Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi wanita mengalami burnout (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)
  • Pengalaman buruk masa kecil dapat membentuk pola seperti sulit menolak, mengutamakan orang lain, dan mengabaikan istirahat, yang berkaitan dengan kerentanan burnout saat dewasa.

  • Sejumlah penelitian menemukan asosiasi pengalaman masa kecil, parentification, pengabaian emosional, serta kelelahan dan burnout; namun, temuan tersebut tidak membuktikan trauma sebagai penyebab langsung.

  • Mengenali pola diri, membangun batasan sehat, mengelola emosi, dan berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental bila kelelahan berulang dapat membantu proses pemulihan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah merasa sangat lelah dengan pekerjaan, sampai-sampai kehilangan semangat untuk melakukan sesuatu yang sebelumnya kamu sukai? Awalnya mungkin kamu mengira kondisi tersebut terjadi karena beban kerja yang terlalu berat atau kurangnya waktu istirahat. Namun, ada kemungkinan lain yang perlu diperhatikan, yaitu pengalaman masa kecil yang belum sepenuhnya terselesaikan.

Pengalaman tak menyenangkan saat tumbuh dewasa ternyata bisa memengaruhi cara seseorang menghadapi tekanan, mengelola emosi, hingga memperlakukan dirinya sendiri, lho. Bahkan, pola perilaku yang terbentuk sejak kecil dapat terbawa sampai dunia kerja dan membuatmu lebih rentan mengalami burnout.

Burnout memang sering dikaitkan dengan tekanan pekerjaan yang berlangsung terus-menerus. Namun, kondisi ini juga bisa dipengaruhi oleh pengalaman hidup dan pola psikologis yang terbentuk jauh sebelum kamu memasuki dunia kerja. Artinya, memahami penyebab kelelahan emosional terkadang perlu dilakukan dengan melihat kembali bagaimana kamu tumbuh dan menjalani masa kecil.

Yuk, kenali lebih jauh lima pola masa kecil yang mungkin masih memengaruhi cara kamu menghadapi tekanan dan memicu burnout saat dewasa.

1. Trauma masa kecil bisa memengaruhi cara menghadapi tekanan

ilustrasi anak kecil (pexels.com/Mikhail Nilov)

Pengalaman masa kecil memiliki peran penting dalam membentuk kepribadian dan cara seseorang merespons berbagai situasi. Ketika tumbuh dalam lingkungan yang penuh konflik, kurang mendapatkan perhatian emosional, atau mengalami perlakuan tidak menyenangkan, kamu mungkin mengembangkan cara tertentu untuk bertahan. Misalnya, berusaha selalu menyenangkan orang lain, menghindari konflik, atau merasa harus bertanggung jawab atas kebahagiaan orang-orang di sekitarmu. Kebiasaan tersebut mungkin terasa normal karena sudah dilakukan sejak kecil.

Masalahnya, pola bertahan yang terbentuk pada masa kanak-kanak bisa terbawa hingga dewasa. Kamu mungkin merasa harus selalu bekerja keras, sulit menolak permintaan orang lain, dan menganggap istirahat sebagai sesuatu yang gak produktif. Akibatnya, tekanan yang sebenarnya masih bisa dikelola orang lain terasa jauh lebih berat bagimu. Jika terus berlangsung, kebiasaan tersebut berpotensi membuatmu mengalami kelelahan emosional.

Hubungan antara pengalaman buruk masa kecil dan burnout juga ditemukan dalam penelitian yang diterbitkan di jurnal Psychological Trauma pada 2026. Penelitian terhadap 1.966 perawat perempuan di China tersebut menemukan bahwa 50,15 persen responden pernah mengalami setidaknya satu pengalaman buruk masa kecil, sedangkan 70,95 persen mengalami burnout. Setiap penambahan satu jenis pengalaman buruk masa kecil berkaitan dengan peningkatan kemungkinan mengalami burnout sebesar 30 persen. Meski demikian, penelitian ini menunjukkan hubungan atau asosiasi, bukan membuktikan bahwa trauma masa kecil menjadi penyebab langsung burnout.

2. Terbiasa mengutamakan kebutuhan orang lain sejak kecil

ilustrasi kakak adik (unsplash.com/Kevin Gent)

Pernah merasa bertanggung jawab atas perasaan orang lain, bahkan ketika sebenarnya kamu sedang tidak baik-baik saja? Bisa jadi kebiasaan tersebut berkaitan dengan pengalaman masa kecil ketika kamu harus mengambil tanggung jawab yang seharusnya menjadi tugas orang dewasa. Dalam psikologi, kondisi ketika anak mengambil peran dan tanggung jawab orang dewasa dalam keluarga dikenal sebagai parentification. Contohnya, anak harus mengurus adik, menjadi tempat curhat orangtua, atau berusaha menjaga kondisi emosional keluarga.

Pengalaman tersebut dapat membuatmu terbiasa mengesampingkan kebutuhan pribadi demi membantu orang lain. Ketika dewasa, kamu mungkin kesulitan mengatakan tidak karena takut mengecewakan orang-orang di sekitarmu. Kamu juga bisa merasa bersalah saat menolak pekerjaan tambahan, gak memenuhi permintaan teman, atau memilih beristirahat daripada membantu keluarga. Tanpa disadari, energi emosionalmu terus terkuras karena terlalu sering memprioritaskan orang lain.

Penelitian dalam jurnal BMC Psychology pada 2026 terhadap 448 mahasiswa di Turki menemukan bahwa pengalaman parentification yang berorientasi pada kebutuhan orangtua berkaitan dengan gejala depresi dan kecemasan. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa pola hubungan interpersonal berperan dalam menjelaskan keterkaitan tersebut. Temuan ini memperlihatkan bahwa kebiasaan memikul tanggung jawab keluarga sejak kecil dapat memiliki konsekuensi psikologis ketika seseorang beranjak dewasa.

3. Terbiasa menekan emosi dan merasa harus selalu kuat

ilustrasi anak kecil murung (pexels.com/Jordane Maldaner)

Pengalaman masa kecil yang sulit terkadang membuat seseorang belajar menyembunyikan perasaannya. Misalnya, ketika kamu tumbuh dalam keluarga yang kurang memberikan ruang untuk mengekspresikan emosi, kamu mungkin terbiasa memendam kesedihan supaya gak menambah masalah. Kamu juga bisa mengembangkan kebiasaan menyelesaikan segala sesuatu dengan berpikir logis tanpa benar-benar memahami apa yang sedang dirasakan. Lama-kelamaan, mengenali dan mengungkapkan emosi sendiri menjadi sesuatu yang terasa sulit.

Pola tersebut bisa terbawa ke lingkungan pekerjaan. Ketika menghadapi tekanan, kamu memilih tetap bekerja, mengabaikan rasa lelah, dan meyakinkan diri bahwa semuanya baik-baik saja. Bahkan, kamu mungkin baru menyadari sudah terlalu kelelahan setelah kehilangan motivasi, mudah tersinggung, atau merasa gak memiliki energi untuk berinteraksi dengan orang lain. Padahal, emosi yang terus ditekan gak serta-merta menghilangkan tekanan yang sedang kamu alami, lho.

Hubungan antara pengalaman masa kecil dan kelelahan saat dewasa juga diteliti dalam Journal of Child & Adolescent Trauma pada April 2026. Penelitian percontohan tersebut melibatkan 38 pasien dengan kelelahan akibat stres dan 33 orang sebagai kelompok pembanding. Hasilnya menunjukkan bahwa pengabaian emosional dan kekerasan emosional pada masa kanak-kanak berkaitan dengan tingkat kelelahan yang lebih tinggi. Namun, penelitian ini masih melibatkan jumlah responden terbatas sehingga temuannya perlu dikonfirmasi melalui penelitian yang lebih besar.

4. Burnout bisa muncul di berbagai aspek kehidupan

ilustrasi pasangan bertengkar (magnific.com/Drazen Zigic)

Salah satu hal yang perlu dipahami adalah burnout yang berkaitan dengan pola psikologis masa kecil gak selalu terbatas pada pekerjaan. Kamu mungkin tetap merasa kelelahan ketika berada di rumah, mengurus keluarga, menjalin pertemanan, atau menjalani hubungan romantis. Bahkan, ketika sedang gak memiliki banyak pekerjaan, pikiranmu masih dipenuhi berbagai tanggung jawab yang seolah tak ada habisnya. Kondisi ini bisa terjadi karena kebiasaan mengorbankan kebutuhan diri sudah terbentuk jauh sebelum kamu mengenal dunia kerja.

Psikolog Ahona Guha pernah menceritakan pengalaman kliennya, seorang psikolog bernama Mira, yang awalnya datang untuk mengatasi burnout dalam pekerjaan. Setelah ditelusuri lebih jauh, Mira ternyata memiliki kebiasaan mengutamakan kebutuhan orang lain sejak kecil. Ketika ibunya mengalami depresi dan menarik diri dari keluarga selama berbulan-bulan, Mira merasa harus membantu ibunya pulih dengan menjadi anak yang selalu baik dan membantu. Tanggung jawab emosional tersebut kemudian terbawa hingga dewasa dan memengaruhi pekerjaannya, pola asuh, pertemanan, serta hubungan dengan keluarga.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Teaching and Teacher Education pada 2021 juga menemukan hubungan antara pengalaman buruk masa kecil, karakter kepribadian, dan burnout pada 207 pendidik anak usia dini di Amerika Serikat. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa sifat neurotisisme dan keterbukaan berperan sebagai perantara dalam hubungan antara pengalaman masa kecil dan burnout terkait pekerjaan. Temuan ini memperlihatkan bahwa pengalaman masa kecil dapat berkaitan dengan cara seseorang membentuk kepribadian dan menghadapi tuntutan pekerjaan ketika dewasa.

5. Memahami pola masa kecil bisa membantu proses pemulihan

ilustrasi tersenyum bahagia (magnific.com/magnific)

Kalau kamu merasa memiliki beberapa pola tersebut, langkah pertama yang bisa dilakukan adalah mulai mengenali kebiasaan yang selama ini dianggap normal. Coba perhatikan apakah kamu sering merasa bersalah ketika menolak permintaan orang lain, sulit beristirahat, atau merasa harus menyelesaikan semua masalah sendirian. Kamu juga bisa mengamati apakah kebiasaan tersebut muncul karena kebutuhan pribadi atau ketakutan mengecewakan orang lain. Mengenali pola ini bisa membantumu memahami alasan di balik perilaku yang selama ini sulit diubah.

Selanjutnya, mulailah membangun batasan yang lebih sehat dalam kehidupan sehari-hari. Kamu gak harus selalu menyanggupi setiap permintaan, mengambil tanggung jawab yang bukan milikmu, atau mengorbankan waktu istirahat demi memenuhi ekspektasi orang lain. Belajar mengatakan tidak memang mungkin terasa gak nyaman pada awalnya, terutama jika selama bertahun-tahun telah terbiasa menyenangkan orang lain. Namun, memberikan ruang untuk kebutuhan diri sendiri merupakan bagian penting dari menjaga kesehatan emosional.

Penelitian dalam jurnal Primary Health Care Research & Development pada 2026 terhadap 67 tenaga kesehatan di Amerika Serikat menemukan bahwa ketahanan psikologis atau resilience berkaitan dengan tingkat burnout yang lebih rendah. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa hubungan antara pengalaman buruk masa kecil dan burnout gak signifikan pada responden dengan tingkat resilience tinggi. Artinya, kemampuan beradaptasi dan bangkit setelah menghadapi tekanan berpotensi membantu mengurangi kerentanan terhadap burnout. Meski begitu, membangun resilience bukan berarti kamu harus terus bertahan dalam lingkungan kerja yang gak sehat, ya.

Jika pola kelelahan terus berulang dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga profesional kesehatan mental bisa menjadi pilihan. Kamu dapat mengeksplorasi pengalaman masa kecil, memahami pola perilaku yang terbentuk, sekaligus mempelajari cara mengelola emosi dengan lebih sehat. Prosesnya mungkin membutuhkan waktu, tapi kamu gak harus menyelesaikan semuanya sendirian.

Burnout memang bisa dipengaruhi oleh beban pekerjaan, lingkungan yang gak sehat, dan kurangnya waktu istirahat. Namun, pengalaman masa kecil juga patut diperhatikan, terutama jika kamu memiliki kebiasaan mengorbankan kebutuhan sendiri, sulit mengekspresikan emosi, atau merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan orang lain. Memahami pola tersebut bukan berarti menyalahkan masa lalu atau orangtua atas semua kesulitan yang kamu alami sekarang. Sebaliknya, ini bisa menjadi langkah awal untuk mengenali kebutuhan diri, membangun batasan yang sehat, dan menjalani kehidupan dengan lebih seimbang.

Referensi

“When Burnout Isn’t Really About Work.” Psychology Today. Diakses November 2026.

“Association between adverse childhood experiences and burnout among Chinese female nurses.” Psychological Trauma. Diakses November 2026.

“Is Childhood Trauma Related to Stress-related Exhaustion in Adulthood? A Pilot Study Based on a Consecutive Clinical Sample of Patients with Stress-related Exhaustion.” Journal of Child & Adolescent Trauma. Diakses November 2026.

“When caring becomes a burden: childhood parentification and its links to relationship styles, depression, and anxiety in young adults.” BMC Psychology. Diakses November 2026.

“Adverse childhood experiences and burnout among health care providers in primary care: the moderating role of resilience.” Primary Health Care Research & Development. Diakses November 2026.

“An examination of the relationships between adverse childhood experiences, personality traits, and job-related burnout in early childhood educators.” Teaching and Teacher Education. Diakses November 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article