Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Sering Cabut Kumis atau Janggut, Apa Risikonya?

Sering Cabut Kumis atau Janggut, Apa Risikonya?
ilustrasi mencabut kumis dengan pinset (magnific.com/drobotdean)
Intinya Sih
  • Sering mencabut kumis atau janggut bisa memicu iritasi, rambut tumbuh ke dalam, dan peradangan folikel rambut.

  • Risiko lebih besar pada orang dengan rambut wajah yang tebal, kasar, atau keriting.

  • Jika muncul benjolan bernanah, nyeri, bengkak, bekas kehitaman, atau kebiasaan mencabut sulit dikendalikan, sebaiknya periksa ke dokter.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Mencabut satu atau dua helai kumis atau janggut rasanya sepele, ya? Ada yang melakukannya karena merasa terganggu dengan rambut yang tumbuh tidak rata, ada juga yang mencabutnya sambil melamun saat stres atau bosan.

Sesekali mencabut rambut wajah biasanya bukan masalah besar. Namun, kalau dilakukan terlalu sering, terlalu kasar, atau memakai alat yang tidak bersih, kulit di area kumis dan janggut bisa mengalami kemerahan, perih, muncul benjolan kecil, rambut tumbuh ke dalam, sampai infeksi folikel rambut.

Area wajah itu cukup sensitif. Kulit di sekitar kumis, dagu, rahang, dan leher sering mengalami gesekan, terpapar produk perawatan, dicukur, disentuh tangan, lalu dicabut lagi. Kombinasi ini membuat keluhan kecil bisa berulang.

Table of Content

1. Rambut bisa tumbuh ke dalam

1. Rambut bisa tumbuh ke dalam

Salah satu risiko yang paling sering terjadi adalah ingrown hair atau rambut tumbuh ke dalam. Ini terjadi ketika rambut yang sudah dicabut tumbuh kembali, tetapi arahnya melengkung masuk ke kulit, bukan keluar ke permukaan.

Akibatnya, kulit dapat meradang dan muncul benjolan kecil seperti jerawat. Benjolan ini bisa terasa gatal, nyeri, kemerahan, lebih gelap dari kulit sekitar, atau berisi nanah.

Risiko ini lebih besar pada orang dengan rambut wajah yang tebal, kasar, atau keriting. Rambut yang melengkung lebih mudah kembali menusuk kulit saat tumbuh. Itu sebabnya area janggut, leher, dan bawah rahang sering menjadi lokasi yang rentan.

2. Folikel rambut bisa meradang atau terinfeksi

Setiap helai kumis dan janggut tumbuh dari folikel rambut. Saat rambut dicabut, folikel bisa mengalami trauma kecil. Jika kulit sedang kotor, alat tidak steril, atau area tersebut sering disentuh dan digaruk, folikel dapat meradang atau terinfeksi.

Kondisi ini dikenal sebagai folikulitis. Pada area janggut, folikulitis bisa muncul sebagai bintil merah, gatal, nyeri, atau benjolan bernanah di sekitar akar rambut.

Dalam beberapa kasus, infeksi yang lebih dalam dapat menimbulkan abses, jaringan parut, atau area rambut yang tidak tumbuh kembali dengan baik.

Itulah kenapa mencabut rambut yang sedang meradang justru bisa memperburuk masalah. Benjolan yang dipencet, digaruk, atau “digali” dengan pinset dapat membuat luka makin dalam dan lebih mudah terinfeksi.

3. Bisa meninggalkan bekas kehitaman atau jaringan parut

Seorang pria dengan janggut abu-abu sedang menyisir janggutnya menggunakan sisir hitam untuk merapikan penampilan wajah.
Ilustrasi merapikan janggut (pexels.com/Alena Darmel)

Kulit yang berulang kali meradang sering meninggalkan bekas. Pada sebagian orang, terutama yang kulitnya mudah mengalami hiperpigmentasi, bekas ini dapat terlihat sebagai noda cokelat atau kehitaman setelah benjolan sembuh.

Jika peradangan cukup berat atau sering terjadi di tempat yang sama, risiko jaringan parut meningkat. Pada orang yang rentan keloid, luka kecil di area folikel pun bisa berkembang menjadi bekas menonjol.

4. Kulit bisa makin iritasi

Mencabut rambut berarti menarik paksa rambut dari akarnya. Tarikan ini bisa membuat kulit terasa perih, kemerahan, bengkak ringan, atau sensitif, apalagi bila dilakukan berulang di area yang sama.

Iritasi juga lebih mudah muncul jika kulit sedang kering, baru dicukur, memakai produk aktif yang cukup kuat, atau terkena gesekan masker dan kerah baju.

Kalau kulit sudah memberi tanda seperti panas, nyeri, atau muncul bintil, sebaiknya hentikan dulu kebiasaan mencabut rambut. Beri waktu kulit untuk pulih.

5. Bisa menjadi kebiasaan yang sulit dikendalikan

Ada juga situasi ketika mencabut kumis atau janggut merupakan sebuah gangguan mental. Jika kamu merasa terus terdorong mencabut rambut, sulit berhenti walau sudah mencoba, merasa lega setelah mencabut, atau sampai muncul area rambut yang menipis, ini bisa berkaitan dengan trichotillomania atau gangguan mencabut rambut.

Trichotillomania termasuk gangguan kesehatan mental yang dapat dipicu oleh stres, bosan, tegang, atau dorongan berulang yang sulit dikendalikan.

Kalau mencabut rambut mulai mengganggu penampilan, membuat malu, menimbulkan luka, atau sulit dihentikan, bantuan profesional akan sangat membantu.

Apa yang lebih aman dilakukan?

Seorang pria berjanggut mengenakan kaus putih sedang melihat wajahnya di cermin kamar mandi dengan ekspresi serius.
ilustrasi cowok berjanggut (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Kalau tujuanmu hanya merapikan kumis atau janggut, mencukur atau memangkas dengan trimmer biasanya lebih aman daripada sering mencabut helai demi helai. Hindari mencukur terlalu dekat dengan kulit, terutama jika kamu mudah mengalami rambut tumbuh ke dalam.

Beberapa langkah yang bisa membantu:

  • Bersihkan wajah sebelum merapikan rambut.
  • Gunakan alat yang bersih.
  • Jangan mencabut rambut dari area yang sedang merah, bengkak, bernanah, atau nyeri.
  • Jangan memencet atau mengorek benjolan rambut tumbuh ke dalam.
  • Jika bercukur, gunakan gel atau krim cukur, cukur searah tumbuhnya rambut, dan hindari menarik kulit terlalu kencang.
  • Pertimbangkan trimmer elektrik bila kulit mudah iritasi.
  • Jika masalah berulang, konsultasikan dengan dokter kulit untuk opsi lain, termasuk obat oles atau prosedur seperti laser hair removal jika sesuai.

Segera periksa jika muncul benjolan yang makin nyeri, bengkak, terasa panas, bernanah, menyebar, disertai demam, atau tidak membaik.

Periksa juga bila sering muncul rambut tumbuh ke dalam, bekas kehitaman, jaringan parut, atau area janggut mulai tampak botak tidak rata.

Mencabut kumis atau janggut memang terlihat sederhana, tetapi kulit tetap punya batas. Kalau ingin rapi, pilih cara yang paling minim trauma untuk kulit.

Referensi

Mayo Clinic Staff. “Ingrown Hair: Symptoms and Causes.” Diakses Juni 2026.

DermNet. “Pseudofolliculitis Barbae.” Diakses Juni 2026.

DermNet. “Folliculitis Barbae.” Diakses Juni 2026.

National Health Service. “Ingrown Hairs.” Diakses Juni 2026.

Ogunbiyi, Adebola. “Pseudofolliculitis Barbae; Current Treatment Options.” Clinical, Cosmetic and Investigational Dermatology 12 (2019): 241–247.

American Academy of Dermatology Association. “6 Ways to Remove Unwanted Hair.” Last updated September 7, 2023.

Canadian Dermatology Association. “Ingrown Hair.” Diakses Juni 2026.

Mayo Clinic Staff. “Trichotillomania (Hair-Pulling Disorder): Symptoms and Causes.” Diakses Juni 2026.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F

Related Articles

See More