Dampak COVID-19 tidak selalu berhenti ketika seseorang sudah dinyatakan sembuh. Sebagian orang melaporkan gejala yang bertahan berbulan-bulan, mulai dari kelelahan, sesak napas, hingga gangguan konsentrasi. Kondisi ini dikenal sebagai long COVID.
Sebuah studi berbasis populasi yang dipublikasikan dalam jurnal BMC Public Health menemukan bahwa orang dewasa dengan long COVID. menghadapi peningkatan risiko gejala depresi dan kecemasan hingga tiga tahun setelah infeksi awal. Penelitian ini dipimpin oleh tim dari College of Health Sciences, University of Missouri, Amerika Serikat (AS).
Para peneliti menganalisis data orang dewasa di Michigan dengan infeksi SARS-CoV-2 terkonfirmasi antara Maret 2020 hingga Mei 2022. Responden yang sudah memiliki gejala depresi atau kecemasan pada awal studi dikeluarkan dari analisis, sehingga penelitian ini benar-benar menilai kemunculan gejala baru (new-onset) seiring waktu. Long COVID didefinisikan sebagai gejala yang berlangsung 90 hari atau lebih setelah infeksi awal.
Pada tindak lanjut tiga tahun, sekitar 8,8 persen responden melaporkan gejala depresi dan 10,4 persen melaporkan gejala kecemasan. Namun, angka ini meningkat tajam pada kelompok dengan long COVID.
