Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Studi: Mencium Aroma Dark Chocolate Bantu Leg Day Ekstra 18 Repetisi

4 min read
Studi: Mencium Aroma Dark Chocolate Bantu Leg Day Ekstra 18 Repetisi
ilustrasi latihan kaki dengan mesin leg extension (unsplash.com/Valery Sysoev)
  • Pria yang mencium aroma cokelat hitam menyelesaikan 18 repetisi lebih banyak dalam latihan leg extension.

  • Efek terlihat setelah puasa semalaman dan terjadi tanpa mengonsumsi cokelat.

  • Hasil penelitian masih awal dan belum membuktikan bahwa aroma cokelat dapat meningkatkan performa semua jenis latihan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Dalam kondisi belum makan selama 10–11 jam, rasa lapar tentu dapat memengaruhi latihan. Fokus berkurang, energi tak banyak atau cepat habis, dan keinginan untuk berhenti berolahraga bisa muncul lebih cepat. Namun, sebuah studi terbaru menemukan aroma tertentu mungkin memengaruhi pengalaman tersebut.

Dalam penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Physiology, mencium aroma dark chocolate atau cokelat hitam dikaitkan dengan tambahan 18 repetisi dalam sesi latihan kaki. Namun, tambahan tersebut merupakan jumlah keseluruhan repetisi dari beberapa set, bukan 18 repetisi dalam satu set.

  1. Penelitian melibatkan 23 pria yang rutin latihan

    Studi ini melibatkan 23 pria sehat berusia sekitar 23 tahun. Mereka telah melakukan latihan beban sedikitnya dua kali seminggu selama minimal dua tahun.

    Para peserta mengikuti tiga sesi percobaan dalam urutan yang diacak. Setiap sesi dilakukan setelah puasa sekitar 10–11 jam. Sebelum latihan, mereka mencium salah satu dari tiga aroma dalam wadah khusus:

    • Cokelat hitam dengan kandungan kakao 90 persen.
    • Cokelat susu dengan kandungan cokelat 60 persen.
    • Larutan kontrol berbasis air tanpa aroma cokelat.

    Peserta tidak mengonsumsi cokelat tersebut. Mereka hanya mencium aromanya selama sekitar 30 detik sebelum latihan dan di antara waktu istirahat setiap set.

    Setelah itu, peserta melakukan leg extension dengan beban 80 persen dari kemampuan maksimal untuk 10 repetisi. Mereka mengulang set dengan jeda istirahat 3,5 menit sampai tidak sanggup melanjutkan.

  2. Aroma cokelat hitam menekan rasa lapar

    Seorang pria melakukan latihan kaki menggunakan mesin beban di gym dengan latar peralatan kebugaran.
    ilustrasi latihan kaki di gym (pexels.com/Wendell Stoyer)

    Hasilnya, peserta menyelesaikan rata-rata 18 repetisi lebih banyak setelah mencium aroma cokelat hitam dibandingkan aroma kontrol. Mereka juga menyelesaikan sekitar satu set tambahan.

    Aroma cokelat susu turut dikaitkan dengan peningkatan performa, tetapi selisihnya lebih kecil, yakni sekitar 9 repetisi dibandingkan kontrol. Menariknya, peserta tidak melaporkan tingkat rasa lelah yang lebih rendah. Skor persepsi usaha tetap meningkat dari set ke set dan tidak menunjukkan perbedaan bermakna antar aroma.

    Perbedaan yang lebih jelas terlihat pada rasa lapar. Sebelum latihan, aroma cokelat hitam membuat peserta melaporkan rasa lapar dan keinginan makan yang lebih rendah, serta rasa kenyang yang lebih tinggi. Dalam analisis hubungan, peserta yang merasa kurang lapar dan lebih kenyang cenderung menyelesaikan lebih banyak repetisi.

  3. Mengapa aroma bisa memengaruhi latihan?

    Penciuman memiliki hubungan erat dengan area otak yang mengatur emosi, penghargaan, ingatan, dan nafsu makan. Aroma makanan dapat memunculkan respons tubuh bahkan sebelum makanan benar-benar masuk ke saluran pencernaan.

    Temuan ini sejalan dengan studi kecil pada 2010 yang melibatkan 12 perempuan. Penelitian tersebut menemukan bahwa mencium aroma cokelat hitam 85 persen dapat menekan nafsu makan dan berkaitan dengan perubahan hubungan antara rasa lapar dan hormon grelin. Namun, studi itu tidak menguji kemampuan peserta dalam melakukan latihan fisik.

    Dalam penelitian terbaru, peneliti belum mengukur hormon lapar, aktivitas saraf, respons otonom, atau tanda fisiologis lain yang dapat menjelaskan mekanismenya. Analisis statistik juga belum membuktikan penurunan rasa lapar secara langsung menjadi penyebab meningkatnya jumlah repetisi. Karena itu, dugaan bahwa aroma bekerja dengan mengurangi gangguan rasa lapar masih bersifat awal.

  4. Belum tentu berlaku untuk semua orang dan olahraga

    Studi ini memiliki beberapa keterbatasan. Jumlah pesertanya kecil dan seluruhnya merupakan pria muda yang rutin latihan. Jenis latihan yang digunakan juga hanya leg extension, yaitu latihan satu sendi untuk otot kaki.

    Dengan demikian, hasilnya belum dapat langsung diterapkan pada perempuan, orang yang jarang berolahraga, latihan tubuh bagian atas, olahraga kardio, atau sesi latihan setelah makan. Peneliti juga mengingatkan bahwa wadah kontrol tanpa aroma lebih mudah dikenali oleh peserta. Hal ini membuka kemungkinan adanya pengaruh harapan atau efek plasebo.

    Aroma cokelat hitam belum dapat dianggap sebagai pengganti makanan sebelum latihan, tidur yang cukup, atau program latihan yang teratur. Temuan ini masih berupa bukti awal bahwa sinyal sensorik, termasuk aroma, mungkin memengaruhi rasa lapar dan volume latihan dalam kondisi tertentu, terutama saat tubuh berolahraga setelah perut kosong semalaman.

    Referensi

    Xiaohan Fan, Hengzhi Deng, Jia Yang Ng, Ahmad Amirul Hazim bin Ab Aziz, and Mohamed Nashrudin bin Naharudin, “Chocolate Odor Enhances Resistance Exercise Performance through Appetite Suppression in the Fasted State: An Exploratory Study,” Frontiers in Physiology 17 (2026): 1834757, https://doi.org/10.3389/fphys.2026.1834757.

    Elske T. Massolt et al., “Appetite Suppression through Smelling of Dark Chocolate Correlates with Changes in Ghrelin in Young Women,” Regulatory Peptides 161, nos. 1–3 (2010): 81–86, https://doi.org/10.1016/j.regpep.2010.01.005.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More