Scott E. "How to Use Neuroscience and Cognitive Behavioral Therapy to Declutter Your Mind, Stop Overthinking and Quickly Overcome Anxiety, Worry and Panic Attacks." Amazon Digital Services LLC-KDP Print US; 2020.
Gray J, Moore D. "Stop Overthinking: 3 Books In 1: Overthinking, Self-Discipline, Cognitive Behavioral Therapy. Declutter Your Mind, Create Atomic Habits and Happiness to Manage Anger, Stress, Anxiety and Depression." Illinois: Independent Publishing Corporation; 2020.
Algorani EB, Gupta V. Coping Mechanisms. [Updated 2023 Apr 24]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2025 Jan. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK559031/.
Aghata, A., Prawesti, D. R. D., & Perbani, W. S. A. (2024). "The Phenomenon of Overthinking in Generation Z: A Cognitive Psychology Perspective." International Journal for Science Review, 1(1), 1-7. https://doi.org/10.71364/ijfsr.v1i1.1.
Espinosa F, Martin-Romero N, Sanchez-Lopez A. "Repetitive Negative Thinking Processes Account for Gender Differences in Depression and Anxiety During Adolescence." Int J Cogn Ther. 2022;15(2):115-133. doi: 10.1007/s41811-022-00133-1. Epub 2022 Feb 26. PMID: 35251444; PMCID: PMC8881790.
Gustavson DE, du Pont A, Whisman MA, Miyake A. "Evidence for Transdiagnostic Repetitive Negative Thinking and Its Association with Rumination, Worry, and Depression and Anxiety Symptoms: A Commonality Analysis." Collabra Psychol. 2018;4(1):13. doi: 10.1525/collabra.128. Epub 2018 May 17. PMID: 30761388; PMCID: PMC6370308.
Michl LC, McLaughlin KA, Shepherd K, Nolen-Hoeksema S. "Rumination as a mechanism linking stressful life events to symptoms of depression and anxiety: longitudinal evidence in early adolescents and adults." J Abnorm Psychol. 2013 May;122(2):339-52. doi: 10.1037/a0031994. PMID: 23713497; PMCID: PMC4116082.
Zhang A, Borhneimer LA, Weaver A, Franklin C, Hai AH, Guz S, et al. "Cognitive behavioral therapy for primary care depression and anxiety: a secondary meta-analytic review using robust variance estimation in meta-regression." J Behav Med [Internet]. 2019;42(6):1117–41. Available from: https://doi.org/10.1007/s10865-019-00046-z.
Mitos atau Fakta: Overthinking Tanda Gangguan Mental?

- Overthinking bukan diagnosis gangguan mental, tetapi bisa menjadi gejala depresi dan kecemasan.
- Overthinking adalah pola pikiran negatif yang berulang tanpa solusi jelas, disebut rumination atau over-analysis.
- Cognitive Behavioral Therapy (CBT) efektif mengatasi overthinking dengan mengubah pikiran otomatis menjadi lebih rasional.
Istilah "overthinking" kerap digunakan untuk menggambarkan pola pikiran berulang, menganalisis berbagai kemungkinan yang akan terjadi, dan sulit menghentikan alur pikiran dengan menginvestasikan sebagian energi yang dimiliki, yang dapat berujung pada stres, kecemasan, ketakutan ataupun perasaan negatif lainnya.
Di media sosial, overthinking menjadi topik yang sering dibicarakan dan bahkan sering dilabeli sebagai tanda gangguan mental, seolah setiap orang yang kerap terjebak dalam pikirannya sendiri sedang mengalami masalah kejiwaan. Namun, benarkah demikian?
Table of Content
Overthinking bukan diagnosis gangguan mental
Menurut literatur ilmiah, overthinking bukan diagnosis dari gangguan mental, tetapi bisa merupakan bagian gejala yang ditemukan pada masalah kejiwaan seperti depresi dan gangguan kecemasan.
Dalam bidang kesehatan mental, overthinking bukanlah hal yang sederhana. Secara alamiah, manusia ingin memiliki kontrol dan kepastian dalam hidupnya. Peristiwa yang dialami membuat otak akan menginterpretasikan situasi dan menimbulkan emosi.
Overthinking terjadi karena pikiran terus bergulat dengan banyaknya kemungkinan yang dihadapi. Jika seseorang menginterpretasikan situasi yang dialaminya sebagai hal yang negatif terus-menerus, maka itu akan menimbulkan perasaan negatif yang membuat tidak nyaman.
Lantas apakah setiap kita berpikir tentang masalah atau situasi yang dihadapi merupakan tanda masalah kejiwaan? Belum tentu, karena saat berpikir dan merencanakan untuk menyelesaikan masalah dengan berbagai pilihan, itu merupakan bagian dari mekanisme koping atau cara dalam mengatasi masalah.
Selain berpikir mengenai penyelesaian masalah, mekanisme koping juga disertai dengan perilaku untuk mengatasi situasi yang membuat stres. Semenara itu, overthinking adanya pola pikiran negatif yang berulang sehingga hanya fokus pada pikirannya tanpa memiliki solusi yang jelas.
Konsep overthinking dalam perspektif psikologi

Overthinking bukanlah istilah umum yang digunakan dalam bidang kesehatan jiwa. Ada beberapa istilah medis yang digunakan untuk menjelaskan mengenai proses overthinking.
Pada overthinking, ada dua proses berpikir yang terjadi, yaitu rumination dan over-analysis.
Pola pikir berulang yang hanya berfokus pada masalah ataupun situasi tanpa adanya penyelesaian masalah disebut sebagai rumination atau ruminasi. Sementara itu, over-analysis timbul saat seseorang merasa perlu untuk berpikir dari segala aspek situasi secara lebih dalam.
Beberapa studi menyebutkan ruminasi pikiran dapat meningkatkan risiko terjadinya kecemasan dan depresi. Mengapa hal ini bisa terjadi? Ruminasi meningkatkan kesenjangan antara kondisi kehidupan saat ini dan target yang ingin dicapai yang belum dapat terselesaikan.
Pendekatan terapi kognitif perilaku dalam mengatasi overthinking
Pendekatan psikologis seperti cognitive behavioral therapy (CBT) atau terapi perilaku kognitif merupakan terapi yang telah terbukti efektif dalam mengatasi gangguan cemas dan depresi.
CBT membantu mengubah pikiran otomatis yang muncul pada overthinking yang sering kali sifatnya tidak rasional. Dengan menyadari dan memahami pola pikir yang muncul, kemudian memodifikasinya menjadi lebih rasional. Selain itu pendekatan ini juga membantu mengembangkan strategi koping untuk meredakan kecemasan.
Menyebut overthinking semata-mata sebagai gangguan mental adalah penyederhanaan yang keliru. Namun, overthinking merupakan bagian gejala masalah kesehatan jiwa. Jika kamu merasa overthinking yang kamu alami sudah mengganggu kehidupan sehari-hari, jangan ragu untuk membuat janji temu dengan tenaga profesional kesehatan jiwa.
Referensi



















