WHO: 94 Juta Penduduk Dunia Butuh Operasi Katarak

- Operasi katarak banyak dilakukan oleh warga di negara-negara kaya. Kondisi ekonomi yang buruk membuat separuh penduduk dunia tidak memiliki akses untuk operasi.
- Penderita katarak didominasi kaum laki-laki. WHO mendorong negara-negara di dunia untuk meningkatkan akses operasi bagi para penderita katarak.
- Aspek finansial masih jadi kendala. WHO meluncurkan panduan baru bagi negara-negara di dunia tentang cara menyediakan layanan operasi katarak berkualitas.
Jakarta, IDN Times - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut 94 juta penduduk dunia saat ini membutuhkan operasi katarak. Sayangnya, separuh dari mereka tidak tidak memiliki akses untuk melakukan operasi karena kondisi ekonomi yang buruk.
“Operasi katarak, prosedur sederhana yang hanya memakan waktu 15 menit, adalah salah satu prosedur medis yang paling hemat biaya,” kata Kepala Teknis Badan Kesehatan PBB untuk Perawatan Mata, Stuart Keel, dalam konferensi pers pada Rabu (11/2/2026), seperti dilansir The Strait Times.
“(Operasi tersebut bisa) memberikan pemulihan penglihatan secara langsung dan permanen. Namun, separuh populasi dunia yang membutuhkan operasi katarak tidak memiliki akses ke layanan tersebut,” lanjutnya.
1. Operasi katarak banyak dilakukan oleh warga di negara-negara kaya

Dalam pernyataannya, Stuart Keel menjelaskan, operasi katarak sering dilakukan oleh penduduk yang tinggal di negara-negara kaya. Sebab, kondisi ekonomi penduduk di negara kaya biasanya sudah sangat baik. Mereka bisa menggelontorkan dana tinggi agar bisa sembuh dari katarak.
Namun, lain halnya dengan warga yang hidup di negara miskin. Mereka kesulitan sembuh dari penyakit katarak karena tidak punya uang untuk operasi. Contoh kasus seperti ini banyak terjadi di negara-negara di Benua Afrika.
Berdasarkan data WHO, sebanyak 3 dari 4 orang penderita katarak di Benua Afrika saat ini belum dioperasi. Contoh yang lebih spesifik juga bisa dilihat di Kenya. Di sana, 77 persen pasien penderita katarak tidak bisa melakukan operasi karena keterbatasan ekonomi. Oleh karena itu, mereka saat ini terancam mati dalam kondisi buta akibat penyakit katarak yang makin parah.
2. Penderita katarak didominasi kaum laki-laki

Menurut WHO, 94 juta penderita katarak dunia didominasi oleh kaum laki-laki. Dari jumlah tersebut, sebanyak 20 persen sudah mengalami kebutaan karena tidak segera ditangani.
Untuk mengatasi masalah tersebut, WHO sudah mendorong negara-negara di dunia untuk meningkatkan akses operasi untuk para penderita katarak. Menurut Stuart Keel, cakupan operasi katarak yang dilakukan oleh negara-negara anggota sudah meningkat sebesar 15 persen selama 2 dekade terakhir.
Ke depan, negara-negara anggota WHO akan meningkatkan akses operasi katarak sampai 30 persen pada 2030. Ini dilakukan agar para warga yang menderita katarak dapat segera ditangani sehingga tidak mengalami kebutaan.
3. Aspek finansial masih jadi kendala

Untuk mencapai target tersebut, WHO pada Rabu meluncurkan panduan baru bagi negara-negara di dunia tentang cara menyediakan layanan operasi katarak berkualitas. Selain itu, WHO juga berjanji akan membantu negara-negara di dunia untuk melatih tenaga kesehatan mereka agar bisa melakukan operasi katarak dengan baik.
Namun, Stuart Keel mengatakan, rencana tersebut masih terkendala biaya. Sebab, pengembangan dan pelatihan tenaga kesehatan tentu membutuhkan dana yang tidak sedikit.
“Kita memang membutuhkan investasi dana untuk mengatasi penundaan ini yang jumlahnya hampir mencapai 100 juta orang,” kata Keel.


















