Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Rekomendasi Urutan Latihan untuk Orang dengan Obesitas

4 min read
Rekomendasi Urutan Latihan untuk Orang dengan Obesitas
ilustrasi latihan kardio dengan sepeda statis di gym (vecteezy.com/Hendy William Sino)
  • Tidak ada satu urutan latihan yang berlaku untuk semua orang dengan obesitas.

  • Jika ingin memprioritaskan kekuatan dan massa otot, latihan beban dapat dilakukan sebelum kardio.

  • Penurunan berat badan lebih dipengaruhi oleh konsistensi, total aktivitas, pola makan, dan kondisi kesehatan daripada urutan latihan semata.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Di gym, urutan latihan mungkin tidak terlalu diperhatikan. Padahal, bagi orang dengan obesitas, urutan yang benar dapat membantu menjaga energi, mengurangi beban pada sendi, dan membuat latihan lebih nyaman.

Pilihan urutan latihan sebaiknya disesuaikan dengan tujuan. Jika ingin meningkatkan kekuatan dan mempertahankan massa otot saat menurunkan berat badan, latihan beban dapat dilakukan terlebih dahulu, lalu dilanjutkan dengan kardio. Sebaliknya, jika fokusnya meningkatkan kebugaran jantung dan paru, kardio sebaiknya dilakukan saat kondisi tubuh masih segar. Meski demikian, urutan latihan bukan faktor utama. Berikut ini penjelasannya.

  1. Latihan beban dulu bisa menjadi pilihan, kenapa?

    Latihan beban butuh tenaga dan konsentrasi untuk menjaga teknik gerakan. Jika dilakukan setelah kardio yang cukup berat, tubuh mungkin sudah lelah sehingga kualitas gerakan dan kemampuan mengangkat beban menurun.

    Bagi orang dengan obesitas yang ingin mengurangi lemak sambil menjaga otot, latihan beban lebih dulu dapat membantu memprioritaskan tujuan tersebut.

    Latihan kekuatan juga bermanfaat untuk mempertahankan massa bebas lemak selama proses penurunan berat badan.

    Dalam rekomendasi European Association for the Study of Obesity (EASO), latihan aerobik intensitas sedang lebih diprioritaskan untuk membantu mengurangi berat badan, total lemak, dan lemak viseral. Sementara itu, latihan beban intensitas sedang hingga tinggi dianjurkan untuk mempertahankan massa otot.

    Jadi, kombinasi keduanya tetap penting. Urutannya bisa kamu sesuaikan dengan bagian yang ingin lebih diutamakan.

  2. Kata penelitian tentang urutan latihan

    Seorang pria berlatih kardio di dalam ruangan dengan rowing machine, menarik pegangan sambil duduk di alat olahraga.
    ilustrasi latihan kardio menggunakan rowing machine (pexels.com/Andres Ayrton)

    Sebuah uji acak terkontrol yang diterbitkan pada tahun 2025 melibatkan 45 laki-laki muda dengan obesitas. Peserta dibagi menjadi kelompok yang melakukan latihan beban sebelum kardio, kelompok kardio sebelum beban, dan kelompok kontrol.

    Setelah 12 minggu, kedua kelompok latihan mengalami perbaikan pada komposisi tubuh, kebugaran, kekuatan otot, dan kebugaran kardiorespirasi. Namun, kelompok yang melakukan latihan beban sebelum kardio menunjukkan perbaikan lebih besar pada aktivitas fisik harian, massa lemak, persentase lemak tubuh, serta kekuatan otot.

    Meski demikian, temuan studi tersebut tidak berlaku untuk semua orang. Pasalnya, partisipannya sedikit, semuanya laki-laki muda, dan tidak memiliki penyakit kardiovaskular berat. Jadi, sebaiknya jadikan itu petunjuk bahwa latihan beban lebih dulu bisa bermanfaat bagi tujuan tertentu.

    Metaanalisis lain yang mencakup puluhan studi juga menemukan bahwa latihan aerobik dan beban secara bersamaan tidak menghambat peningkatan kekuatan maksimal atau massa otot. Namun, peningkatan kekuatan eksplosif bisa sedikit berkurang apabila kedua latihan dilakukan dalam satu sesi dengan jeda sangat singkat.

  3. Bagaimana menyusun latihannya?

    Apabila tujuan utama adalah menurunkan lemak sekaligus menjaga otot, susunan latihan berikut mungkin bisa membantu:

    1. Pemanasan ringan.
    2. Latihan beban dengan gerakan yang sesuai kemampuan.
    3. Kardio intensitas ringan hingga sedang, seperti berjalan, bersepeda, atau berenang.
    4. Pendinginan.

    Jika tujuan utamanya meningkatkan kemampuan berlari, bersepeda, atau daya tahan jantung, kardio dapat dilakukan lebih dulu. Latihan beban kemudian menjadi bagian kedua dalam sesi tersebut.

    Kalau kamu baru mulai berolahraga, tidak perlu langsung melakukan latihan intensitas tinggi. EASO merekomendasikan latihan intensitas tinggi hanya setelah risiko kardiovaskular dinilai dan, jika perlu, dilakukan dengan pengawasan tenaga profesional.

    Jika ada nyeri lutut, penyakit jantung, tekanan darah yang belum terkontrol, diabetes, atau keluhan sesak saat beraktivitas, jenis dan intensitas latihan sebaiknya dibicarakan lebih dulu dengan dokter atau fisioterapis.

    Intinya, urutan terbaik adalah urutan yang sesuai dengan tujuan, kondisi tubuh, dan bisa kamu lakukan secara konsisten. Bagi banyak orang dengan obesitas, menggabungkan latihan beban dan kardio secara bertahap lebih disarankan daripada mencari satu urutan yang dianggap paling sempurna.

    Referensi

    World Health Organization, “Physical Activity,” diakses September 2026.

    Jean-Michel Oppert et al., “Exercise Training in the Management of Overweight and Obesity in Adults: Synthesis of the Evidence and Recommendations from the European Association for the Study of Obesity Physical Activity Working Group,” Obesity Reviews 22, suppl. 4 (2021): e13273, https://doi.org/10.1111/obr.13273.

    Zhen Li et al., “Impact of Sequence in Concurrent Training on Physical Activity, Body Composition, and Fitness in Obese Young Males: A 12-Week Randomized Controlled Trial,” Journal of Exercise Science & Fitness 23, no. 2 (2025): 112–121, https://doi.org/10.1016/j.jesf.2025.02.001.

    Moritz Schumann et al., “Compatibility of Concurrent Aerobic and Strength Training for Skeletal Muscle Size and Function: An Updated Systematic Review and Meta-Analysis,” Sports Medicine 52, no. 3 (2022): 601–612, https://doi.org/10.1007/s40279-021-01587-7.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More