Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Studi: Kontrasepsi Hormonal Dikaitkan dengan Tumor Otak Langka

Studi: Kontrasepsi Hormonal Dikaitkan dengan Tumor Otak Langka
ilustrasi KB suntik (pexels.com/RF._.studio)
Intinya Sih
  • Studi besar di Denmark menemukan beberapa kontrasepsi berbasis progestogen dikaitkan dengan peningkatan risiko meningioma, yaitu tumor yang tumbuh di selaput pelindung otak dan sumsum tulang belakang.

  • Kaitan paling kuat terlihat pada kontrasepsi suntik medroxyprogesterone, tetapi jumlah kasusnya kecil dan risiko absolut tetap rendah.

  • Pengguna kontrasepsi tidak disarankan berhenti sendiri. Diskusikan manfaat, risiko, dan alternatif kontrasepsi dengan dokter atau bidan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Kontrasepsi hormonal dipakai banyak perempuan karena praktis, efektif, dan membantu merencanakan kehamilan. Namun, menurut studi terbaru, beberapa jenis kontrasepsi berbasis progestogen dikaitkan dengan peningkatan risiko meningioma, tumor yang tumbuh pada meninges atau selaput pelindung otak dan sumsum tulang belakang.

Studi yang terbit dalam jurnal JAMA Network Open pada 2 Juli 2026 ini menganalisis data nasional Denmark selama 25 tahun, dari tahun 2000 sampai 2024. Para peneliti melihat lebih dari 3 juta perempuan usia 15–59 tahun, lalu membandingkan 1.473 kasus meningioma dengan 14.717 kontrol yang serupa secara demografis.

Temuannya, penggunaan beberapa kontrasepsi progestogen, terutama yang masih digunakan atau baru digunakan dalam satu tahun terakhir, dikaitkan dengan risiko meningioma yang lebih tinggi.

1. Apa itu meningioma dan kenapa hormon dibahas?

Meningioma adalah tumor yang tumbuh dari selaput pelindung otak dan sumsum tulang belakang. Banyak meningioma bersifat jinak dan tumbuh lambat, tetapi tetap bisa menimbulkan masalah jika ukurannya membesar atau menekan jaringan sekitar.

Gejalanya bisa berupa sakit kepala, kejang, gangguan penglihatan, perubahan kognitif, kelemahan anggota tubuh, atau keluhan neurologis lain, tergantung lokasi tumor.

Alasan hormon ikut dibahas adalah karena sebagian besar meningioma memiliki reseptor progesteron. Dalam studi baru ini, para peneliti menyebut reseptor progesteron ditemukan pada hingga 87 persen meningioma.

Progestogen adalah senyawa sintetis yang meniru kerja hormon progesteron. Zat ini digunakan dalam beberapa kontrasepsi, seperti pil kombinasi, pil progestin saja atau mini-pill, KB suntik, KB implan, dan IUD hormonal. Kekhawatiran terbesar dalam studi terbaru ini muncul pada KB suntik medroxyprogesterone, yang menunjukkan peningkatan risiko relatif sekitar empat kali lipat.

2. Temuan studi

Berbagai jenis alat kontrasepsi seperti pil KB, kondom, IUD, dan diafragma tersusun di atas latar berwarna kuning dan merah muda.
ilustrasi berbagai jenis alat kontrasepsi (unsplash.com/Reproductive Health Supplies Coalition)

Dalam studi Denmark tersebut, KB suntik medroxyprogesterone menunjukkan asosiasi paling kuat dengan meningioma, dengan odds ratio 4,55.

Beberapa pil kombinasi yang mengandung progestogen tertentu juga menunjukkan peningkatan risiko yang lebih kecil, misalnya desogestrel, drospirenone, gestodene, dan levonorgestrel.

Pil progestin saja yang mengandung desogestrel memiliki odds ratio 1,73, sedangkan IUD levonorgestrel dosis tinggi memiliki odds ratio 1,58.

IUD levonorgestrel dosis rendah tidak menunjukkan asosiasi yang jelas dalam studi ini.

Namun, yang dikatakan "risiko relatif naik” bukan berarti pengguna kontrasepsi hormonal akan mengalami tumor. Meningioma tetap tergolong jarang pada perempuan usia subur.

Studi ini juga bersifat observasional. Artinya, para peneliti menemukan hubungan antara penggunaan kontrasepsi tertentu dan diagnosis meningioma, tetapi tidak bisa membuktikan secara langsung bahwa kontrasepsi penyebab tunggalnya. Faktor lain, seperti usia, riwayat hormonal, kondisi kesehatan, dan pola penggunaan obat, tetap ikut berperan.

Yang menarik, peningkatan risiko tampak lebih kuat pada penggunaan saat ini atau penggunaan terbaru. Peningkatan risiko tampaknya memudar setelah kontrasepsi progestogen dihentikan, umumnya dalam beberapa tahun.

3. Apa yang harus dilakukan pengguna kontrasepsi?

Temuan studi baru ini bukan alasan untuk langsung berhenti memakai kontrasepsi hormonal sendiri. Pasalnya, kehamilan yang tidak direncanakan juga punya risiko kesehatan, sosial, dan ekonomi.

Keputusan terbaik tetap perlu dibuat bersama tenaga kesehatan, dengan mempertimbangkan usia, riwayat kesehatan, kebutuhan kontrasepsi, toleransi efek samping, dan pilihan alternatif.

Kamu sebaiknya berkonsultasi jika sedang atau pernah memakai kontrasepsi progestin jangka panjang dan mengalami gejala seperti sakit kepala baru yang makin sering atau makin berat, gangguan penglihatan, kejang, kelemahan satu sisi tubuh, gangguan bicara, perubahan memori, atau gejala saraf lain yang tidak biasa.

Intinya, kontrasepsi hormonal tetap bermanfaat bagi banyak orang. Studi ini menambah informasi penting agar pasien dan tenaga kesehatan bisa berdiskusi mengenai risiko dan pilihan kontrasepsi.

Referensi

Hasselblad Lundstrøm, Nicklas, Mette Hjorslev Knudgaard, Michael Skaarup Pedersen, Marie Louise Schougaard Christiansen, and Charlotte Wessel Skovlund. “Contraceptive Progestogens and Incident Meningioma.” JAMA Network Open 9, no. 7 (2026): e2622603.

ScienceAlert. “Common Hormonal Contraceptive Linked to Risk of Rare Brain Tumor.” Diakses Juli 2026.

U.S. Food and Drug Administration (FDA). "Depo-Provera CI and Depo-SubQ Provera 104 Prescribing Information." Diakses Juli 2026.

FDA. “Supplement Approval: Depo-Provera CI and Depo-SubQ Provera 104.” Diakses Juli 2026.

National Cancer Institute. “Meningioma: Diagnosis and Treatment.” Diakses Juli 2026.

European Medicines Agency. “Meeting Highlights from the Pharmacovigilance Risk Assessment Committee, 2–5 September 2024.” September 6, 2024.

Agopiantz, Michael, et al. “Hormone Receptor Expression in Meningiomas.” Cancers 15, no. 3 (2023): 980.

Roland, Noémie, Alain Weill, and colleagues. “Use of Progestogens and the Risk of Intracranial Meningioma: National Case-Control Study.” BMJ 384 (2024): e078078.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More