Ketika permintaan darah dari donor yang tidak divaksinasi tidak bisa dipenuhi, sebagian pasien memilih menunda atau menolak transfusi. Di sinilah risiko mulai muncul.
Dalam studi yang sama, tercatat bahwa dua pasien kondisinya memburuk setelah menolak transfusi standar. Satu mengalami anemia, dan satu lagi mengalami syok hemodinamik, kondisi yang mengancam jiwa.
Selain itu, muncul praktik “donasi langsung” dari keluarga atau kenalan. Sekilas terlihat lebih aman, tetapi justru sebaliknya.
Para peneliti menekankan bahwa donor pertama kali (first-time donors) lebih berisiko membawa patogen dibanding donor rutin. Ini karena donor rutin sudah melalui skrining berulang dan riwayat kesehatannya lebih terpantau. Dengan kata lain, sistem bank darah justru dirancang untuk meminimalkan risiko, bukan sebaliknya.
Fenomena permintaan darah dari donor yang tidak divaksinasi menunjukkan bagaimana persepsi dapat memengaruhi keputusan medis. Memahami informasi berbasis bukti ilmiah sangat penting untuk melindungi diri dan orang lain dari risiko yang sebenarnya bisa dihindari.
Referensi
"More people requesting ‘unvaccinated’ blood for themselves or their children." CIDRAP. Diakses April 2026.
Jeremy W. Jacobs et al., “Directed Donations for Unvaccinated Blood: A Departure From Evidence‐based Medicine Associated With Clinical Harm, Resource Waste, and Oversight Gaps in a Two‐year Single‐center Series,” Transfusion, March 28, 2026, https://doi.org/10.1111/trf.70195.