Temuan studi baru ini bukan alasan untuk langsung berhenti memakai kontrasepsi hormonal sendiri. Pasalnya, kehamilan yang tidak direncanakan juga punya risiko kesehatan, sosial, dan ekonomi.
Keputusan terbaik tetap perlu dibuat bersama tenaga kesehatan, dengan mempertimbangkan usia, riwayat kesehatan, kebutuhan kontrasepsi, toleransi efek samping, dan pilihan alternatif.
Kamu sebaiknya berkonsultasi jika sedang atau pernah memakai kontrasepsi progestin jangka panjang dan mengalami gejala seperti sakit kepala baru yang makin sering atau makin berat, gangguan penglihatan, kejang, kelemahan satu sisi tubuh, gangguan bicara, perubahan memori, atau gejala saraf lain yang tidak biasa.
Intinya, kontrasepsi hormonal tetap bermanfaat bagi banyak orang. Studi ini menambah informasi penting agar pasien dan tenaga kesehatan bisa berdiskusi mengenai risiko dan pilihan kontrasepsi.
Referensi
Hasselblad Lundstrøm, Nicklas, Mette Hjorslev Knudgaard, Michael Skaarup Pedersen, Marie Louise Schougaard Christiansen, and Charlotte Wessel Skovlund. “Contraceptive Progestogens and Incident Meningioma.” JAMA Network Open 9, no. 7 (2026): e2622603.
ScienceAlert. “Common Hormonal Contraceptive Linked to Risk of Rare Brain Tumor.” Diakses Juli 2026.
U.S. Food and Drug Administration (FDA). "Depo-Provera CI and Depo-SubQ Provera 104 Prescribing Information." Diakses Juli 2026.
FDA. “Supplement Approval: Depo-Provera CI and Depo-SubQ Provera 104.” Diakses Juli 2026.
National Cancer Institute. “Meningioma: Diagnosis and Treatment.” Diakses Juli 2026.
European Medicines Agency. “Meeting Highlights from the Pharmacovigilance Risk Assessment Committee, 2–5 September 2024.” September 6, 2024.
Agopiantz, Michael, et al. “Hormone Receptor Expression in Meningiomas.” Cancers 15, no. 3 (2023): 980.
Roland, Noémie, Alain Weill, and colleagues. “Use of Progestogens and the Risk of Intracranial Meningioma: National Case-Control Study.” BMJ 384 (2024): e078078.