Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Gigi Tidak Tumbuh Lagi di Usia Berapa? Ini Jawabannya

Gigi Tidak Tumbuh Lagi di Usia Berapa? Ini Jawabannya
ilustrasi kesehatan gigi dan mulut (freepik.com/benzoix)
Intinya Sih
  • Manusia hanya memiliki dua set gigi, yaitu gigi susu dan gigi permanen.

  • Setelah gigi permanen tumbuh (sekitar usia remaja), gigi tidak bisa tumbuh lagi secara alami.

  • Kehilangan gigi permanen tidak dapat digantikan secara biologis tanpa intervensi medis.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Gigi mengalami perubahan besar sejak masa kanak-kanak. Dari gigi susu yang mulai tumbuh di usia bayi hingga pergantian ke gigi permanen, proses ini berlangsung dalam waktu bertahun-tahun.

Dari situ, ada satu pertanyaan yang sering ditanyakan: setelah dewasa, apakah gigi masih bisa tumbuh lagi jika tanggal atau rusak? Jawabannya berkaitan erat dengan bagaimana tubuh manusia berkembang, serta batas alami dari regenerasi jaringan.

Yuk pahami kapan dan mengapa gigi berhenti tumbuh agar kamu lebih menghargai pentingnya menjaga kesehatan gigi sejak dini.

Table of Content

1. Manusia cuma punya dua kesempatan untuk tumbuh gigi

1. Manusia cuma punya dua kesempatan untuk tumbuh gigi

Secara biologis, manusia termasuk makhluk diphyodont, yaitu hanya memiliki dua set gigi sepanjang hidup: gigi susu (primer) dan gigi permanen (sekunder)

Gigi susu mulai tumbuh sekitar usia 6 bulan dan lengkap pada usia 2–3 tahun, sedangkan gigi permanen mulai menggantikan gigi susu sekitar usia 6 tahun dan proses ini biasanya selesai pada usia 12–13 tahun (kecuali gigi bungsu).

Setelah itu, tidak ada set ketiga gigi yang akan tumbuh secara alami.

Penelitian menjelaskan bahwa kemampuan pembentukan gigi dikendalikan oleh interaksi kompleks antara gen dan jaringan embrionik, yang mana itu adalah proses yang hanya terjadi pada fase perkembangan awal kehidupan.

2. Setelah remaja, gigi tidak bisa tumbuh lagi

Ilustrasi menyikat gigi.
ilustrasi menyikat gigi (pexels.com/@greta-hoffman)

Gigi permanen biasanya sudah lengkap pada masa remaja akhir, kecuali gigi bungsu yang bisa muncul hingga usia 17–25 tahun.

Setelah gigi permanen terbentuk, tubuh tidak lagi memiliki mekanisme biologis untuk menumbuhkan gigi baru. Berbeda dengan kulit atau rambut yang bisa beregenerasi, gigi tidak memiliki kemampuan regeneratif yang sama. Ini karena:

  • Sel pembentuk gigi (ameloblast) hilang setelah gigi terbentuk.
  • Struktur gigi (enamel) tidak bisa diperbaiki secara alami.

Enamel adalah jaringan paling keras dalam tubuh, tetapi tidak memiliki kemampuan untuk memperbaiki diri. Inilah alasan mengapa kerusakan gigi bersifat permanen tanpa perawatan medis.

3. Mungkinkah gigi tumbuh lagi dengan teknologi tertentu?

Secara alami, jawabannya tidak bisa. Namun, penelitian modern mulai mengeksplorasi kemungkinan regenerasi gigi. Para ilmuwan tengah meneliti stem cell (sel punca), rekayasa jaringan, dan aktivasi gen pembentuk gigi. Tujuannya adalah menciptakan gigi biologis baru di masa depan.

Namun hingga saat ini, teknologi tersebut masih dalam tahap penelitian dan belum tersedia sebagai perawatan rutin.

Sebagai alternatif, dunia kedokteran gigi saat ini menawarkan solusi seperti:

  • Implan gigi.
  • Gigi tiruan.
  • Bridge (jembatan gigi).

Implan gigi menjadi salah satu metode paling efektif untuk menggantikan gigi yang hilang secara fungsional.

Secara alami, gigi manusia berhenti tumbuh setelah set gigi permanen lengkap, umumnya pada masa remaja akhir hingga awal dewasa. Setelah itu, tidak ada gigi yang akan tumbuh secara alami. Jadi, penting untuk menjaga kesehatan gigi sejak dini. Karena berbeda dengan banyak bagian tubuh lain, gigi tidak memiliki kesempatan kedua.

Referensi

American Dental Association. “Tooth Development in Children.” Diakses Maret 2026.

National Institute of Dental and Craniofacial Research. “Tooth Development.” Diakses Maret 2026.

Mayo Clinic. “Dental Implants.” Diakses Maret 2026.

Irma Thesleff, “From Understanding Tooth Development to Bioengineering of Teeth,” European Journal of Oral Sciences 126, no. S1 (September 3, 2018): 67–71, https://doi.org/10.1111/eos.12421.

John D. Bartlett, “Dental Enamel Development: Proteinases and Their Enamel Matrix Substrates,” ISRN Dentistry 2013 (September 16, 2013): 1–24, https://doi.org/10.1155/2013/684607.

Etsuko Ikeda and Takashi Tsuji, “Growing Bioengineered Teeth From Single Cells: Potential for Dental Regenerative Medicine,” Expert Opinion on Biological Therapy 8, no. 6 (May 14, 2008): 735–44, https://doi.org/10.1517/14712598.8.6.735.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More