Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

4 Kondisi yang Membuat Vasektomi Perlu Ditunda

4 min read
4 Kondisi yang Membuat Vasektomi Perlu Ditunda
ilustrasi berbicara dengan pasangan (magnific.com/magnific)
  • Vasektomi sebaiknya ditunda jika seseorang belum yakin karena prosedur ini dirancang sebagai kontrasepsi permanen.

  • Infeksi atau nyeri pada skrotum, gangguan perdarahan, dan kondisi anatomi tertentu perlu ditangani atau dievaluasi lebih dulu.

  • Usia muda atau belum memiliki anak bukan alasan otomatis untuk menolak vasektomi; yang paling penting adalah keputusan yang sukarela dan matang.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Vasektomi merupakan prosedur untuk mencegah kehamilan dengan memutus atau menutup saluran sperma. Tindakan ini umumnya aman, tetapi dirancang sebagai kontrasepsi permanen. Keputusan menjalani vasektomi perlu mempertimbangkan kesiapan fisik sekaligus kepastian seseorang terhadap rencana memiliki anak di masa depan.

Menunda bukan berarti seseorang tidak boleh menjalani vasektomi. Dalam banyak situasi, penundaan dilakukan agar masalah kesehatan atau keraguan dapat ditangani terlebih dahulu.

  1. 1. Orang yang masih ragu terhadap keputusan permanen

    Vasektomi sebaiknya ditunda jika seseorang masih mungkin ingin memiliki anak biologis di masa depan, berharap prosedur dapat dibalik dengan mudah, atau mengambil keputusan karena tekanan pasangan, keluarga, maupun lingkungan.

    Keputusan juga perlu dipikirkan kembali jika muncul di tengah masalah yang sifatnya sementara, seperti konflik rumah tangga, tekanan keuangan, kehilangan pekerjaan, atau gangguan kesehatan fisik dan mental yang sedang berlangsung. Vasektomi perlu dilakukan secara sukarela, bukan sebagai respons terhadap tekanan atau situasi sesaat.

    Konsultasi bukan hanya untuk menjelaskan prosedurnya, tetapi juga untuk memastikan pasien memahami bahwa pemulihan kesuburan setelah vasektomi tidak selalu berhasil.

    Jika masih ada keraguan, menggunakan kontrasepsi jangka panjang yang tidak permanen dapat menjadi pilihan sementara.

  2. 2. Orang yang mengalami infeksi atau nyeri pada skrotum

    Infeksi kulit skrotum, peradangan, luka, atau pembengkakan di area yang akan dioperasi perlu ditangani sebelum vasektomi. Prosedur elektif pada jaringan yang sedang mengalami infeksi dapat meningkatkan risiko masalah setelah tindakan.

    Nyeri testis atau skrotum yang belum diketahui penyebabnya juga perlu diperiksa lebih dulu. Vasektomi tidak ditujukan untuk mengatasi nyeri dan pada sebagian orang dapat diikuti nyeri skrotum yang menetap. Karena itu, orang dengan nyeri testis yang terus berlangsung atau penyakit testis perlu menjalani evaluasi sebelum menentukan apakah vasektomi sesuai.

    Nyeri skrotum merupakan salah satu kondisi yang memerlukan pertimbangan khusus, bukan alasan mutlak larangan vasektomi.

  3. 3. Orang dengan risiko perdarahan atau riwayat operasi skrotum

    Ilustrasi pasangan duduk bersama berkonsultasi dengan tenaga medis untuk mempersiapkan prosedur vasektomi.
    ilustrasi pasangan berkonsultasi sebagai persiapan vasektomi (magnific.com/yanalya)

    Pasien dengan gangguan pembekuan darah atau yang mengonsumsi obat pengencer darah perlu memberi tahu dokter sebelum menjalani vasektomi. Obat tersebut tidak boleh dihentikan sendiri karena keputusan menghentikan atau mengatur ulang dosis bergantung pada alasan penggunaannya dan risiko pembekuan darah. Pada kondisi tertentu, dokter dapat meminta pemeriksaan tambahan atau menyesuaikan rencana tindakan.

    Riwayat operasi di skrotum, jaringan parut, kelainan anatomi, atau saluran sperma yang sulit diraba juga dapat membuat prosedur lebih kompleks. Dalam situasi seperti ini, pasien mungkin memerlukan konsultasi dengan dokter urologi atau tindakan di fasilitas yang lebih lengkap.

  4. 4. Orang yang belum siap menjalani pemeriksaan setelah prosedur

    Vasektomi tidak langsung membuat seseorang steril. Sperma masih dapat berada di saluran reproduksi selama beberapa waktu setelah tindakan. Pasangan tetap perlu menggunakan kontrasepsi sampai pemeriksaan analisis air mani menunjukkan vasektomi telah berhasil.

    Jadi, orang yang tidak dapat atau belum bersedia menjalani pemeriksaan air mani setelah operasi sebaiknya membicarakannya kembali dengan dokter. Pemeriksaan tersebut merupakan bagian penting untuk memastikan prosedur berhasil, bukan cuma pemeriksaan tambahan yang tidak perlu.

  5. Bagaimana dengan pria muda atau yang belum memiliki anak?

    Usia muda, status lajang, atau belum memiliki anak seharusnya tidak menjadi alasan mutlak untuk dokter menolak vasektomi. Penelitian pada pria tanpa anak biologis juga tidak menemukan bahwa kelompok ini memiliki tingkat penyesalan lebih tinggi dalam masa tindak lanjut tujuh tahun.

    Meski demikian, kondisi tersebut bisa menjadi alasan bagi dokter untuk memberikan konseling yang lebih mendalam mengenai sifat permanen vasektomi, kemungkinan perubahan keinginan di masa depan, serta pilihan penyimpanan sperma jika diperlukan.

    Intinya, vasektomi sebaiknya ditunda ketika keputusan belum benar-benar mantap, ada masalah kesehatan yang belum ditangani, atau pasien belum siap mengikuti proses pemantauan setelah tindakan. Penentuan akhirnya perlu dilakukan bersama dokter setelah menilai kondisi medis dan tujuan reproduksi pasien.

    Referensi

    Peter N. Schlegel et al., “Vasectomy: AUA Guideline (2026) Part I,” Journal of Urology 215, no. 3 (2026): 240–249, https://doi.org/10.1097/JU.0000000000004861.

    Gert R. Dohle et al., “European Association of Urology Guidelines on Vasectomy,” European Urology 61, no. 1 (2012): 159–163, https://doi.org/10.1016/j.eururo.2011.10.001.

    Schlegel et al., “Vasectomy: AUA Guideline (2026) Part I.” Diakses September 2026.

    Ira D. Sharlip et al., “Vasectomy: AUA Guideline,” Journal of Urology 188, no. 6 (2012): 2482–2491, https://doi.org/10.1016/j.juro.2012.09.080.

    Andrew H. Lee et al., “Vasectomy in Men without Children: Demographics and Family Planning Attitudes from the National Survey for Family Growth,” Urology Practice 10, no. 5 (2023): 415–420, https://doi.org/10.1097/UPJ.0000000000000150.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More