Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Mengenal Fenomena Darah dari Donor yang Tidak Divaksinasi di AS
ilustrasi donor darah (IDN Times/NRF)
  • Tidak ada bukti ilmiah bahwa darah dari orang tidak divaksinasi lebih aman.

  • Permintaan ini justru bisa menunda perawatan dan membahayakan pasien.

  • Donasi langsung dari keluarga berisiko lebih tinggi dibanding sistem bank darah.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Permintaan transfusi darah bisa menjadi momen penentu hidup dan mati. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, muncul fenomena yang cukup mengejutkan, yaitu makin banyak pasien atau keluarga yang secara khusus meminta darah dari donor yang tidak divaksinasi (unvaccinated donor).

Permintaan ini tumbuh dari kekhawatiran, informasi yang setengah dipahami, hingga arus misinformasi yang berkembang sejak pandemi COVID-19. Di titik ini, keputusan medis yang seharusnya berbasis sains perlahan bergeser menjadi pilihan yang dipengaruhi persepsi. Padahal, dalam praktiknya, sistem transfusi darah modern dibangun dengan standar keamanan yang sangat ketat.

Kenapa muncul permintaan dari dari donor yang tidak divaksinasi?

Menurut studi yang dipublikasikan dalam jurnal Transfusion, permintaan darah dari donor yang tidak divaksinasi meningkat setelah diluncurkannya vaksin COVID-19. Padahal, vaksin COVID-19 sendiri telah menyelamatkan sekitar 20 juta nyawa hanya dalam tahun pertama penggunaannya.

Namun, di balik keberhasilan tersebut, muncul gelombang misinformasi dan teori konspirasi yang memengaruhi persepsi masyarakat, termasuk dalam hal transfusi darah.

Penelitian ini menemukan bahwa:

  • Dalam periode 2024–2025, satu pusat medis menerima 15 permintaan khusus darah “unvaccinated”.

  • Lebih dari setengah pasien adalah anak-anak.

  • Usia median pasien: 17 tahun.

Artinya, keputusan ini sering kali bukan diambil oleh pasien sendiri, melainkan oleh orang tua atau keluarga.

Apakah darah dari donor yang tidak divaksinasi lebih aman?

ilustrasi donor darah (pexels.com/Lucas Oliveira)

Jawaban singkatnya: tidak ada bukti ilmiah yang mendukung klaim tersebut.

Sistem transfusi darah di negara maju:

  • Menyaring donor secara ketat.

  • Menguji darah untuk HIV, hepatitis, dan patogen lainnya.

  • Mengikuti standar keamanan internasional.

Yang penting dipahami:

  • Status vaksinasi tidak memengaruhi keamanan darah.

  • Tidak ada mekanisme biologis yang membuat darah “lebih aman” karena seseorang tidak divaksinasi.

Lebih jauh lagi:

  • Bank darah tidak mencatat status vaksinasi donor.

  • Tidak ada tes yang bisa membedakan darah dari orang yang divaksinasi atau tidak.

Keputusan yang salah dapat berdampak serius

Ketika permintaan darah dari donor yang tidak divaksinasi tidak bisa dipenuhi, sebagian pasien memilih menunda atau menolak transfusi. Di sinilah risiko mulai muncul.

Dalam studi yang sama, tercatat bahwa dua pasien kondisinya memburuk setelah menolak transfusi standar. Satu mengalami anemia, dan satu lagi mengalami syok hemodinamik, kondisi yang mengancam jiwa.

Selain itu, muncul praktik “donasi langsung” dari keluarga atau kenalan. Sekilas terlihat lebih aman, tetapi justru sebaliknya.

Para peneliti menekankan bahwa donor pertama kali (first-time donors) lebih berisiko membawa patogen dibanding donor rutin. Ini karena donor rutin sudah melalui skrining berulang dan riwayat kesehatannya lebih terpantau. Dengan kata lain, sistem bank darah justru dirancang untuk meminimalkan risiko, bukan sebaliknya.

Fenomena permintaan darah dari donor yang tidak divaksinasi menunjukkan bagaimana persepsi dapat memengaruhi keputusan medis. Memahami informasi berbasis bukti ilmiah sangat penting untuk melindungi diri dan orang lain dari risiko yang sebenarnya bisa dihindari.

Referensi

"More people requesting ‘unvaccinated’ blood for themselves or their children." CIDRAP. Diakses April 2026.

Jeremy W. Jacobs et al., “Directed Donations for Unvaccinated Blood: A Departure From Evidence‐based Medicine Associated With Clinical Harm, Resource Waste, and Oversight Gaps in a Two‐year Single‐center Series,” Transfusion, March 28, 2026, https://doi.org/10.1111/trf.70195.

Editorial Team