Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Banyak Orang Merasa Masuk Angin setelah Mudik?

Kenapa Banyak Orang Merasa Masuk Angin setelah Mudik?
ilustrasi seorang perempuan merasa mengalami masuk angin setelah mudik(pexels.com/MART PRODUCTION)
Intinya Sih
  • "Masuk angin" bukan diagnosis medis, tetapi lebih ke kumpulan gejala seperti flu, kelelahan, dan gangguan pencernaan.

  • Selama mudik, risiko terpapar virus meningkat karena keramaian, ditambah kurang tidur dan stres yang menurunkan daya tahan tubuh sehingga muncul keluhan seperti meriang dan pegal.

  • Perubahan pola makan, duduk lama, serta dehidrasi membuat tubuh terasa tidak nyaman dan sering disalahartikan sebagai masuk angin.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Istilah “masuk angin” sangat akrab di masyarakat. Keluhan seperti meriang, perut kembung, pegal, hingga mual sering langsung dilabeli ini, termasuk setelah perjalanan jauh seperti mudik.

Sebetulnya dunia medis tidak mengenal masuk angin. Kondisi ini lebih dipahami sebagai kumpulan gejala yang bisa berasal dari beberapa kondisi, seperti infeksi ringan (pilek atau flu), kelelahan fisik, gangguan pencernaan, atau dehidrasi.

Setelah mudik, tubuh mengalami banyak perubahan sekaligus, mulai dari kurang tidur, duduk terlalu lama, hingga pola makan yang tidak teratur. Kombinasi ini membuat tubuh lebih rentan terhadap berbagai gangguan yang kemudian dirasakan sebagai masuk angin.

Table of Content

1. Paparan virus lebih tinggi selama perjalanan

1. Paparan virus lebih tinggi selama perjalanan

Saat mudik, banyak orang berada di tempat ramai seperti terminal, bandara, stasiun, atau kendaraan umum. Ini meningkatkan risiko terpapar virus penyebab flu atau pilek.

Infeksi saluran pernapasan atas seperti pilek mudah menyebar melalui droplet di ruang tertutup. Gejala seperti meriang, pilek, dan tenggorokan tidak nyaman sering kali disebut sebagai masuk angin.

2. Kelelahan dan kurang tidur

Ilustrasi kurang tidur.
ilustrasi kurang tidur (freepik.com/jcomp)

Perjalanan panjang sering mengorbankan waktu istirahat. Kurang tidur terbukti berdampak langsung pada sistem imun.

Penelitian menunjukkan bahwa kurang tidur meningkatkan kerentanan terhadap infeksi virus. Ketika tubuh lelah:

  • Sistem imun melemah.
  • Respons terhadap infeksi menurun.
  • Tubuh lebih mudah drop.

Inilah alasan kenapa banyak orang baru merasa sakit setelah sampai tujuan.

3. Perubahan pola makan dan gangguan pencernaan

Selama mudik, pola makan cenderung berubah, misalnya kamu lebih banyak makanan berlemak, pedas, atau tidak teratur. Perubahan pola makan dan kebersihan makanan dapat memicu gangguan pencernaan.

Gejala seperti kembung, mual, dan ketidaknyamanan pada perut sering dianggap masuk angin, padahal ini berkaitan dengan sistem pencernaan.

4. Dehidrasi yang tidak disadari

Ilustrasi seorang perempuan mengalami dehidrasi.
ilustrasi seorang perempuan mengalami dehidrasi (freepik.com/freepik)

Perjalanan jauh, terutama saat cuaca panas atau dalam kendaraan ber-AC, dapat menyebabkan dehidrasi ringan.

Dehidrasi dapat menimbulkan pusing, lemas, dan mulut kering. Penelitian menunjukkan bahwa dehidrasi ringan saja sudah cukup memengaruhi fungsi tubuh dan energi.

Beberapa gejala dehidrasi dapat disalahartikan sebagai masuk angin.

5. Duduk terlalu lama dan sirkulasi tidak optimal

Duduk berjam-jam selama perjalanan dapat mengganggu sirkulasi darah dan menyebabkan rasa pegal.

Imobilitas dalam waktu lama dapat menyebabkan kekakuan otot dan ketidaknyamanan fisik. Rasa tidak enak badan ini sering muncul bersamaan dengan gejala lain, memperkuat persepsi masuk angin.

6. Stres perjalanan dan ritme tubuh

Ilustrasi mudik, perjalanan jauh, perjalanan panjang, road trip.
ilustasi mudik Lebaran (IDN Times/NRF)

Mudik bukan hanya melelahkan secara fisik, tetapi juga mental. Macet, jadwal padat, dan perubahan rutinitas dapat meningkatkan stres.

Stres diketahui dapat memengaruhi sistem imun dan meningkatkan risiko sakit. Stres kronis dapat mengganggu respons imun tubuh, menurut temuan studi.

Apa yang orang-orang rasakan sebagai masuk angin setelah mudik bisa menjadi sinyal tubuh yang kelelahan dan butuh pemulihan. Memahami penyebabnya membantu kamu mengambil tindakan tepat, seperti beristirahat, menjaga hidrasi, serta memperbaiki pola makan.

Jika keluhan yang kamu alami tak kunjung membaik atau malah memburuk, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter.

Referensi

Centers for Disease Control and Prevention. “Common Cold.” Diakses Maret 2026.

Firdaus S. Dhabhar, “Effects of Stress on Immune Function: The Good, the Bad, and the Beautiful,” Immunologic Research 58, no. 2–3 (May 1, 2014): 193–210, https://doi.org/10.1007/s12026-014-8517-0.

Mayo Clinic. “Sitting risks.” Diakses Maret 2026.

Barry M Popkin, Kristen E D’Anci, and Irwin H Rosenberg, “Water, Hydration, and Health,” Nutrition Reviews 68, no. 8 (July 20, 2010): 439–58, https://doi.org/10.1111/j.1753-4887.2010.00304.x.

Aric A. Prather et al., “Behaviorally Assessed Sleep and Susceptibility to the Common Cold,” SLEEP 38, no. 9 (August 31, 2015): 1353–59, https://doi.org/10.5665/sleep.4968.

World Health Organization. “Food safety.” Diakses Maret 2026.

Share
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More