RadiologyInfo.org. “Stroke: Diagnosis, Evaluation and Treatment.” Diakses Juli 2026.
RadiologyInfo.org. “Head CT (Computed Tomography, CAT Scan).” Diakses Juli 2026.
National Institute for Health and Care Excellence. “Stroke and Transient Ischaemic Attack in over 16s: Diagnosis and Initial Management.” NICE Guideline NG128. Diakses Juli 2026.
Powers, William J., Alejandro A. Rabinstein, Teri Ackerson, et al. “Guidelines for the Early Management of Patients With Acute Ischemic Stroke: 2019 Update to the 2018 Guidelines for the Early Management of Acute Ischemic Stroke.” Stroke 50, no. 12 (2019): e344–e418. https://doi.org/10.1161/STR.0000000000000211.
American Heart Association/American Stroke Association. “2026 Guideline for the Early Management of Patients With Acute Ischemic Stroke.” Stroke, published January 26, 2026. https://doi.org/10.1161/STR.0000000000000513.
Wintermark, Max, Pina C. Sanelli, Gregory W. Albers, et al. “Imaging Recommendations for Acute Stroke and Transient Ischemic Attack Patients: A Joint Statement by the American Society of Neuroradiology, the American College of Radiology and the Society of NeuroInterventional Surgery.” Journal of the American College of Radiology 10, no. 11 (2013): 828–832. https://doi.org/10.1016/j.jacr.2013.06.019.
Al-Salahat, Ahmad, et al. “Current State and Advancements of Imaging in Acute Ischemic Stroke.” Diagnostics 15, no. 20 (2025): 2594. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12722380/.
Peran CT Scan dan MRI dalam Diagnosis Stroke

CT scan sering menjadi pemeriksaan awal pada kondisi stroke akut karena cepat dan dapat membantu membedakan stroke perdarahan dari stroke sumbatan.
MRI lebih sensitif untuk melihat kerusakan jaringan otak, stroke kecil, stroke yang sulit terlihat di CT awal, dan beberapa kasus TIA atau stroke ringan.
Pemeriksaan imaging tidak boleh membuat pasien menunda ke IGD. Pada stroke, waktu sangat menentukan peluang terapi dan pemulihan.
Stroke adalah keadaan darurat. Saat seseorang tiba-tiba bicara cadel, wajah mencong, satu sisi tubuh lemah, kebingungan, sulit bicara, atau kehilangan keseimbangan, yang terpenting segera mencari pertolongan medis, jangan menunggu gejala hilang sendiri.
Saat sudah di IGD rumah sakit, dokter harus mencari tahu apakah stroke terjadi karena sumbatan atau pendarahan. Jawaban ini penting karena penanganannya berbeda.
Stroke iskemik terjadi saat aliran darah ke otak tersumbat, sedangkan stroke hemoragik terjadi saat pembuluh darah pecah dan darah masuk ke jaringan otak. Karena pengobatan bergantung pada jenis stroke, dokter dapat menggunakan CT scan kepala atau MRI kepala untuk membantu diagnosis.
Table of Content
1. CT scan merupakan pemeriksaan cepat untuk keputusan awal
Pada banyak kasus stroke akut, CT scan kepala tanpa kontras menjadi pemeriksaan awal. Alasannya karena cepat, tersedia di banyak rumah sakit, dan berguna untuk mendeteksi perdarahan otak.
Biasanya CT tanpa kontras segera dilakukan pada pasien dengan dugaan stroke akut jika ada indikasi seperti kandidat trombolisis (pengobatan untuk melarutkan bekuan darah) atau trombektomi (prosedur pengangkatan bekuan darah dari pembuluh darah), penggunaan antikoagulan, gangguan kesadaran, gejala yang memburuk atau naik-turun, kecurigaan infeksi/iritasi selaput otak, atau sakit kepala berat saat gejala stroke mulai muncul.
CT scan membantu dokter memutuskan apakah pasien mungkin mendapat obat penghancur bekuan darah atau tindakan membuka sumbatan.
Obat trombolisis untuk stroke iskemik hanya diberikan jika perdarahan intrakranial sudah disingkirkan.
Untuk dugaan sumbatan pembuluh besar, CT angiography dapat dilakukan setelah CT awal, dan CT perfusion dapat ditambahkan pada kondisi tertentu, terutama jika trombektomi dipertimbangkan lebih dari 6 jam sejak terakhir kali pasien diketahui baik-baik saja.
Kelemahannya, CT scan awal bisa tampak normal pada sebagian stroke iskemik yang masih sangat dini atau ukurannya kecil. Jadi, hasil CT yang belum memperlihatkan apa pun tidak selalu berarti pasien tidak stroke. Penilaian tetap digabungkan dengan gejala, pemeriksaan saraf, waktu munculnya keluhan, dan pemeriksaan tambahan.
2. MRI: lebih detail untuk melihat jaringan otak

MRI menggunakan medan magnet dan gelombang radio untuk menghasilkan gambaran jaringan otak yang lebih detail. MRI kepala digunakan untuk menilai kerusakan otak akibat stroke, sementara MR angiography dapat menggambarkan pembuluh darah otak.
MRI, terutama sekuens diffusion-weighted imaging (DWI), sering lebih sensitif dalam mendeteksi area otak yang mengalami iskemia dini. Karena itu, MRI dapat sangat membantu pada kasus stroke ringan, stroke kecil, gejala yang tidak khas, stroke di area batang otak atau otak kecil, serta transient ischaemic attack (TIA) atau stroke ringan ketika gejala sudah membaik tetapi dokter perlu mencari jejak iskemia (berkurangnya aliran darah ke jaringan/organ).
MRI dengan diffusion-weighted dan blood-sensitive sequences disarankan setelah penilaian spesialis pada suspek TIA untuk menentukan wilayah iskemia, mendeteksi perdarahan, atau mencari penyebab lain. Jika MRI dilakukan, disarankan pemeriksaan pada hari yang sama dengan asesmen.
Namun, MRI tidak selalu menjadi pemeriksaan pertama pada kondisi gawat darurat. Pemeriksaannya bisa lebih lama, tidak selalu tersedia 24 jam, dan tidak cocok untuk beberapa pasien dengan alat implan tertentu, kondisi tidak stabil, atau kesulitan berbaring diam. Dalam situasi stroke akut, pemeriksaan terbaik adalah yang bisa dilakukan cepat dan cukup untuk menentukan terapi.
3. Kapan CT angiography, CT perfusion, MRA, atau MRI perfusion diperlukan?
Selain CT scan dan MRI dasar, dokter dapat memakai pemeriksaan pembuluh darah dan aliran darah. CT angiography (CTA) atau MR angiography (MRA) membantu melihat apakah ada sumbatan pembuluh darah besar. Ini penting karena pasien dengan sumbatan pembuluh besar bisa menjadi kandidat trombektomi.
Trombektomi direkomendasikan untuk pasien tertentu dengan stroke iskemik akut dan sumbatan pembuluh besar yang dikonfirmasi oleh CTA atau MRA.
Untuk pasien yang terakhir diketahui baik-baik saja 6–24 jam sebelumnya, termasuk wake-up stroke (stroke yang terjadi saat tidur dan pertama kali diketahui ketika pasien bangun), penilaian jaringan otak yang masih mungkin diselamatkan dapat dilakukan dengan CT perfusion atau diffusion-weighted MRI.
Kombinasi CT, CTA, dan CT perfusion dapat membantu dokter menentukan terapi terbaik pada pasien stroke, sedangkan MRI/MRA/MR perfusion dapat membantu menilai kerusakan otak, pembuluh darah, dan aliran darah.
Bagi pasien dan keluarga, jangan meminta pemeriksaan tertentu sambil menunda pertolongan. Di IGD, dokter akan memilih pemeriksaan berdasarkan waktu gejala muncul, kondisi pasien, kecurigaan jenis stroke, ketersediaan alat, dan peluang terapi.
Segera ke IGD jika muncul tanda stroke seperti wajah mencong, lengan atau kaki mendadak lemah sebelah, bicara pelo, kebingungan mendadak, gangguan penglihatan, pusing berat, kehilangan keseimbangan, atau sakit kepala sangat hebat yang tidak biasa. CT scan dan MRI sangat penting, tetapi manfaatnya paling besar jika pasien datang cepat.
Referensi










![[QUIZ] Kami Bisa Tebak Kamu Lari karena FOMO atau Beneran Suka](https://image.idntimes.com/post/20260508/1000023808_ede40a8d-fa4b-4901-ba71-809fd59ebf2e.jpg)


![[QUIZ] Dari Olahan Daging Favoritmu, Ini Penyakit yang Mengintai](https://image.idntimes.com/post/20260505/resep-daging-panggang-ala-maroko_57a5c686-b9fa-44df-856c-249f30b1b27a.jpg)







