Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

7 Makanan yang Perlu Dihindari Pasien Epilepsi

7 Makanan yang Perlu Dihindari Pasien Epilepsi
ilustrasi burger dan kentang goreng (pexels.com/Shameel mukkath)
Intinya Sih
  • Pola makan penting dalam pengelolaan epilepsi karena beberapa jenis makanan dapat memicu kejang, mengganggu efektivitas obat, dan menyebabkan peradangan pada sistem saraf.

  • Makanan yang perlu dihindari meliputi gula tinggi, junk food, lemak jenuh, kafein, alkohol, garam berlebih, serta buah tertentu yang bisa berinteraksi dengan obat antiepilepsi.

  • Pengidap epilepsi disarankan menerapkan diet seimbang berbasis makanan segar dan berkonsultasi dengan dokter untuk menyesuaikan pola makan sesuai respons tubuh masing-masing.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Kendati pengobatan dan penyesuaian gaya hidup merupakan kunci dalam pengelolaan epilepsi, tetapi pola makan sering kali diabaikan. Makanan tertentu dapat memicu kejang, mengganggu efektivitas pengobatan, atau menyebabkan peradangan. Dengan menerapkan diet epilepsi yang terstruktur dengan baik, kamu dapat membantu mengelola gejala secara lebih efektif.

Makanan dan nutrisi memengaruhi fungsi otak, aktivitas neurotransmiter, dan pengendalian kejang. Beberapa makanan dapat berkontribusi pada peradangan, mengganggu sinyal otak, atau mengganggu pengobatan antiepilepsi, yang menyebabkan peningkatan risiko kejang.

Jika kamu atau orang terdekatmu didiagnosis dengan epilepsi, ketahui apa saja makanan yang harus dihindari pasien epilepsi dan bagaimana membuat rencana makan yang aman.

1. Makanan tinggi gula dan indeks glikemik tinggi

Makanan yang mengandung banyak gula atau memiliki indeks glikemik tinggi menyebabkan lonjakan gula darah yang cepat, diikuti oleh penurunan yang tiba-tiba. Fluktuasi ini, bersamaan dengan melewatkan makan atau mengalami kadar gula darah yang sangat tinggi dan rendah, dapat meningkatkan risiko kejang. Karenanya, penting untuk membatasi makanan yang tinggi gula dan indeks glikemik, seperti:

  • Permen.
  • Soda.
  • Jus.
  • Sirop.
  • Kue.

2. Makanan ultraproses dan junk food

Ultra-processed food (UPF) atau makanan ultraproses mengandung pengawet buatan, penambah rasa, pemanis buatan, dan aditif seperti monosodium glutamat (MSG), yang dapat merangsang sistem saraf secara berlebihan dan memicu kejang.

Makanan cepat saji, camilan kemasan, dan makanan beku biasanya tinggi sodium dan lemak tidak sehat.

Itu semua dapat berdampak negatif pada fungsi otak.

3. Lemak jenuh dan lemak trans

Margarin.
ilustrasi margarin, salah satu sumber lemak jenuh (pexels.com/Felicity Tai)

Kendati lemak sehat merupakan bagian penting dari diet seimbang, tetapi lemak jenuh dan lemak trans tidak begitu baik untukmu. Lemak ini dapat meningkatkan kadar kolesterol dan risiko penyakit jantung. Oleh sebab itu, penting untuk membatasi sumber lemak jenuh dan lemak trans berikut dan memilih pilihan yang lebih sehat:

  • Mentega.
  • Margarin.
  • Lemak sapi.
  • Minyak kelapa, minyak sawit, dan minyak inti sawit.
  • Makanan olahan seperti kue kemasan, biskuit, atau piza beku.

4. Kafein

Kafein merangsang sistem saraf pusat. Meskipun penelitian lebih lanjut diperlukan untuk lebih memahami hubungan antara sistem saraf, epilepsi, dan kafein, tetapi ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa kafein dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya kejang. Pertimbangkan untuk membatasi minuman berkafein, seperti:

  • Kopi.
  • Teh.
  • Soda.
  • Minuman energi.

5. Alkohol

Alkohol bisa menurunkan ambang kejang, artinya otak jadi lebih mudah mengalami kejang dibanding biasanya. Selain itu, alkohol juga bisa berinteraksi secara berbahaya dengan obat epilepsi seperti carbamazepine dan diazepam. Kombinasi ini bisa membuat efek obat jadi tidak stabil.

Alkohol juga menyebabkan dehidrasi, yang bisa memicu ketidakseimbangan elektrolit dalam tubuh. Semua faktor ini meningkatkan risiko kejang. Bahkan, konsumsi dalam jumlah sedang pun tetap perlu diwaspadai.

6. Makanan tinggi garam

Keripik kentang.
ilustrasi keripik (vecteezy.com/NARONG KHUEANKAEW)

Makanan tinggi garam—seperti daging olahan, keripik, dan fast food—dapat mengganggu keseimbangan elektrolit. Padahal, elektrolit berperan penting dalam menjaga kerja sinyal listrik di otak. Jika terganggu, risiko kejang bisa meningkat.

Disarankan untuk membatasi asupan garam kurang dari 2.300 mg per hari, serta lebih memilih makanan segar dibanding camilan asin kemasan.

7. Buah yang bisa berinteraksi dengan obat

Beberapa jenis buah ternyata bisa memengaruhi cara hati memproses obat antiepilepsi. Akibatnya, kadar obat dalam darah bisa menjadi terlalu tinggi (berisiko toksik) atau justru terlalu rendah (perlindungan terhadap kejang berkurang). Buah yang perlu diwaspadai antara lain:

  • Grapefruit.
  • Delima.
  • Jeruk nipis.
  • Belimbing.
  • Murbei hitam.

Interaksi ini terutama perlu diperhatikan jika mengonsumsi obat seperti carbamazepine atau midazolam. Sebaiknya hindari buah-buahan tersebut atau konsultasikan dulu dengan apoteker. Bahkan satu gelas kecil jus bisa bertahan efeknya dalam tubuh selama beberapa jam. Sebagai alternatif yang lebih aman, pilih buah seperti apel atau beri.

Pada akhirnya, mengelola epilepsi bukan hanya soal minum obat secara rutin, tetapi juga tentang memilih apa yang masuk ke dalam tubuh setiap hari. Menghindari makanan pemicu dan lebih banyak mengonsumsi makanan segar serta bergizi seimbang bisa membantu menjaga kestabilan fungsi otak.

Setiap orang bisa memiliki respons yang berbeda, jadi penting untuk mengenali pola tubuh sendiri dan berkonsultasi dengan dokter sebelum melakukan perubahan besar pada pola makan. Dengan langkah yang tepat dan konsisten, pengidap epilepsi tetap bisa menjalani hidup yang aktif, sehat, dan penuh percaya diri.

Referensi

Epilepsy Association. Diakses pada Februari 2026. "Are There Foods You Should Avoid With Epilepsy?"

Everyday Health. Diakses pada Februari 2026. "The Best and Worst Foods to Eat When You Have Epilepsy."

Kids Neuro Clinic. Diakses pada Februari 2026. "Foods to Avoid with Epilepsy: Diet and Seizures."

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More