Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Misteri Virus Andes, Dikatakan Tidak Ada Tikus di Kapal MV Hondius

Misteri Virus Andes, Dikatakan Tidak Ada Tikus di Kapal MV Hondius
ilustrasi kapal pesiar (pexels.com/Edgar Arroyo)
Intinya Sih
  • Kapal pesiar MV Hondius dikaitkan dengan kasus virus Andes, jenis hantavirus yang disebarkan oleh hewan pengerat seperti tikus, tetapi pakar menegaskan tidak ada tikus di kapal dan penularan terjadi sebelum perjalanan dimulai.

  • Pasangan asal Belanda yang terinfeksi sempat berkunjung ke wilayah Amerika Latin dengan risiko tinggi hantavirus, menyebabkan beberapa kontak ikut positif dan seluruh penumpang diwajibkan isolasi hingga 45 hari.

  • Prof. Dominicus menjelaskan virus Andes jarang bermutasi dan penyebarannya tidak semudah COVID-19, sehingga risiko penularan ke publik dinilai sangat rendah.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Kapal pesiar MV Hondius menjadi topik panas beberapa waktu belakangan karena berkaitan dengan virus Andes (jenis dari hantavirus yang tergolong langka) karena bisa menular dari manusia ke manusia, bukan cuma tikus ke manusia. Kendaraan laut itu berlayar dari Ushuaia, Argentina menuju Tenerife, Spanyol.

Dijelaskan oleh Prof. Dr. dr. Dominicus Husada, DTM&H, MCTM(TP), Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan Guru Besar Bidang Ilmu PD3I Kedokteran Universitas Airlangga (UNAIR), Surabaya, bahwa tidak ada tikus di kapal tersebut.

Table of Content

Tidak ada tikus di kapal

Tidak ada tikus di kapal

Prof. Dominicus menjelaskan bahwa gejala dari virus Andes terkadang sudah bisa dirasakan pasien sekitar satu sampai dua minggu setelah terinfeksi. Tapi ada juga yang bergejala dua bulan setelahnya.

"Tidak ada tikus di kapal Hondius. Karena dia kapal bendera Belanda, jadi sesuai standar Eropa dan Amerika ga boleh ada tikus di kapal. Nah, yang ada adalah orang yang sudah tertular sebelum dia naik kapal," jelasnya.

Pasangan suami istri dari Belanda ini melakukan perjalanan ke Argentina, Cile dan dan Uruguay. Beberapa minggu sebelumnya mereka berada di Amerika Latin untuk melakukan pengamatan terhadap burung-burung. Nahasnya wilayah yang dikunjunginya adalah daerah yang banyak mempunyai tikus yang berhubungan dengan virus Andes. Sehingga diperkirakan penularan dari sana.

Penumpang diisolasi selama 45 hari

Beberapa penumpang berdiri di balkon kabin kapal pesiar besar dengan pagar kaca biru, menikmati pemandangan laut.
ilustrasi penumpang kapal pesiar (pexels.com/Ahmed)

Beberapa orang yang melakukan kontak dengan pasangan yang positif virus Andes terindikasi sakit, termasuk dokter-dokter yang ikut dan juga turun di Afrika Selatan positif virus yang sama setelah melakukan tes.

Penumpang yang sudah kembali ke negaranya dan tidak menunjukkan gejala, tetap harus menjalani isolasi. Misalnya saja mereka yang berasal dari Inggris diisolasi selama 45 hari dan yang berkewarganegaan Singapura kurang lebih satu bulan.

"Memang dalam aturan Inggris isolasinya harus 45 hari. Dan kebanyakan kalau sudah enam minggu tak ada apa-apa (tidak bergejala) boleh pulang. Tapi batasnya yang maksimal adalah 8 minggu. Risiko terhadap publik relatif rendah," imbuh Prof. Dominicus.

Risiko penyebaran kecil

Prof. Dominicus juga menjelaskan bahwa hantavirus ini tdak seperti SARS-CoV-2, influenza bahkan human immunodeficiency virus (HIV). Virus ini relatif lebih jarang mengalami mutasi.

"Karena ini bukan COVID-19, bukan influenza. Ini menyebarnya betul melalui saluran napas, tapi tidak orang-ke-orang. Jadi kalau kita tidak melakukan kontak erat, ketemu hanya sesekali, praktis risiko kita itu kecil juga untuk tertular," katanya.

Prof. Dominicus lebih lanjut menjelaskan bahwa cara penyebaran dari hantavirus sangat berbeda dengan COVID-19 atau influenza, sehingga potensinya sangat kecil untuk penyebaran yang meluas sehingga masyarakat tidak perlu takut berlebihan.

Share
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Related Articles

See More