Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Bagaimana GLP-1 Mengurangi Lapar dan Food Noise?

5 min read
Bagaimana GLP-1 Mengurangi Lapar dan Food Noise?
ilustrasi penggunaan obat GLP-1 resep dokter (IDN Times/Novaya Siantita)
  • Food noise adalah dorongan mental untuk terus memikirkan makanan meski tidak selalu lapar; obat GLP-1 menarik perhatian karena dilaporkan dapat meredamnya.

  • Obat GLP-1 meniru hormon alami dan memperkuat sinyal kenyang dari saluran cerna ke otak, sekaligus memengaruhi nafsu makan, craving, dan respons terhadap makanan.

  • Studi menunjukkan obat GLP-1 dapat mengurangi asupan makanan jangka pendek, tetapi bukti bervariasi dan penurunan food noise tidak terjamin pada setiap orang.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bagi sebagian orang, rasa lapar tidak hanya muncul saat tubuh membutuhkan energi. Pikiran tentang makanan bisa terus muncul sepanjang hari, mulai dari membayangkan camilan hingga sulit berhenti memikirkan makan berikutnya. Fenomena ini sering disebut food noise atau food craving, yaitu dorongan mental yang membuat seseorang terus memikirkan makanan meski tidak selalu benar-benar lapar.

Dalam beberapa tahun terakhir, obat golongan GLP-1 receptor agonist (GLP-1 RA) menarik perhatian karena banyak pengguna melaporkan rasa lapar yang berkurang dan food noise pun teredam. Efek ini muncul karena obat GLP-1 bekerja melalui berbagai mekanisme di usus dan otak yang memengaruhi rasa kenyang, nafsu makan, dan respons terhadap makanan.

  1. Sinyal dari tubuh diproses oleh otak

    Dalam diskusi media "Lebih dari Sekadar Angka di Timbangan: Hubungan Obesitas dan Kesehatan Mental" dan peluncuran kampanye "Hidup Lebih Ringan" oleh Novo Indonesia pada Kamis (5/11) di Jakarta, dr. Christopher Andrian, M.Gizi, Sp.GK menjelaskan komunikasi antara tubuh dan otak dengan sebuah analogi.

    “Ibarat kita lagi makan, makanan masuk perut, perut akan kirim sinyal ke otak. ‘Eh ada makanan nih, turunin dong laparnya,’ gitu ya. Eh tapi ternyata sinyalnya diblok oleh lemak. Jadi perut mengirim pesan ke otak, otak nggak terima. Kalau otak tidak menerima pesan tersebut apa yang terjadi? Ya jadi minta terus, lapar terus.”

    “Obat golongan GLP-1 kerjanya memperkuat sinyal itu sebenarnya. Yang tadi sinyalnya nggak ada nih, eh tiba-tiba karena keblok lemak, dia memperkuat sinyal ke otak supaya otak mendapat sinyal yang menekan rasa lapar,” ia melanjutkan.

    Penjelasan di atas merupakan analogi sederhana. Gambaran yang lebih utuh, pengaturan lapar dan kenyang melibatkan sinyal dari saluran cerna dan jaringan lemak, saraf vagus, serta sejumlah bagian otak—termasuk batang otak, hipotalamus, dan jalur yang berkaitan dengan motivasi serta respons terhadap makanan. Perubahan pada sistem-sistem tersebut dapat memengaruhi kendali otak atas perilaku makan.

  2. GLP-1 dapat memengaruhi nafsu makan di otak

    GLP-1 adalah hormon alami tubuh. GLP-1 RA meniru atau mengaktifkan reseptor yang menjadi sasaran hormon ini. Dijelaskan oleh dr. Riyanny M. Tarliman, Associate Director, Medical & Regulatory Novo Indonesia, obat tersebut dapat bekerja pada sistem saraf pusat.

    “Salah satu cara dia bekerja untuk pasien-pasien dengan obesitas adalah untuk dia bekerja di sistem saraf pusat, di otak. Bagaimana dia bekerja? Dia akan mengurangi craving. Nah, kemudian rasa lapar dikurangi oleh si GLP-1 receptor agonist ini di sistem saraf pusat di otak.”

    Tinjauan ilmiah dalam Journal of Clinical Investigation juga menjelaskan bahwa manfaat GLP-1 RA untuk obesitas bergantung pada berkurangnya asupan energi melalui kerja di sistem saraf pusat. Namun, sirkuit saraf yang paling menentukan efek tersebut belum sepenuhnya dipahami. Kerja obat dalam memperkuat sinyal kenyang bisa membantu menjelaskan gambaran umumnya.

  3. Kaitan antara obat GLP-1 dan food noise

    Ilustrasi food noise atau keinginan makan yang terus muncul, menggambarkan pikiran yang dipenuhi dorongan untuk makan.
    ilustrasi food noise atau food craving (pexel.com/Andres Ayrton)

    Food noise merupakan salah satu hal yang disasar oleh GLP-1 RA, di antara beberapa hal lainnya.

    "Di media tuh banyak yang bilang food noise, itu food craving sebenarnya. Nah itu salah satu yang akan diperbaiki di otak oleh GLP-1 receptor agonist sehingga rasa lapar kemudian berkurang, food noise-nya juga berkurang, kemudian juga penggunaan energinya diperbaiki, metabolismenya juga diperbaiki," dr. Riyanny menjelaskan.

    Di sisi lain, obat juga akan memperpanjang rasa kenyang.

    "Kalau rasa kenyangnya diperpanjang, jadi otomatis kita nggak mudah merasa lapar. Perut lebih penuh, jadi makan sedikit rasanya sudah cukup, sehingga secara natural diharapkan intake-nya akan berkurang dan tentu saja berat badan akan berkurang," lanjutnya.

  4. GLP-1 bisa membantu mengurangi keinginan makan

    Sebuah tinjauan yang menggabungkan 25 penelitian dengan lebih dari 4.000 orang dewasa yang mengalami berat badan berlebih atau obesitas menemukan bahwa obat golongan GLP-1 dapat membantu mengurangi jumlah makanan yang dikonsumsi dalam jangka pendek. Beberapa penelitian juga melaporkan berkurangnya keinginan kuat untuk makan dan menurunnya ketertarikan terhadap makanan.

    Namun, hasil penelitian belum sepenuhnya konsisten. Tidak semua studi menemukan penurunan nafsu makan yang sama, dan kualitas buktinya masih bervariasi. Jadi, meski obat GLP-1 tampaknya memengaruhi rasa lapar dan dorongan untuk makan, tetapi belum ada jaminan bahwa food noise atau pikiran yang terus-menerus tentang makanan akan berkurang pada setiap orang. Respons terhadap obat bisa berbeda-beda, dan para peneliti masih terus mempelajari cara untuk mengukur food noise.

    Walaupun banyak orang membicarakan manfaat obat GLP-1 untuk menurunkan berat badan dan mengurangi rasa lapar, tetapi obat ini bukan solusi yang cocok untuk semua orang. Dan, obat ini penggunaannya harus dengan pengawasan dokter.

    Penggunaannya perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan, riwayat penyakit, tujuan terapi, serta kemungkinan efek samping yang dapat muncul. Karena itu, obat GLP-1 untuk obesitas sebaiknya digunakan berdasarkan penilaian dan pemantauan dokter, sebagai bagian dari penanganan yang lebih luas bersama pola makan, aktivitas fisik, dan perubahan gaya hidup lainnya.

    Referensi

    Guillaume de Lartigue, Daniel I. Brierley, and Hyung Jin Choi, “The Critical Role of Gut–Brain Signalling in Eating Behaviour and Obesity,” Nature Reviews Gastroenterology & Hepatology 23, no. 8 (2026): 608–27, https://doi.org/10.1038/s41575-026-01203-x.

    Lisa R. Beutler, “GLP-1 Physiology and Pharmacology along the Gut-Brain Axis,” Journal of Clinical Investigation 136, no. 2 (2026): e194744, https://doi.org/10.1172/JCI194744.

    Emily J. Dhurandhar et al., “Food Noise: Definition, Measurement, and Future Research Directions,” Nutrition & Diabetes 15 (2025): 30, https://doi.org/10.1038/s41387-025-00382-x.

    Clarissa Dakin, Jordan D. Beaumont, and Beverley O’Hara, “Influence of GLP-1-Based Pharmacotherapies on Eating Behavior, Appetite, and Energy Intake in Adults With Overweight or Obesity: A Systematic Review and Meta-Analysis,” Obesity Reviews (2026): e70245, https://doi.org/10.1111/obr.70245.

Related Articles

See More