berkembang dalam tiga hari atau kurang dan tidak dijelaskan oleh masalah telinga luar atau tengah merupakan kondisi yang butuh penilaian spesialis segera.

    Jadi, cara paling aman membersihkan telinga adalah dengan membiarkan mekanisme alami telinga bekerja, lap hanya bagian luarnya, dan tangani serumen hanya ketika benar-benar menimbulkan masalah.

    Referensi

    Zeenath S. Ameen, Thiphalak Chounthirath, Gary A. Smith, and Kris R. Jatana, “Pediatric Cotton-Tip Applicator-Related Ear Injury Treated in United States Emergency Departments, 1990–2010,” Journal of Pediatrics 186 (2017): 124–130, doi:10.1016/j.jpeds.2017.03.049.

    Seth R. Schwartz et al., “Clinical Practice Guideline (Update): Earwax (Cerumen Impaction),” Otolaryngology–Head and Neck Surgery 156, no. 1 suppl. (2017): S1–S29, doi:10.1177/0194599816671491.

    Kannan Sridharan and Gowri Sivaramakrishnan, “Cerumenolytics with or without Manual Extraction for Impacted Earwax: A Network Meta-analysis of Randomised Clinical Trials,” Clinical Otolaryngology 46, no. 3 (2021): 464–473, doi:10.1111/coa.13692.

    Daniel R. Seely, Susan M. Quigley, and Allen W. Langman, “Ear Candles—Efficacy and Safety,” Laryngoscope 106, no. 10 (1996): 1226–29.

    National Institute for Health and Care Excellence, “Hearing Loss in Adults: Assessment and Management,” NICE Guideline NG98, updated September 2023.

    National Institute for Health and Care Excellence, “Sudden Onset of Hearing Loss,” Hearing Loss in Adults Quality Standard QS185, July 10, 2019.

    American Academy of Otolaryngology — Head and Neck Surgery, "Clinical Practice Guideline: Earwax (Cerumen Impaction) (Update)," diakses Agustus 2026.

    American Academy of Otolaryngology — Head and Neck Surgery, "Earwax (Cerumen Impaction), diakses Agustus 2026.

Share Article

Related Articles

See More