ilustrasi tersenyum bahagia (magnific.com/magnific)
Kalau kamu merasa memiliki beberapa pola tersebut, langkah pertama yang bisa dilakukan adalah mulai mengenali kebiasaan yang selama ini dianggap normal. Coba perhatikan apakah kamu sering merasa bersalah ketika menolak permintaan orang lain, sulit beristirahat, atau merasa harus menyelesaikan semua masalah sendirian. Kamu juga bisa mengamati apakah kebiasaan tersebut muncul karena kebutuhan pribadi atau ketakutan mengecewakan orang lain. Mengenali pola ini bisa membantumu memahami alasan di balik perilaku yang selama ini sulit diubah.
Selanjutnya, mulailah membangun batasan yang lebih sehat dalam kehidupan sehari-hari. Kamu gak harus selalu menyanggupi setiap permintaan, mengambil tanggung jawab yang bukan milikmu, atau mengorbankan waktu istirahat demi memenuhi ekspektasi orang lain. Belajar mengatakan tidak memang mungkin terasa gak nyaman pada awalnya, terutama jika selama bertahun-tahun telah terbiasa menyenangkan orang lain. Namun, memberikan ruang untuk kebutuhan diri sendiri merupakan bagian penting dari menjaga kesehatan emosional.
Penelitian dalam jurnal Primary Health Care Research & Development pada 2026 terhadap 67 tenaga kesehatan di Amerika Serikat menemukan bahwa ketahanan psikologis atau resilience berkaitan dengan tingkat burnout yang lebih rendah. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa hubungan antara pengalaman buruk masa kecil dan burnout gak signifikan pada responden dengan tingkat resilience tinggi. Artinya, kemampuan beradaptasi dan bangkit setelah menghadapi tekanan berpotensi membantu mengurangi kerentanan terhadap burnout. Meski begitu, membangun resilience bukan berarti kamu harus terus bertahan dalam lingkungan kerja yang gak sehat, ya.
Jika pola kelelahan terus berulang dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga profesional kesehatan mental bisa menjadi pilihan. Kamu dapat mengeksplorasi pengalaman masa kecil, memahami pola perilaku yang terbentuk, sekaligus mempelajari cara mengelola emosi dengan lebih sehat. Prosesnya mungkin membutuhkan waktu, tapi kamu gak harus menyelesaikan semuanya sendirian.
Burnout memang bisa dipengaruhi oleh beban pekerjaan, lingkungan yang gak sehat, dan kurangnya waktu istirahat. Namun, pengalaman masa kecil juga patut diperhatikan, terutama jika kamu memiliki kebiasaan mengorbankan kebutuhan sendiri, sulit mengekspresikan emosi, atau merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan orang lain. Memahami pola tersebut bukan berarti menyalahkan masa lalu atau orangtua atas semua kesulitan yang kamu alami sekarang. Sebaliknya, ini bisa menjadi langkah awal untuk mengenali kebutuhan diri, membangun batasan yang sehat, dan menjalani kehidupan dengan lebih seimbang.
Referensi
“When Burnout Isn’t Really About Work.” Psychology Today. Diakses November 2026.
“Association between adverse childhood experiences and burnout among Chinese female nurses.” Psychological Trauma. Diakses November 2026.
“Is Childhood Trauma Related to Stress-related Exhaustion in Adulthood? A Pilot Study Based on a Consecutive Clinical Sample of Patients with Stress-related Exhaustion.” Journal of Child & Adolescent Trauma. Diakses November 2026.
“When caring becomes a burden: childhood parentification and its links to relationship styles, depression, and anxiety in young adults.” BMC Psychology. Diakses November 2026.
“Adverse childhood experiences and burnout among health care providers in primary care: the moderating role of resilience.” Primary Health Care Research & Development. Diakses November 2026.
“An examination of the relationships between adverse childhood experiences, personality traits, and job-related burnout in early childhood educators.” Teaching and Teacher Education. Diakses November 2026.