Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengenal Circadian Depression, Subtipe Depresi Baru
ilustrasi circadian depression (pexels.com/Miriam Alonso)

  • Circadian depression adalah profil depresi yang diusulkan peneliti, terkait ketidakselarasan ritme tidur-bangun dengan aktivitas harian, bukan kondisi yang otomatis dialami orang yang suka begadang.

  • Studi pada 11.380 peserta dengan riwayat depresi menemukan 23% memiliki profil sirkadian, yang berkaitan dengan onset lebih dini, gejala lebih berat, dan laporan respons obat lebih rendah.

  • Profil ini belum menjadi diagnosis resmi; kriterianya masih sementara, data tidak membuktikan sebab-akibat, dan pilihan terapi perlu dibahas dengan tenaga kesehatan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ada orang yang sering sulit tidur malam, tetapi tetap harus bangun pagi untuk bekerja atau mengurus keluarga. Akibatnya, tubuh terasa lelah sepanjang hari. Pada sebagian orang yang mengalami depresi, pola tidur seperti ini mungkin menjadi bagian dari kondisi yang lebih luas.

Peneliti menyebutnya circadian depression, yaitu depresi yang diduga berkaitan dengan gangguan ritme sirkadian, atau jam biologis tubuh yang mengatur siklus tidur dan bangun selama sekitar 24 jam. Namun, ini bukan berarti semua orang yang suka begadang mengalami depresi. Istilah ini digunakan peneliti untuk memahami apakah pada sebagian orang, depresi berkaitan dengan gangguan pada jam biologis tubuh.

Apa yang dimaksud dengan circadian depression?

Istilah ini menggambarkan profil depresi yang mungkin disertai pola tidur-bangun tidak selaras dengan tuntutan sehari-hari. Gagasan tersebut sudah diusulkan dalam sebuah tinjauan ilmiah pada 2021. Pada Oktober 2026, studi baru dalam The British Journal of Psychiatry menguji profil itu pada kelompok besar peserta dengan riwayat depresi.

Dalam studi terbaru, peneliti mengelompokkan peserta berdasarkan enam ciri yang berhubungan dengan ritme tubuh:

  • Pola suasana hati atau kondisi yang berubah mengikuti musim.

  • Waktu tidur yang lebih larut.

  • Kecenderungan lebih aktif pada malam hari.

  • Perbedaan waktu tidur yang cukup jauh antara hari kerja dan hari libur, disebut social jet lag.

  • Tidur jauh lebih lama saat episode depresi terburuk.

  • Rasa sangat lelah pada setengah jam pertama setelah bangun.

Untuk keperluan penelitian, peserta perlu memiliki setidaknya tiga dari enam ciri tersebut agar masuk kelompok sirkadian. Ambang ini merupakan definisi sementara untuk penelitian. Satu atau dua ciri, misalnya lebih nyaman bekerja malam, tidak otomatis berarti seseorang mengalami depresi.

Temuan studi terbaru

ilustrasi depresi (pexels.com/Alexandru Molnar)

Studi menggunakan data 11.380 peserta dari Australian Genetics of Depression Study. Sebanyak 2.604 orang, atau 23 persen dari kelompok tersebut, diklasifikasikan memiliki profil sirkadian. Mereka cenderung melaporkan depresi yang mulai lebih awal dan sejumlah gejala yang lebih berat, termasuk pengalaman menyerupai hipomania, pikiran bunuh diri, tekanan psikologis, keluhan fisik, serta kenaikan berat badan saat episode depresi.

Namun, ada catatan penting. Peserta bukan sampel acak masyarakat umum. Mereka memiliki riwayat depresi dan kelompok studi secara keseluruhan banyak mencakup orang dengan depresi berat atau berulang. Jadi, hasilnya tidak menunjukkan bahwa 23 persen dari semua orang, atau 23 persen dari semua orang dengan depresi di berbagai negara, mengalami profil ini.

Studi itu juga hanya menganalisis peserta dengan latar genetik Eropa, sehingga hasilnya belum tentu berlaku sama pada populasi lain.

Peneliti turut menemukan hubungan antara profil sirkadian dan laporan peserta tentang manfaat yang lebih rendah serta efek samping yang lebih banyak saat menggunakan obat antidepresan golongan SSRI atau SNRI. Namun, respons obat tersebut dinilai berdasarkan laporan peserta, bukan uji klinis yang membandingkan pengobatan. Temuan ini tidak membuktikan bahwa obat tersebut tidak akan bekerja, atau bahwa seseorang perlu menghentikannya. Jangan mengubah atau menghentikan obat tanpa berdiskusi dengan dokter.

Apakah ini sudah menjadi diagnosis resmi?

Belum.

Penulis studi menegaskan bahwa kriteria yang digunakan untuk mengidentifikasi circadian depression masih bersifat sementara dan eksploratif.

Selain itu, penelitian ini hanya mengamati data pada satu waktu sehingga tidak bisa memastikan apakah gangguan ritme tubuh menyebabkan depresi, depresi memengaruhi pola tidur, atau keduanya saling berkaitan.

Penilaian juga didasarkan pada laporan peserta sendiri, tanpa pengukuran langsung terhadap penanda biologis jam tubuh. Karena itu, hasilnya masih perlu dikonfirmasi pada penelitian lain.

Circadian depression juga berbeda dengan depresi yang muncul mengikuti pola musiman. Meski sama-sama dapat melibatkan perubahan ritme tubuh, tetapi American Psychiatric Association menjelaskan bahwa depresi musiman dalam DSM-5-TR termasuk gangguan depresi mayor dengan pola musiman. Sementara itu, circadian depression masih merupakan profil yang diusulkan peneliti untuk membantu memahami variasi depresi, bukan diagnosis tersendiri yang telah diakui.

Bagaimana pengobatannya?

ilustrasi konsultasi ke psikolog (pexels.com/SHVETS production)

Peneliti mengusulkan agar studi berikutnya menilai pendekatan yang menargetkan ritme sirkadian, seperti pengaturan waktu tidur dan paparan cahaya. Namun, studi terbaru tersebut tidak menguji terapi itu secara langsung. Terapi terbaik perlu dibahas dengan tenaga kesehatan yang memahami kondisi dan riwayat pasien.

Apabila suasana hati yang rendah atau hilangnya minat berlangsung terus, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau disertai perubahan tidur yang berat, pemeriksaan profesional dapat membantu mencari tahu penyebab dan pilihan perawatan. Jika muncul pikiran untuk menyakiti diri, segera cari pertolongan medis darurat dan beri tahu orang tepercaya.

Referensi

Emiliana Tonini et al., “Clinical and Genetic Correlates of a Circadian Subtype of Depression in the Australian Genetics of Depression Study,” The British Journal of Psychiatry, published online October 20, 2026, https://doi.org/10.1192/bjp.2026.10798.

Joanne S. Carpenter et al., “Circadian Depression: A Mood Disorder Phenotype,” Neuroscience & Biobehavioral Reviews 126 (2021): 79–101, https://doi.org/10.1016/j.neubiorev.2021.02.045.

American Psychiatric Association, “Seasonal Affective Disorder (SAD),” diakses 21 Oktober 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article