- Tambahkan susu atau kreamer ke dalam kopi
Mitos atau Fakta: Minum Kopi Saat Perut Kosong Berbahaya

- Minum kopi saat perut kosong tidak berbahaya bagi kebanyakan orang.
- Namun, penderita asam lambung atau pencernaan sensitif tetap perlu waspada jika harus minum kopi saat perut kosong.
- Tidak ada waktu paling ideal untuk minum kopi, tetapi kombinasi dengan makanan tinggi serat, lemak sehat, dan protein dapat membantu mengurangi efek asam lambung.
Bagi banyak orang, ngopi seolah jadi ritual wajib pagi hari. Bahkan, tidak sedikit yang langsung meneguk kopi begitu bangun tidur meski belum sempat sarapan. Sayangnya, kebiasaan ini sering memicu perdebatan, terutama terkait dampaknya bagi kesehatan pencernaan.
Di tengah banyaknya anggapan yang beredar, muncul pertanyaan yang kerap diperdebatkan, mitos atau fakta minum kopi saat perut kosong berbahaya bagi tubuh? Ada yang meyakini kebiasaan ini bisa memicu gangguan kesehatan, tetapi ada juga yang menilai aman-aman saja. Untuk mengetahui jawabannya, simak penjelasan lengkapnya berikut.
Table of Content
Mitos atau fakta: minum kopi saat perut kosong berbahaya
Menurut Bonnie Jortberg, PhD, RD, ilmuwan gizi sekaligus Associate Professor of Family Medicine di University of Colorado Anschutz Medical Campus, anggapan minum kopi sebelum sarapan berbahaya lebih banyak berupa mitos. Menurutnya, sebagian besar orang tidak akan mengalami masalah berarti meski minum kopi dalam kondisi perut kosong. Namun, ada satu kemungkinan yang munculnya, yakni sedikit peningkatan asam lambung.
Jortberg juga menjelaskan bahwa sebagian orang memang bisa merasakan ketidaknyamanan, seperti mulas atau perut sedikit perih. Meski begitu, belum ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa kebiasaan minum kopi saat perut kosong dapat menyebabkan gangguan pada saluran cerna.
Faktanya, orang yang memang sensitif terhadap kopi biasanya tetap mengalami gejala seperti heartburn, mual, atau rasa tidak nyaman di perut kapan pun. Artinya, masalahnya bukan semata-mata karena kopi diminum ketika perut kosong, melainkan respons tubuh masing-masing terhadap kafein dan kandungan kopi itu sendiri.
Tips minum kopi saat perut kosong bagi pemilik asam lambung atau pencernaan sensitif

Meski minum kopi saat perut kosong umumnya tidak berbahaya bagi kebanyakan orang, tapi sebagian dari kita tetap bisa mengalami keluhan tertentu. Kabar baiknya, ada beberapa cara sederhana yang bisa dilakukan untuk mengurangi dampaknya tanpa harus langsung berhenti minum kopi. Berikut beberapa tips yang bisa kamu coba.
Menambahkan susu dapat membantu mengurangi tingkat keasaman kopi. Namun, jika kamu memiliki intoleran laktosa pilihlah susu nabati seperti almond, kedelai, oat milk agar tidak memicu masalah pencernaan tambahan.
- Pilih kopi dark roast
Penelitian menunjukkan bahwa kopi dengan tingkat sangrai gelap (dark roast) cenderung lebih sedikit merangsang produksi asam lambung dibandingkan light roast. Ini bisa jadi pilihan yang lebih aman untuk kamu yang perutnya sensitif.
- Kurangi jumlah kopi atau pilih decaf
Jika muncul gejala seperti gelisah, jantung berdebar, atau asam lambung, cobalah mengurangi jumlah kopi atau beralih ke kopi tanpa kafein alias decaf. Namun, setelah meminumnya amati pula, apakah keluhan berkurang atau tidak.
- Perhatikan batas aman kafein harian
Agar tetap aman, pastikan konsumsi kafein tidak melebihi sekitar 400 miligram per hari. Pasalnya, terlalu banyak kafein justru bisa memicu efek samping, terlepas dari kopi diminum saat perut kosong atau tidak.
Apakah ada waktu terbaik minum kopi?
Menurut ahli, sebenarnya tidak ada satu waktu paling ideal untuk semua orang. Setiap tubuh dapat menunjukkan reaksi berbeda terhadap kafein, jadi hal terpenting adalah memahami dan mendengarkan responnya.
Sebagian orang mungkin baik-baik saja minum kopi saat perut kosong sehingga tak merasakan keluhan apa pun. Namun, jika kamu termasuk yang mudah merasa tidak nyaman, mengombinasikan kopi dengan sarapan yang tepat bisa membantu mengurangi efek asam lambung.
Beberapa jenis makanan yang disarankan untuk dikonsumsi sebelum atau bersamaan dengan kopi antara lain:
- Makanan tinggi serat, seperti roti gandum utuh, sereal, atau oatmeal
- Lemak sehat, seperti alpukat, kacang-kacangan, dan selai kacang
- Makanan tinggi protein, seperti telur dan yoghurt.
Jadi, mitos atau fakta minum kopi saat perut kosong berbahaya lebih tepat disebut sebagai mitos. Meski begitu, karena efeknya sangat bergantung pada kondisi tubuh masing-masing, sebaiknya perhatikan reaksi tubuhmu dan hindari jika kamu punya asam lambung, ya. Untuk panduan tepatnya, tak ada salahnya berkonsultasi dengan dokter.
FAQ seputar mitos atau fakta minum kopi saat perut kosong berbahaya
| Apakah minum kopi saat perut kosong benar-benar berbahaya? | Tidak. Bagi kebanyakan orang, minum kopi saat perut kosong tergolong aman dan lebih dekat ke mitos. |
| Kenapa ada orang yang merasa perut tidak nyaman setelah minum kopi? | Biasanya karena tubuh lebih sensitif terhadap kafein atau asam lambung, bukan semata karena perut kosong. |
| Apakah kopi bisa memicu asam lambung naik? | Kopi memang bisa meningkatkan asam lambung, tetapi tidak selalu menyebabkan gangguan pencernaan. |
| Lebih aman minum kopi sebelum atau sesudah makan? | Tergantung kondisi tubuh masing-masing. Jika sering tidak nyaman, minum kopi setelah makan bisa jadi pilihan. |
| Apa yang bisa dilakukan jika ingin tetap minum kopi di pagi hari? | Kamu bisa menambahkan susu, memilih dark roast, atau mengurangi jumlah kopi agar lebih nyaman. |
Referensi
“Is It Bad to Drink Coffee on an Empty Stomach? Here's What Experts Want You to Know”. Health. Diakses Desember 2025.
“Spilling the Beans: How Much Caffeine is Too Much?”. U.S. Food & Drug Administration. Diakses Desember 2025.
“Is It OK To Drink Coffee on an Empty Stomach?”. Cleveland Clinic. Diakses Desember 2025.
Rubach, Malte, Roman Lang, Gerhard Bytof, Herbert Stiebitz, Ingo Lantz, Thomas Hofmann, and Veronika Somoza. “A Dark Brown Roast Coffee Blend Is Less Effective at Stimulating Gastric Acid Secretion in Healthy Volunteers Compared to a Medium Roast Market Blend.” Molecular Nutrition & Food Research 58, no. 6 (February 8, 2014): 1370–73.


















