National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, “Type 2 Diabetes,” diakses September 2026.
Amy S. Shah et al., “ISPAD Clinical Practice Consensus Guidelines 2024: Type 2 Diabetes in Children and Adolescents,” Hormone Research in Paediatrics 97, no. 6 (2024): 555–583, https://doi.org/10.1159/000543033.
Silva Arslanian et al., “Evaluation and Management of Youth-Onset Type 2 Diabetes: A Position Statement by the American Diabetes Association,” Diabetes Care 41, no. 12 (2018): 2648–2668, https://doi.org/10.2337/dci18-0052.
TODAY Study Group, “A Clinical Trial to Maintain Glycemic Control in Youth with Type 2 Diabetes,” New England Journal of Medicine 366, no. 24 (2012): 2247–2256, https://doi.org/10.1056/NEJMoa1109333.
Masih Usia Sekolah Sudah Kena Diabetes Tipe 2, Apa Penyebabnya?

Diabetes tipe 2 pada anak muncul akibat gabungan faktor genetik, perubahan tubuh, dan lingkungan.
Obesitas meningkatkan risiko, tetapi tidak semua anak dengan diabetes tipe 2 mengalami obesitas.
Pubertas, riwayat diabetes dalam keluarga, diabetes gestasional pada ibu, kurang aktivitas fisik, pola makan, dan gangguan tidur dapat berperan.
Diabetes tipe 2 lebih sering dikenal sebagai penyakit orang dewasa. Namun, anak dan remaja juga dapat mengalaminya, terutama ketika memasuki masa pubertas. Diagnosis pada usia sekolah tentu mengejutkan bagi keluarga, tetapi kondisi ini bukan cuma disebabkan oleh satu makanan atau satu kebiasaan.
Diabetes tipe 2 terjadi ketika tubuh tidak menggunakan insulin secara efektif. Insulin adalah hormon yang membantu gula dari darah masuk ke dalam sel untuk digunakan sebagai energi. Saat terjadi resistensi insulin, tubuh perlu memproduksi lebih banyak insulin. Lama-kelamaan, pankreas tidak mampu mengimbangi kebutuhan tersebut sehingga kadar gula darah meningkat.
Table of Content
1. Kelebihan lemak tubuh dapat memicu resistensi insulin
Kelebihan berat badan dan obesitas merupakan faktor risiko penting karena dapat membuat sel tubuh lebih sulit merespons insulin. Lemak yang menumpuk di sekitar organ dalam juga berhubungan dengan gangguan metabolisme.
Namun, berat badan bukan satu-satunya penentu. Pedoman International Society for Pediatric and Adolescent Diabetes (ISPAD) menyebutkan bahwa obesitas memang menjadi faktor risiko utama, tetapi tidak ditemukan pada semua anak dan remaja dengan diabetes tipe 2.
Sebaliknya, tidak semua anak dengan obesitas akan mengalami diabetes. Risiko biasanya terbentuk dari kombinasi beberapa faktor, seperti kerentanan genetik, pola makan, aktivitas fisik, kualitas tidur, dan perubahan hormon.
2. Pubertas dapat menjadi pemicu
Masa pubertas menyebabkan perubahan hormon yang untuk sementara waktu menurunkan sensitivitas tubuh terhadap insulin. Penelitian yang dirangkum American Diabetes Association menunjukkan bahwa sensitivitas insulin dapat menurun sekitar 25–30 persen ketika anak beralih dari masa sebelum pubertas ke pubertas.
Pada sebagian besar anak, pankreas mampu mengompensasi perubahan ini dengan memproduksi lebih banyak insulin. Namun, pada anak yang sudah memiliki faktor risiko lain, kompensasi tersebut bisa tidak mencukupi. Kadar gula darah pun perlahan meningkat.
Karena itu, diabetes tipe 2 pada anak lebih sering muncul di pertengahan masa pubertas dan relatif jarang terjadi sebelum pubertas. Meski demikian, anak yang memiliki banyak faktor risiko dapat mengalami gangguan gula darah lebih awal.
3. Faktor genetik dan riwayat diabetes dalam keluarga

ilustrasi pelajar SMA (unsplash.com/ Ed Us) Anak yang memiliki orang tua atau saudara kandung dengan diabetes tipe 2 memiliki risiko lebih tinggi. Faktor ini tidak hanya berkaitan dengan gen, tetapi juga dengan pola makan, aktivitas, dan lingkungan yang sama dalam keluarga.
Riwayat ibu mengalami diabetes saat hamil juga dapat meningkatkan risiko pada anak. Studi menemukan bahwa paparan diabetes atau obesitas ibu selama kehamilan berhubungan dengan kemungkinan diabetes tipe 2 pada anak saat remaja.
Berat lahir yang rendah maupun kondisi tertentu saat lahir juga dapat menjadi bagian dari faktor risiko. Namun, faktor-faktor tersebut tidak berarti seorang anak pasti akan mengalami diabetes.
4. Pola makan, kurang gerak, dan gangguan tidur
Konsumsi minuman berpemanis dan makanan tinggi kalori dalam jumlah banyak atau sering dapat berkontribusi terhadap penambahan lemak tubuh. Risiko juga dapat meningkat ketika anak jarang bergerak, terlalu lama duduk, atau memiliki waktu tidur yang buruk.
Satu gelas minuman manis atau satu porsi makanan tertentu memang tidak menyebabkan diabetes tipe 2. Penyakit ini terbentuk melalui proses yang berlangsung lama dan dipengaruhi banyak faktor.
Beberapa kondisi yang berkaitan dengan resistensi insulin juga perlu diperhatikan, seperti tekanan darah tinggi, kadar lemak darah yang tidak sehat, perlemakan hati, sindrom ovarium metabolik poliendokrin (PMOS), dan acanthosis nigricans. Kondisi terakhir biasanya tampak sebagai kulit yang lebih gelap dan menebal, terutama di leher atau lipatan tubuh.
5. Diagnosis tidak bisa ditentukan dari bentuk tubuh saja
Anak yang tampak gemuk belum tentu mengalami diabetes tipe 2. Sebaliknya, tubuh yang tidak terlihat gemuk juga tidak sepenuhnya menyingkirkan kemungkinan diabetes.
Pada anak dengan kadar gula darah tinggi, dokter perlu membedakan diabetes tipe 2 dari diabetes tipe 1 atau jenis diabetes lain yang dipengaruhi kelainan gen tertentu.
Pemeriksaan gula darah, HbA1c, dan pada kondisi tertentu antibodi pankreas dapat diperlukan untuk memastikan diagnosis.
Orang tua sebaiknya membawa anak ke fasilitas kesehatan jika ia sering haus, sering buang air kecil, mudah lelah, mengalami pandangan kabur, berat badan turun tanpa sebab, atau memiliki perubahan kulit yang mencurigakan. Gejala diabetes tipe 2 dapat berkembang perlahan sehingga kadang baru diketahui setelah dilakukan pemeriksaan.
Menurut studi yang melibatkan anak dan remaja dengan diabetes tipe 2, terapi metformin saja mampu mempertahankan kontrol gula darah pada sekitar separuh peserta selama masa pengamatan hingga enam tahun. Temuan ini menunjukkan pentingnya mengenali dan menangani diabetes tipe 2 sejak awal.
Diabetes tipe 2 pada usia sekolah penyebabnya merupakan gabungan kerentanan biologis, perubahan hormon, genetik, kondisi sejak kehamilan, serta lingkungan sehari-hari. Pemahaman ini membantu keluarga fokus pada pemeriksaan dan pendampingan medis.
Referensi
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)







.jpg)




![[QUIZ] Apakah Kamu Punya Kecenderungan NPD? Coba Cek di Sini](https://image.idntimes.com/post/20250625/freepik-29_eed1cb7e-fddb-49f3-a569-893aef034aa0.jpg)








