Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Mitos atau Fakta: Flu Harus Diobati dengan Antibiotik

Mitos atau Fakta: Flu Harus Diobati dengan Antibiotik
ilustrasi antibiotik (freepik.com/freepik)
Intinya Sih
  • Flu disebabkan oleh virus influenza, bukan bakteri, sehingga antibiotik tidak efektif dan tidak mempercepat penyembuhan gejala flu.
  • Antibiotik hanya bekerja melawan infeksi bakteri; penggunaan saat flu justru berisiko menimbulkan efek samping dan resistensi antibiotik.
  • Terapi flu yang tepat adalah antivirus khusus serta perawatan suportif seperti istirahat, cairan cukup, dan obat pereda gejala ringan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Artikel ini telah ditinjau secara medis oleh
dr. Rizka Novita Indriani, Sp. PD

Flu atau influenza adalah infeksi akut pada saluran pernapasan yang disebabkan oleh virus influenza. Penyakit ini sangat mudah menular dan menyerang lebih dari satu miliar orang setiap tahun di seluruh dunia.

Beberapa orang masih menganggap bahwa flu perlu antibiotik. Padahal, itu salah kaprah besar! Flu disebabkan oleh virus, bukan bakteri, sehingga antibiotik tidak efektif sama sekali melawan virus flu dan tidak membuat gejalanya membaik.

Table of Content

1. Antibiotik tidak berguna untuk flu

1. Antibiotik tidak berguna untuk flu

Tidak sedikit orang yang menganggap antibiotik semacam obat mujarab yang bisa menyembuhkan semua infeksi, termasuk flu, batuk, pilek, atau penyakit ringan lainnya. Bahkan, di lingkungan medis seperti rumah sakit ataupun apotek ada saja pasien yang meminta antibiotik saat sakit yang sebetulnya penyebabnya adalah virus.

Kenyataannya, antibiotik hanya efektif untuk infeksi bakteri. Sementara itu, flu atau pilek dan sebagian besar radang tenggorokan adalah infeksi virus yang tidak merespons antibiotik sama sekali karena antibiotik tidak membunuh virus dan tidak mempercepat penyembuhan kondisi virus tersebut. Menggunakan antibiotik untuk penyakit virus seperti flu tidak membantu dan justru berisiko menyebabkan resistensi bakteri serta efek samping yang tidak perlu.

2. Alasan kenapa antibiotik dilarang digunakan saat sakit flu

Seorang perempuan sakit flu.
ilustrasi sakit flu (freepik.com/benzoix)

Secara biologis, bakteri adalah sel hidup dengan dinding sel dan sistem metabolisme sendiri. Antibiotik bekerja dengan cara merusak dinding sel, menghambat sintesis protein, atau mengganggu pembentukan DNA bakteri.

Virus influenza berbeda karena hanya berupa materi genetik yang harus “menumpang” di dalam sel hidup manusia atau hewan untuk bereplikasi dan tidak memiliki struktur yang menjadi sasaran antibiotik. Akibatnya, pemberian antibiotik saat flu tidak mengurangi jumlah virus dan tidak memengaruhi perjalanan alami penyakit.

Terapi yang tepat untuk flu adalah antivirus khusus influenza (misalnya oseltamivir atau baloxavir) dan perawatan suportif seperti istirahat, cairan cukup, serta obat demam dan pelega hidung, bukan penggunaan antibiotik rutin.

Antibiotik baru dipertimbangkan jika memang setelah pemeriksaan ditemukan bukti kuat infeksi bakteri sekunder, misalnya pneumonia atau sinusitis bakteri. Penggunaan antibiotik yang tidak perlu akan meningkatkan risiko efek samping dan resistensi (kebal) antibiotik.

3. Risiko penyalahgunaan

Penyalahgunaan antibiotik pada flu membawa dua lapis risiko besar, yakni bagi individu dan masyarakat luas.

Bagi individu, mengonsumsi antibiotik saat flu tanpa indikasi infeksi bakteri sekunder akan meningkatkan peluang efek samping seperti diare, ruam, reaksi alergi, dan gangguan mikrobiota baik pada usus. Hilangnya populasi bakteri baik pada usus karena penggunaan antibiotik berkepanjangan atau tanpa indikasi, berisiko terjadinya infeksi Clostridioides difficile yang dapat menyebabkan diare berat dan kolitis.

Di tingkat populasi, penggunaan antibiotik yang tidak perlu pada infeksi virus saluran napas karena virus, termasuk influenza, berkontribusi langsung pada muncul dan menyebarnya resistensi antibiotik, di mana bakteri menjadi kebal terhadap obat-obatan yang sebelumnya efektif. Ini membuat infeksi yang tadinya mudah diobati menjadi lebih sulit, lebih mahal, dan lebih berisiko menimbulkan kematian.

Mengingat antibiotik hampir tidak bermanfaat pada flu akibat virus dan justru berisiko menimbulkan efek samping, para ahli menekankan bahwa antibiotik sebaiknya tidak digunakan untuk influenza, kecuali jika memang ada bukti kuat terjadi infeksi bakteri.

Referensi

Shukry Zawahir et al., “Inappropriate Supply of Antibiotics for Common Viral Infections by Community Pharmacies in Vietnam: A Standardised Patient Survey,” The Lancet Regional Health - Western Pacific 23 (April 11, 2022): 100447, https://doi.org/10.1016/j.lanwpc.2022.100447.

Venkatesh Babu Kilari and Terry Oroszi, “The Misuse of Antibiotics and the Rise of Bacterial Resistance: A Global Concern,” Pharmacology &Amp Pharmacy 15, no. 12 (January 1, 2024): 508–23, https://doi.org/10.4236/pp.2024.1512028.

"Obat Flu". Badan POM. Diakses Januari 2026.

"Clinical practice guidelines for influenza". World Health Organization. Diakses Januari 2026.

"Healthy Habits: Antibiotic Do's and Don'ts". Centers for Disease Control and Prevention. Diakses Januari 2026.

"Misconceptions about antibiotics, once known as "miracle drugs," result in their misuse and overuse, which has become a worldwide health problem". Biosupplytrends. Diakses Januari 2026.

"Hati-hati dengan Antibiotik". Kemenkes RI. Diakses Januari 2026.

"Infectious Diseases A-Z: Why you shouldn’t take antibiotics for cold, flu symptoms". Mayo Clinic. Diakses Januari 2026.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
Delvia Y Oktaviani
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More