Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Studi: Migrain Mungkin Berkaitan dengan Penuaan Otak yang Lebih Cepat

Studi: Migrain Mungkin Berkaitan dengan Penuaan Otak yang Lebih Cepat
ilustrasi migrain (IDN Times/Novaya Siantita)
Intinya Sih
  • Penelitian menunjukkan penderita migrain memiliki usia otak rata-rata empat tahun lebih tua dari usia biologis, terutama pada kasus migrain kronis yang terjadi lebih dari 15 hari per bulan.
  • Migrain berkaitan dengan perubahan struktur otak seperti lesi materi putih dan gangguan aliran darah, dengan risiko lebih tinggi pada penderita migrain dengan aura dibandingkan tanpa aura.
  • Bagian otak seperti hipokampus dan korteks mengalami penyusutan volume akibat migrain, namun pengelolaan yang baik melalui obat, pola tidur teratur, dan kontrol stres dapat membantu menjaga kesehatan otak.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Migrain dikenal sebagai sakit kepala yang mengganggu dan bisa sangat menyiksa. Namun sebenarnya, kondisi neurologis ini ternyata bisa berdampak lebih luas terhadap kesehatan otak.

Dalam beberapa tahun terakhir, para peneliti mulai menemukan hubungan antara migrain dan berbagai perubahan struktur otak yang terjadi seiring waktu. Temuan terbaru bahkan menunjukkan bahwa otak penderita migrain mungkin tampak lebih tua dibanding usia biologis mereka. Meski hasil penelitian ini masih terus dikaji, tetapi temuan tersebut memberikan gambaran bahwa migrain bukanlah masalah yang bisa dianggap sepele, terutama jika terjadi berulang atau bahkan kronis.

Table of Content

1. Penelitian menemukan adanya kesenjangan usia otak

1. Penelitian menemukan adanya kesenjangan usia otak

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam The Journal of Headache and Pain tahun 2023 memperkenalkan konsep yang disebut brain age discrepancy atau kesenjangan usia otak. Istilah ini digunakan untuk membandingkan usia seseorang yang sebenarnya dengan usia otaknya berdasarkan hasil pemindaian MRI.

Hasilnya, para peneliti menemukan bahwa penderita migrain memiliki usia otak rata-rata sekitar 4 tahun lebih tua dibanding usia kronologis mereka.

Kesenjangan ini paling besar ditemukan pada penderita migrain kronis, yaitu mereka yang mengalami sakit kepala setidaknya 15 hari dalam sebulan. Pada kelompok ini, usia otak tampak sekitar empat tahun lebih tua dibanding individu yang tidak mengalami migrain.

Para ahli menilai bahwa kesenjangan usia otak dapat menjadi biomarker yang sensitif untuk menilai dampak jangka panjang migrain kronis terhadap kesehatan otak.

2. Migrain dapat menyebabkan perubahan struktur otak

Penelitian juga menunjukkan bahwa migrain berkaitan dengan berbagai perubahan fisik pada otak. Salah satu perubahan yang paling sering ditemukan adalah munculnya lesi materi putih (white matter lesions). Lesi ini merupakan area kecil pada otak yang menunjukkan adanya kerusakan atau perubahan jaringan.

Risiko munculnya lesi materi putih diketahui meningkat hingga 68 persen pada penderita migrain dengan aura. Sementara itu, penderita migrain tanpa aura tetap memiliki risiko sekitar 34 persen lebih tinggi dibanding orang yang tidak mengalami migrain.

Selain itu, penelitian juga menemukan peningkatan sekitar 44 persen pada kelainan yang menyerupai infark atau gangguan aliran darah di otak pada penderita migrain dengan aura (Neurology, 2013).

3. Bagian otak yang paling terdampak

Model anatomi otak manusia berwarna cokelat muda dan ungu yang menunjukkan struktur bagian dalam otak secara detail.
ilustrasi otak (unsplash.com/Robina Weermeijer)

Perubahan akibat migrain tidak terjadi hanya pada satu area otak saja. Beberapa bagian penting yang diketahui dapat mengalami perubahan antara lain:

1. Hipokampus

Hipokampus berperan penting dalam proses pembentukan memori dan kemampuan belajar. Penderita migrain kronis dapat mengalami penyusutan volume hipokampus hingga sekitar 15 persen dibandingkan individu sehat. Kondisi ini berpotensi memengaruhi fungsi kognitif dalam jangka panjang.

2. Korteks otak

Migrain juga dikaitkan dengan berkurangnya volume pada beberapa area korteks, termasuk:

  • Korteks frontal dan prefrontal.
  • Korteks temporal.
  • Korteks parietal.
  • Korteks oksipital.
  • Insula.

Area-area tersebut berperan dalam berbagai fungsi penting seperti pengambilan keputusan, pemrosesan sensorik, perhatian, dan pengolahan informasi visual.

3. Materi putih

Kelainan pada materi putih cenderung semakin banyak ditemukan pada penderita yang mengalami migrain lebih sering. Temuan ini mengindikasikan bahwa perubahan anatomi otak mungkin berkembang secara bertahap seiring meningkatnya frekuensi serangan.

4. Mengapa migrain bisa mempercepat penuaan otak?

Hingga saat ini, para ilmuwan masih belum mengetahui mekanisme pasti yang menghubungkan migrain dengan penuaan otak yang lebih cepat. Namun, beberapa faktor diduga berperan, antara lain:

  • Kerusakan pembuluh darah kecil.
  • Peradangan yang terjadi selama serangan migrain.
  • Gliosis atau perubahan pada sel pendukung saraf.
  • Kerusakan lapisan pelindung saraf (demielinasi).
  • Kurang tidur yang berulang.
  • Stres kronis.

Hubungan ini tampaknya lebih kuat pada migrain dengan aura. Para peneliti menduga gangguan aktivitas saraf yang terjadi selama fase aura dapat memperbesar perubahan yang terjadi pada jaringan otak.

5. Apa yang bisa dilakukan untuk melindungi kesehatan otak?

Kabar baiknya, pengelolaan migrain yang tepat dapat membantu mengurangi risiko perubahan otak jangka panjang. Beberapa langkah yang direkomendasikan, meliputi:

  • Menggunakan obat pencegahan migrain bila diperlukan.
  • Mengobati serangan migrain sesegera mungkin.
  • Menjaga pola tidur yang teratur.
  • Mengelola stres dengan baik.
  • Menghindari pemicu migrain yang sudah diketahui.
  • Melakukan pemeriksaan rutin ke dokter saraf, terutama jika mengalami migrain kronis.

Makin baik migrain dikendalikan, makin kecil kemungkinan serangan berulang memberikan dampak negatif terhadap jaringan otak.

Referensi

AuntMinnie. Diakses pada Juni 2026. "Older MRI-identified Brain Age Linked to Chronic Migraine."

Bashir, A., Lipton, R. B., Ashina, S., & Ashina, M. (2013). "Migraine and structural changes in the brain." Neurology, 81(14), 1260–1268. https://doi.org/10.1212/wnl.0b013e3182a6cb32.

Choudhary, A. (2025). "Chronic migraine and Accelerated Brain ageing: A focus on hippocampal atrophy." Medical Research Archives, 13(7). https://doi.org/10.18103/mra.v13i7.6728.

Health. Diakses pada Juni 2026. "Research Shows Migraines May Be Linked To Faster Brain Aging."

Liu, H., Kuo, C., Lee, P., Liu, Y., Chen, W., Chen, S., Wang, Y., Lin, C., Chou, K., & Wang, S. (2026). "Accelerated brain ageing in migraine: a multilevel MRI-based brain-age modelling study." Brain Communications, 8(2), fcag110. https://doi.org/10.1093/braincomms/fcag110.

Medical News Today. Diakses pada Juni 2026. "Everything You Need to Know About Migraine."

Navarro-González, R., García-Azorín, D., Guerrero-Peral, Á. L., Planchuelo-Gómez, Á., Aja-Fernández, S., & De Luis-García, R. (2023). "Increased MRI-based Brain Age in chronic migraine patients." The Journal of Headache and Pain, 24(1), 133. https://doi.org/10.1186/s10194-023-01670-6.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F

Related Articles

See More