Melihat noda berwarna kuning, putih, atau abu-abu di celana dalam saja tidak cukup untuk mendiagnosis penyebabnya. Bahkan, riwayat gejala saja sering tidak cukup untuk menentukan penyebab vaginitis. Pemeriksaan dan, jika diperlukan, tes laboratorium membantu membedakan vaginosis bakterialis, kandidiasis, trikomoniasis, servisitis, dan penyebab lainnya.
Sebaiknya temui dokter jika keputihan berubah dari biasanya, berbau menyengat, berwarna hijau atau abu-abu, disertai gatal atau rasa terbakar, nyeri ketika berkemih atau berhubungan seksual, maupun mengalai perdarahan yang tidak semestinya.
Kesimpulannya, keputihan yang meninggalkan noda di celana dalam tidak otomatis menandakan penyakit. Sekret vagina normal memang dapat meninggalkan residu ketika mengering, dan lingkungan vagina yang sehat secara alami bersifat asam. Yang lebih penting, perhatikan apakah keputihan ketika cairan keputihan mengalami perubahan warna, bau, tekstur, jumlah, atau disertai gejala lain.
Referensi
American College of Obstetricians and Gynecologists, “Is It Normal to Have Vaginal Discharge?,” diakses Agustus 2026.
Deirdre E. O’Hanlon, Thomas R. Moench, and Richard A. Cone, “Vaginal pH and Microbicidal Lactic Acid When Lactobacilli Dominate the Microbiota,” PLOS ONE 8, no. 11 (2013): e80074, https://doi.org/10.1371/journal.pone.0080074.
Elizabeth A. Miller, DeAnna E. Beasley, Robert R. Dunn, and Elizabeth A. Archie, “Lactobacilli Dominance and Vaginal pH: Why Is the Human Vaginal Microbiome Unique?,” Frontiers in Microbiology 7 (2016): 1936, https://doi.org/10.3389/fmicb.2016.01936.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC), “About Bacterial Vaginosis (BV),” diakses Agustus 2026.
CDC, “About Trichomoniasis,” diakses Agustus 2026.
CDC, “Vulvovaginal Candidiasis,” STI Treatment Guidelines, diakses Agustus 2026.
CDC, “Urethritis and Cervicitis,” STI Treatment Guidelines, diakses Agustus 2026.