ilustrasi depresi (pexels.com/Alexandru Molnar)
Studi menggunakan data 11.380 peserta dari Australian Genetics of Depression Study. Sebanyak 2.604 orang, atau 23 persen dari kelompok tersebut, diklasifikasikan memiliki profil sirkadian. Mereka cenderung melaporkan depresi yang mulai lebih awal dan sejumlah gejala yang lebih berat, termasuk pengalaman menyerupai hipomania, pikiran bunuh diri, tekanan psikologis, keluhan fisik, serta kenaikan berat badan saat episode depresi.
Namun, ada catatan penting. Peserta bukan sampel acak masyarakat umum. Mereka memiliki riwayat depresi dan kelompok studi secara keseluruhan banyak mencakup orang dengan depresi berat atau berulang. Jadi, hasilnya tidak menunjukkan bahwa 23 persen dari semua orang, atau 23 persen dari semua orang dengan depresi di berbagai negara, mengalami profil ini.
Studi itu juga hanya menganalisis peserta dengan latar genetik Eropa, sehingga hasilnya belum tentu berlaku sama pada populasi lain.
Peneliti turut menemukan hubungan antara profil sirkadian dan laporan peserta tentang manfaat yang lebih rendah serta efek samping yang lebih banyak saat menggunakan obat antidepresan golongan SSRI atau SNRI. Namun, respons obat tersebut dinilai berdasarkan laporan peserta, bukan uji klinis yang membandingkan pengobatan. Temuan ini tidak membuktikan bahwa obat tersebut tidak akan bekerja, atau bahwa seseorang perlu menghentikannya. Jangan mengubah atau menghentikan obat tanpa berdiskusi dengan dokter.