Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi makan sehat ala orang Jepang (magnific.com/magnific)
  • Studi tentang umur panjang di Jepang lebih banyak meneliti pola makan secara keseluruhan, bukan satu makanan ajaib.

  • Sayuran, ikan, kedelai, rumput laut, jamur, dan teh hijau termasuk komponen yang kerap muncul dalam pola makan Jepang yang diteliti.

  • Makanan tradisional Jepang juga bisa tinggi garam. Jadi, jenis makanan dan cara mengolahnya sama-sama perlu diperhatikan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jepang sering menjadi sorotan ketika membahas umur panjang. Negara ini memiliki banyak penduduk yang hidup hingga usia lanjut, termasuk di wilayah seperti Okinawa yang lama dikenal memiliki proporsi lansia tinggi. Hal ini membuat pola makan orang Jepang menarik untuk diteliti.

Tentu, umur panjang tidak ditentukan oleh satu atau beberapa jenis makanan. Faktor seperti aktivitas fisik, kebiasaan merokok, kualitas tidur, akses layanan kesehatan, dan kondisi sosial juga berpengaruh. Namun, sejumlah makanan yang umum dikonsumsi di Jepang sering dikaitkan dengan pola makan yang mendukung kesehatan jangka panjang.

Studi yang terbit pada 2025 mengamati 93.049 orang dewasa di Jepang selama rata-rata hampir 19 tahun. Peneliti menemukan bahwa kepatuhan yang lebih tinggi pada beberapa indeks pola makan Jepang berkaitan dengan angka kematian keseluruhan dan kematian akibat penyakit kardiovaskular yang lebih rendah.

Berikut lima makanan dan minuman Jepang yang dikaitkan dengan umur panjang dan alasannya.

1. Sayuran, rumput laut, dan jamur

Sayuran, rumput laut, dan jamur merupakan bagian penting dari pola makan tradisional Jepang. Kombinasi berbagai jenis makanan ini membantu memenuhi kebutuhan serat, vitamin, dan mineral yang dibutuhkan tubuh.

Dalam sebuah penelitian yang melibatkan lebih dari 81.000 orang dewasa di Jepang, laki-laki yang mengonsumsi lebih banyak sayuran cenderung memiliki risiko kematian dan penyakit jantung yang lebih rendah. Namun, hubungan yang sama tidak terlihat jelas pada perempuan dalam penelitian tersebut.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa manfaat pola makan bisa berbeda pada setiap kelompok, dan tidak berarti satu jenis sayuran tertentu dapat menjamin umur panjang.

2. Ikan dan hasil laut

ilustrasi ikan shisamo (commons.wikimedia.org/pelican)

Ikan dan hasil laut menjadi bagian dari pola makan Jepang yang diteliti. Dalam salah satu indeks, peneliti bahkan membedakan hasil laut yang tidak asin dan yang asin. Ini penting karena cara pengolahan dapat mengubah kandungan garam dalam makanan.

Jadi, bukan cuma konsumsi ikan, tetapi juga memilih cara pengolahan ikan yang tidak membuat asupan garam berlebihan.

3. Kedelai, termasuk natto, tahu, dan miso

Kedelai hadir dalam beragam bentuk, mulai dari tahu hingga natto dan miso. Sebuah studi terhadap 92.915 orang dewasa di Jepang menemukan bahwa konsumsi kedelai fermentasi—yang mencakup natto dan miso—berkaitan dengan risiko kematian keseluruhan yang lebih rendah. Natto juga berkaitan dengan angka kematian akibat penyakit kardiovaskular yang lebih rendah.

Namun, hasil yang sama tidak ditemukan untuk semua produk kedelai secara keseluruhan. Penelitian tersebut tidak menunjukkan hubungan yang jelas antara total konsumsi kedelai dan risiko kematian. Peneliti juga mengingatkan bahwa kebiasaan hidup dan faktor kesehatan lain mungkin ikut memengaruhi hasil penelitian tersebut.

4. Teh hijau

ilustrasi menikmati teh hijau (pexels.com/Anna Pou)

Teh hijau sudah lama menjadi bagian dari pola makan masyarakat Jepang. Dalam analisis yang menggabungkan delapan penelitian dan melibatkan lebih dari 313.000 orang di Jepang, mereka yang minum lima cangkir atau lebih teh hijau per hari cenderung memiliki risiko kematian yang lebih rendah dibandingkan orang yang minum kurang dari satu cangkir sehari. Hubungan serupa juga terlihat pada risiko kematian akibat penyakit jantung dan stroke.

Meski demikian, bukan berarti kamu harus minum minimal lima cangkir teh hijau per hari. Penelitian tersebut cuma menunjukkan adanya hubungan antara kebiasaan minum teh hijau dan risiko kematian yang lebih rendah, bukan teh hijau menjadi resep hidup yang lebih lama atau menurunkan risiko penyakit.

5. Nasi dalam menu yang seimbang

Nasi merupakan salah satu makanan pokok dalam panduan makan Jepang. Akan tetapi, panduannya juga mendorong menu yang memadukan makanan pokok dengan lauk, sayuran, buah, serta susu atau produk olahannya. Panduan tersebut turut menyarankan untuk membatasi garam dan lemak serta rutin bergerak.

Sebuah studi terhadap 79.594 orang dewasa Jepang menemukan bahwa kelompok dengan kepatuhan tertinggi pada Japanese Food Guide Spinning Top memiliki angka kematian keseluruhan 15 persen lebih rendah daripada kelompok dengan skor terendah.

Jangan lupakan garam

ilustrasi sekelompok enam orang dewasa menikmati makan bersama di dalam ruangan (pexels.com/Huỳnh Như Mavi)

Sebagian makanan tradisional—seperti sup miso, acar, kecap, dan ikan asin—dapat menyumbang banyak asupan garam. Japan Atherosclerosis Society mengingatkan bahwa masakan tradisional Jepang tidak otomatis selalu sehat; asupan garam berlebih dapat meningkatkan tekanan darah dan risiko penyakit kardiovaskular.

Jadi, yang bisa dipelajari dari pola makan Jepang bukanlah satu makanan atau resep tertentu, melainkan prinsipnya. Pola makan yang beragam, tinggi sayuran, mengandalkan sumber protein seperti ikan dan kacang-kacangan, serta tidak berlebihan dalam mengonsumsi makanan olahan dan makanan tinggi garam bisa kamu ikut kamu praktikkan.

Tempe, tahu, ikan, sayuran, dan buah-buahan yang mudah ditemukan di Indonesia juga dapat menjadi bagian dari pola makan yang sehat dan beragam.

Referensi

Utako Murai et al., “Japanese Diet Index Score and Cause-Specific Mortality in Japanese Men and Women: The Japan Public Health Center-Based Prospective Study,” The Journal of Nutrition 155, no. 11 (2025): 3726–36, https://doi.org/10.1016/j.tjnut.2025.09.003.

Yasuaki Kato et al., “Associations of Vegetable and Fruit Consumption with All-Cause and Cause-Specific Mortality in the Japanese Population: The Japan Multi-Institutional Collaborative Cohort Study,” Nutrition Journal 25, no. 1 (2026): article 2, https://doi.org/10.1186/s12937-025-01257-8.

Japan Atherosclerosis Society, The Japan Diet, 2024.

Ryoko Katagiri et al., “Association of Soy and Fermented Soy Product Intake with Total and Cause Specific Mortality: Prospective Cohort Study,” BMJ 368 (2020): m34, https://doi.org/10.1136/bmj.m34.

Sarah Krull Abe et al., “Green Tea Consumption and Mortality in Japanese Men and Women: A Pooled Analysis of Eight Population-Based Cohort Studies in Japan,” European Journal of Epidemiology 34, no. 10 (2019): 917–26, https://doi.org/10.1007/s10654-019-00545-y.

Food and Agriculture Organization of the United Nations, “Food-Based Dietary Guidelines: Japan,” diakses 2 November 2026.

Kayo Kurotani et al., “Quality of Diet and Mortality among Japanese Men and Women: Japan Public Health Center Based Prospective Study,” BMJ 352 (2016): i1209, https://doi.org/10.1136/bmj.i1209.

Curated For You

Editorial Team

Related Article