ilustrasi mengalami kecemasan (pexels.com/MART PRODUCTION)
Tim peneliti menganalisis data 101.243 pasien Memorial Sloan Kettering Cancer Center di New York, Amerika Serikat. Dari jumlah tersebut, 8.897 pasien memiliki lemak cokelat yang terdeteksi pada pemindaian.
Setelah memperhitungkan sejumlah faktor—termasuk usia, jenis kelamin, indeks massa tubuh, kebiasaan merokok, serta jenis dan tahap kanker—keberadaan lemak cokelat tetap berkaitan dengan odds diagnosis gangguan kecemasan yang lebih rendah, yaitu 22 persen. Odds episode depresi yang tercatat juga lebih rendah, sekitar 32 persen.
Angka tersebut merujuk pada odds diagnosis dalam data penelitian, bukan bukti bahwa lemak cokelat mengurangi risiko gangguan mental. Peneliti mengolah catatan diagnosis pasien. Studi ini tidak menguji apakah lemak cokelat menyebabkan perubahan suasana hati atau mencegah depresi dan kecemasan.
Tim peneliti juga menggunakan pembelajaran mesin untuk memperkirakan volume dan aktivitas lemak cokelat pada sekitar 8.700 pasien. Aktivitas yang lebih tinggi, terutama di area ketiak, berkaitan dengan sejumlah indikator kesehatan metabolik dan jantung yang lebih baik. Namun, temuan mengenai kecemasan dan depresi berasal dari perbandingan pasien dengan dan tanpa lemak cokelat yang terdeteksi, bukan dari pengukuran aktivitas lemak tersebut.