Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa Masalah Asam Lambung Mudah Kambuh saat Haji?
ilustrasi makanan untuk jemaah haji (Media Center Haji)
  • Ibadah haji menuntut aktivitas fisik berat, cuaca panas, dan pola makan tidak teratur yang dapat memicu kambuhnya asam lambung pada jemaah dengan riwayat GERD.
  • Faktor seperti dehidrasi, kurang tidur, stres fisik, serta perubahan jadwal makan memperburuk kerja sistem pencernaan dan meningkatkan risiko refluks asam selama haji.
  • Pencegahan dilakukan dengan menjaga pola makan teratur, cukup minum air, tidak langsung berbaring setelah makan, rutin konsumsi obat dokter, dan mengenali tanda bahaya sejak dini.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Ibadah haji membuat tubuh bekerja jauh lebih keras dibanding aktivitas sehari-hari. Contohnya, jemaah harus jalan kaki jarak jauh, menghadapi cuaca panas, kurang tidur, berdesak-desakan, hingga waktu makan menjadi tidak teratur.

Bagi orang dengan masalah asam lambung seperti GERD atau refluks asam lambung, perubahan fisik dan pola hidup mendadak ini bisa memicu kekambuhan. Akibatnya, saat menjalani rangkaian ibadah haji jemaah bisa mengalami keluhan seperti sensasi panas di dada, mual, begah, rasa asam di mulut, atau tenggorokan seperti terbakar. Jika terus berulang, ini bisa mengganggu kenyamanan, kualitas istirahat, hingga stamina selama beribadah haji.

Kenapa masalah asam lambung bisa kambuh saat haji?

Asam lambung tidak hanya dipengaruhi oleh makanan. Kondisi fisik tubuh secara keseluruhan juga sangat berpengaruh. Saat haji, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko refluks lambung.

  • Aktivitas fisik yang sangat berat

Jemaah sering berjalan jauh dalam suhu tinggi selama berjam-jam. Aktivitas fisik berat dapat meningkatkan tekanan dalam perut dan memicu refluks, terutama jika tubuh sedang lelah, dehidrasi, atau makan tidak teratur.

Selain itu, kelelahan berat juga dapat memengaruhi kerja sistem pencernaan.

  • Jadwal makan berubah

Selama haji, pola makan sering menjadi tidak teratur. Ada jemaah yang menunda makan, makan terlalu cepat, langsung tidur setelah makan, atau makan dalam porsi besar sekaligus karena takut tidak sempat makan lagi.

Masalahnya, lambung lebih sensitif terhadap perubahan pola makan mendadak. Makan dalam porsi besar dan berbaring setelah makan dapat meningkatkan risiko refluks asam.

  • Cuaca panas dan dehidrasi

Cuaca panas ekstrem dapat membuat tubuh kehilangan cairan lebih cepat.

Dehidrasi bisa menyebabkan tubuh terasa lemas, produksi air liur berkurang, dan iritasi saluran cerna terasa lebih berat. Padahal, air liurmembantu menetralkan asam di kerongkongan.

Beberapa penelitian juga menunjukkan stres panas dapat memengaruhi fungsi saluran gastrointestinal dan memperburuk keluhan pencernaan pada sebagian orang.

  • Kurang tidur dan stres fisik

Kurang tidur selama haji dapat memperburuk gejala GERD. Ini diketahui berkaitan dengan peningkatan sensitivitas nyeri, gangguan motilitas lambung, dan meningkatnya persepsi rasa tidak nyaman di dada atau ulu hati.

Selain itu, stres fisik dan emosional dapat memengaruhi komunikasi antara otak dan sistem pencernaan melalui gut-brain axis. Artinya, tubuh yang kelelahan berat memang bisa membuat gejala lambung terasa lebih intens.

Apa yang sebenarnya terjadi pada GERD?

Jemaah haji Indonesia saat melakukan wukuf di tenda Arafah, Arab Saudi. (Media Center Haji/Rochmanudin)

Pada GERD, asam lambung naik kembali ke kerongkongan karena katup antara lambung dan kerongkongan tidak bekerja optimal. Akibatnya, muncul gejala seperti:

  • Sensasi terbakar di dada (heartburn).

  • Rasa asam atau pahit di mulut.

  • Batuk kronis.

  • Suara serak.

  • Mual.

  • Perut terasa penuh.

Jika kambuh terus-menerus, refluks dapat menyebabkan iritasi pada kerongkongan. Pada kondisi berat, komplikasi seperti peradangan kerongkongan, luka, penyempitan, hingga perubahan jaringan dapat terjadi.

Siapa yang berisiko mengalami kekambuhan?

Risiko biasanya lebih tinggi pada jemaah yang:

  • Punya riwayat GERD kronis.

  • Obesitas.

  • Sering kambuh saat stres atau kelelahan.

  • Memiliki gangguan lambung sebelumnya.

  • Mengonsumsi makanan berlemak tinggi.

  • Sering minum kopi dan teh pekat berlebihan.

Usia lanjut juga dapat membuat fungsi saluran cerna dan pemulihan tubuh menjadi lebih sensitif terhadap perubahan ekstrem selama ibadah.

Cara mencegah masalah asam lambung kambuh saat haji

Masalah asam lambung sebenarnya bisa lebih terkendali jika tubuh dipersiapkan dengan baik. Beberapa langkah yang dapat membantu antara lain:

  • Jangan menunda makan terlalu lama

Makan teratur dalam porsi kecil lebih baik dibanding langsung makan besar sekaligus. Jika memungkinkan, pilih makanan lebih ringan, tidak terlalu pedas, dan tidak terlalu berminyak.

  • Minum cukup air

Dehidrasi dapat memperburuk kondisi tubuh secara keseluruhan. Minum air cukup membantu menjaga hidrasi, mendukung fungsi pencernaan, dan mengurangi iritasi tenggorokan akibat refluks.

  • Hindari langsung berbaring setelah makan

Berikan jeda sekitar 2–3 jam setelah makan sebelum tidur atau berbaring. Posisi langsung rebahan membuat asam lebih mudah naik ke kerongkongan.

  • Tetap konsumsi obat rutin

Jika dokter sudah meresepkan obat GERD, minumlah sesuai anjuran dan bawa persediaan obat yang cukup selama perjalanan.

Obat seperti proton pump inhibitor (PPI) sering diperlukan untuk menjaga produksi asam tetap terkendali.

  • Kenali tanda bahaya

Segera cari bantuan medis jika muncul nyeri dada berat, muntah darah, sulit menelan, sesak napas, atau nyeri yang terasa berbeda dari biasanya. Ini karena tidak semua nyeri dada saat haji berasal dari lambung.

Haji memang menuntut kesiapan fisik yang besar. Tubuh bekerja lebih keras dibanding aktivitas sehari-hari, termasuk sistem pencernaan. Jadi, jemaah dengan masalah asam lambung cenderung lebih rentan mengalami kekambuhan selama haji, terutama jika kelelahan, kurang tidur, mengalami dehidrasi, dan pola makannya berantakan. Namun, kondisi ini bukan berarti seseorang tidak bisa menjalankan ibadah dengan nyaman.

Dengan persiapan medis yang baik, pola makan lebih teratur, hidrasi cukup, dan pengelolaan energi yang tepat, banyak jemaah dengan GERD dan masalah asam lambung lainnya tetap dapat menjalani ibadah haji dengan aman dan lebih nyaman.

Referensi

National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. "Acid Reflux (GER & GERD) in Adults." Diakses Mei 2026.

American College of Gastroenterology. "Acid Reflux/GERD." Diakses Mei 2026.

Philip O Katz, Lauren B Gerson, and Marcelo F Vela, “Guidelines for the Diagnosis and Management of Gastroesophageal Reflux Disease,” The American Journal of Gastroenterology 108, no. 3 (February 19, 2013): 308–28, https://doi.org/10.1038/ajg.2012.444.

Fass, Ronnie. “Sleep and Gastroesophageal Reflux Disease (GERD).” International Foundation for Gastrointestinal Disorders, 2012. Diakses Mei 2026.

“Stress and the Gut: Pathophysiology, Clinical Consequences, Diagnostic Approach and Treatment Options,” PubMed, December 1, 2011, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/22314561/.

World Health Organization. "Healthy Diet Fact Sheet." Diakses Mei 2026.

Editorial Team