- Nyeri perut hebat atau perut terasa nyeri ketika ditekan.
- Muntah terus-menerus, termasuk muntah setidaknya tiga kali dalam 24 jam.
- Mimisan, gusi berdarah, muntah darah, atau BAB berdarah.
- Tubuh sangat lemas, gelisah, atau mengalami penurunan kesadaran.
- Tangan dan kaki terasa dingin, kulit tampak pucat.
- Jumlah urine berkurang drastis.
- Napas cepat atau kesulitan bernapas.
Kenapa Demam Berdarah Bisa Memburuk saat Demam Turun?

Pada demam berdarah, demam yang turun pada hari ketiga hingga ketujuh dapat menandai fase kritis selama 24–48 jam, bukan selalu tanda pemulihan.
Peradangan akibat dengue dapat membuat pembuluh darah bocor, sehingga plasma keluar, volume darah menurun, hematokrit meningkat, dan risiko syok dengue bertambah.
Pasien perlu dipantau melalui tanda vital, urine, hematokrit, dan trombosit; segera ke fasilitas kesehatan bila muncul nyeri perut, muntah terus-menerus, perdarahan, lemas, atau sesak napas.
Demam yang mulai turun biasanya dianggap sebagai tanda bahwa tubuh pulih dari penyakit. Namun, pada kasus demam berdarah, kondisi ini justru perlu diwaspadai. Pasalnya, penurunan suhu tubuh bisa menandai dimulainya fase kritis, yaitu periode ketika pasien berisiko mengalami komplikasi serius.
Fase kritis demam berdarah umumnya dimulai saat demam mereda dan berlangsung sekitar 24–48 jam. Pada periode ini, perubahan pada pembuluh darah dapat menyebabkan kebocoran plasma, perdarahan, hingga syok.
Lantas, kenapa demam berdarah bisa memburuk saat demam turun?
Table of Content
1. Demam turun belum tentu menandakan kesembuhan
Pada beberapa hari pertama, demam berdarah biasanya menyebabkan demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, mual, serta terkadang ruam kulit. Gejala tersebut muncul sebagai bagian dari respons tubuh terhadap infeksi virus dengue.
Memasuki hari ke-3 hingga ke-7 sejak gejala dimulai, suhu tubuh biasanya mulai menurun. Kondisi ini disebut defervescence, yaitu ketika demam mereda dan suhu tubuh kembali mendekati normal.
Sayangnya, penurunan demam tidak selalu berarti infeksi sudah melewati tahap berbahaya. Fase kritis justru sering dimulai pada periode tersebut. Sebagian pasien dapat mengalami perubahan kondisi secara cepat meskipun sebelumnya terlihat lebih sehat.
2. Pembuluh darah menjadi lebih mudah bocor
Salah satu alasan utama demam berdarah dapat memburuk ketika demam turun adalah meningkatnya permeabilitas pembuluh darah. Artinya, dinding pembuluh darah menjadi lebih mudah dilewati cairan.
Infeksi virus dengue memicu reaksi peradangan yang melibatkan berbagai komponen sistem kekebalan tubuh. Protein virus, termasuk NS1, serta zat peradangan yang disebut sitokin dapat mengganggu fungsi endotel, yaitu lapisan tipis yang melapisi bagian dalam pembuluh darah.
Akibatnya, plasma atau bagian cair dari darah dapat merembes keluar menuju jaringan tubuh. Kebocoran plasma umumnya terjadi ketika demam mulai mereda.
Cairan yang keluar tersebut dapat terkumpul di rongga perut maupun rongga dada. Jika kebocoran berlangsung cukup berat, jumlah cairan yang tetap berada dalam pembuluh darah akan berkurang.
3. Volume darah berkurang dan risiko syok meningkat

ilustrasi pasien demam berdarah dirawat di rumah sakit (vecteezy.com/Titiwoot Weerawong) Ketika plasma keluar dari pembuluh darah, volume darah yang bersirkulasi ikut menurun. Kondisi ini membuat darah menjadi lebih pekat dan dapat terlihat melalui peningkatan kadar hematokrit dalam pemeriksaan laboratorium.
Pada saat yang sama, jumlah trombosit juga sering mengalami penurunan. Meski demikian, trombosit rendah bukan satu-satunya penentu tingkat keparahan demam berdarah. Dokter juga perlu memperhatikan kondisi pasien, tanda kebocoran plasma, dan perubahan hasil pemeriksaan darah.
Jika kehilangan cairan dari pembuluh darah berlangsung berat, tekanan darah dapat menurun dan aliran darah menuju organ vital menjadi tidak mencukupi. Kondisi ini dapat berkembang menjadi syok dengue yang mengancam nyawa. Inilah sebabnya pasien demam berdarah tetap harus dipantau meskipun suhu tubuhnya sudah kembali normal.
4. Kondisi pasien bisa terlihat membaik padahal memasuki fase kritis
Penurunan demam sering membuat pasien merasa lebih nyaman. Sakit kepala mungkin berkurang, tubuh tidak lagi terlalu panas, dan keluarga mulai menganggap kondisi pasien membaik.
Padahal, perubahan pada pembuluh darah bisa berlangsung tanpa gejala yang langsung terlihat jelas. Karena itu, suhu tubuh saja tidak cukup untuk menentukan pasien pulih.
Tenaga medis biasanya memantau tekanan darah, denyut nadi, jumlah urine, kecukupan cairan, serta perubahan hematokrit dan trombosit. Pemeriksaan tersebut membantu mendeteksi kemungkinan kebocoran plasma maupun gangguan sirkulasi. Kondisi yang tidak kunjung membaik atau justru memburuk ketika demam mereda perlu dicurigai sebagai tanda peringatan.
5. Kenali tanda bahaya saat demam mulai turun
Tidak semua pasien demam berdarah akan mengalami fase kritis yang berat. Namun, keluarga perlu mengenali gejala yang menandakan kondisi pasien membutuhkan penanganan segera.
Beberapa tanda bahaya demam berdarah yang perlu diwaspadai, meliputi:
Tanda-tanda tersebut dapat muncul ketika demam mulai menghilang. Jika salah satunya terjadi, pasien perlu segera dibawa ke fasilitas kesehatan tanpa menunggu demam kembali tinggi.
6. Apa yang perlu dilakukan ketika demam berdarah mulai turun?

ilustrasi pasien demam berdarah sedang dirawat di rumah sakit (unsplash.com/Olga Kononenko) Selama masa pemulihan, pasien perlu mendapatkan cairan yang cukup sesuai anjuran dokter. Air putih atau cairan rehidrasi oral dapat diberikan sedikit demi sedikit, terutama jika pasien masih mengalami mual.
Hindari penggunaan aspirin, ibuprofen, dan obat antiinflamasi nonsteroid lainnya karena dapat meningkatkan risiko perdarahan. Untuk membantu meredakan demam atau nyeri, parasetamol umumnya lebih aman jika digunakan sesuai dosis yang dianjurkan.
Pasien juga perlu menjalani pemeriksaan ulang sesuai jadwal dokter, terutama ketika memasuki periode penurunan demam. Pada kondisi tertentu, perawatan di rumah sakit diperlukan agar keseimbangan cairan dan tanda vital dapat dipantau lebih ketat.
Jadi, penyebab utama demam berdarah bisa memburuk saat demam turun adalah karena perubahan respons tubuh terhadap infeksi yang dapat meningkatkan kebocoran plasma dari pembuluh darah. Jadi, jangan menjadikan penurunan suhu sebagai satu-satunya tanda kesembuhan. Pemantauan selama 24–48 jam setelah demam mereda sangat penting untuk mengenali komplikasi sejak dini.
Referensi
CDC. Diakses pada Oktober 2026. "Clinical Features of Dengue."
CDC. Diakses pada Oktober 2026. "Symptoms of Dengue and Testing."
Cegah DBD. Diakses pada Oktober 2026. "Fever Drops during Dengue, Please be Aware of Critical Sign!"
Inciteful Med. Diakses pada Oktober 2026. "Why is the Dengue Critical Phase After the Fever Breaks?"











![[QUIZ] Pilih Menu Ayam Favoritmu, Kami Tebak Kepribadianmu](https://image.idntimes.com/post/20260822/gambar-artikel-90_62bcda34-1f45-442a-acf2-42109b179116.png)
![[QUIZ] Pilih Mesin Gym Favorit, Kami Tebak Personality Kamu](https://image.idntimes.com/post/20260715/upload_1f4fad55d736c0857d28717d4f5ad568_9f044a0b-3a74-43ca-bf9f-4bb408840b9c.png)











