Otak bekerja menggunakan sinyal listrik yang memungkinkan sel-sel saraf saling berkomunikasi untuk mengendalikan gerakan, pikiran, dan fungsi tubuh lainnya. Ketika ada tumor, jaringan otak di sekitarnya dapat mengalami iritasi atau tertekan sehingga aktivitas listrik normal menjadi terganggu. Gangguan ini dapat memicu lonjakan sinyal listrik yang tidak terkendali, yang kemudian menyebabkan kejang.
Risiko terjadinya kejang tidak sama pada setiap pasien tumor otak. Beberapa jenis tumor, seperti tumor glioneuronal dan glioma derajat rendah, lebih sering memicu kejang dibandingkan jenis tumor lainnya.
Selain itu, lokasi tumor juga berperan penting. Tumor yang tumbuh di lobus temporal memiliki kemungkinan lebih besar menyebabkan kejang karena area otak tersebut sangat sensitif terhadap gangguan atau iritasi.
Sementara itu, meningioma juga dapat memicu kejang apabila pertumbuhannya menekan permukaan otak yang berperan dalam menghasilkan aktivitas listrik.