Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mitos Kesehatan yang Masih Sering Dipercaya Netizen, Cek Faktanya
ilustrasi perempuan kehujanan (pexels.com/Anastasiya Lobanovskaya)
  • Banyak mitos kesehatan viral keliru: mandi malam tidak menyebabkan rematik, kehujanan tidak langsung memicu flu, telur tidak menyebabkan bisul, dan MSG pada konsumsi normal tidak terbukti merusak otak.

  • Antibiotik tidak bekerja untuk batuk pilek akibat virus; jus jambu bukan terapi demam berdarah. Kopi moderat tetap menyumbang cairan, sementara luka kecil bersih sebaiknya lembap dan tertutup.

  • Gula tidak terbukti langsung membuat anak hiperaktif, sedangkan diabetes tipe 2 dipengaruhi banyak faktor. Klaim kesehatan perlu dicek sumber dan buktinya, terutama jika berpotensi menggantikan pemeriksaan medis.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Dari unggahan TikTok, komentar Instagram, sampai grup WhatsApp keluarga, mitos kesehatan masih sering muncul dan dipercaya.

Contohnya: “Jangan mandi malam nanti rematik.” “Makan telur bikin bisul.” “Kena flu, minum antibiotik.” “Kalau demam berdarah, minum jus jambu supaya trombosit naik.”

Klaim-klaim tersebut terdengar akrab karena sering diulang. Sebagian bahkan terasa benar karena gejala muncul setelah seseorang melakukan hal tertentu. Namun, pengalaman yang terjadi berurutan belum tentu menunjukkan bahwa kejadian pertama menyebabkan kejadian berikutnya.

Berikut 10 mitos kesehatan yang masih sering dipercaya netizen dan bukti ilmiahnya.

1. Mitos: Mandi malam menyebabkan rematik

Istilah “rematik” mencakup berbagai penyakit. Contohnya artritis reumatoid, yang merupakan penyakit autoimun, sedangkan osteoartritis berkaitan dengan perubahan dan kerusakan jaringan sendi. Waktu mandi bukanlah penyebab keduanya.

Cuaca dan suhu memang dapat memengaruhi bagaimana sebagian orang dengan kondisi-kondisi tersebut merasakan nyeri. Namun, studi terhadap pasien artritis reumatoid tidak menemukan hubungan keseluruhan yang signifikan antara suhu, kelembapan, tekanan udara, atau kecepatan angin dengan nyeri artritis reumatoid. Beberapa faktor cuaca hanya menunjukkan hubungan kecil dengan ukuran gejala tertentu.

Jadi, seseorang yang merasa sendinya lebih nyeri setelah mandi malam atau berada di tempat dingin tidak berarti paparan dingin telah menimbulkan penyakit sendinya. Sensasi nyeri dan penyebab penyakit adalah dua hal berbeda.

2. Mitos: Kehujanan atau kedinginan langsung menyebabkan flu

Mungkin kamu pernah membaca komentar di media sosial seperti: "Aku flu karena habis kehujanan kemarin."

Hubungannya memang terasa jelas ketika seseorang kehujanan, lalu beberapa hari kemudian pilek.

Namun, pilek (common cold atau selesma) dan influenza merupakan infeksi virus. Lebih dari 200 virus dapat menyebabkan gejala selesma, sedangkan influenza disebabkan oleh virus influenza.

Meski begitu, anggapan soal udara dingin tidak sepenuhnya muncul tanpa dasar. Studi dalam Journal of Allergy and Clinical Immunology menunjukkan paparan suhu dingin dapat melemahkan salah satu mekanisme pertahanan antivirus pada sel hidung.

Jadi lebih tepatnya, dingin dapat memengaruhi kerentanan tubuh, tetapi tetap diperlukan virus untuk menyebabkan infeksi. Kehujanan itu sendiri bukan penyebab flu.

3. Mitos: Makan telur menyebabkan bisul

ilustrasi mengupas telur (pexels.com/Ron Lach)

Bisul bukan terbentuk karena seseorang mengonsumsi telur.

Bisul atau furunkel merupakan infeksi pada folikel rambut atau jaringan kulit yang paling sering disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus. Bakteri ini merupakan penyebab yang hampir universal pada furunkel, karbunkel, dan banyak abses kulit.

Telur memang dapat memicu reaksi alergi pada orang yang alergi telur. Namun, reaksi alergi dan bisul akibat infeksi bakteri tidak sama.

Jika benjolan terasa nyeri, membesar, bernanah, disertai demam, atau tidak membaik, penyebabnya perlu dinilai oleh dokter.

4. Mitos: Micin atau MSG bikin bodoh dan merusak otak

Klaim “micin bikin bodoh” kerap dipakai sebagai candaan di internet, tetapi ini dipercaya oleh sebagian netizen. Kekhawatiran ini salah satunya muncul karena MSG mengandung glutamat, sementara glutamat juga berfungsi sebagai neurotransmiter di otak.

Namun, asupan glutamat tidak begitu saja membanjiri otak. Studi menunjukkan konsumsi MSG melalui makanan pada tingkat yang lazim tidak meningkatkan konsentrasi glutamat otak secara bermakna karena metabolisme tubuh dan sawar darah-otak membatasi masuknya glutamat dari darah ke otak.

Penggunaan MSG dalam makanan dikategorikan sebagai generally recognized as safe (GRAS) atau umumnya diakui aman. Studi yang menghasilkan kerusakan saraf pada hewan sering menggunakan dosis sangat tinggi atau cara pemberian yang tidak menyerupai konsumsi makanan manusia.

Sebuah tinjauan sistematis tahun 2026 menyimpulkan bahwa bukti pada manusia tidak menunjukkan efek merugikan MSG pada paparan diet normal.

Meski begitu, penggunaan MSG tetap harus bijak. Konsumsi natrium keseluruhan tetap perlu diperhatikan, terutama jika MSG digunakan bersama banyak garam dan makanan ultraproses.

5. Mitos: Batuk, pilek, dan flu perlu antibiotik

Kalau mengalami batuk atau pilek dan ada yang ujug-ujug komentar “minum antibiotik biar cepat sembuh”, jangan langsung dituruti. Antibiotik ditujukan untuk melawan bakteri, tidak untuk virus.

Antibiotik tidak bermanfaat untuk flu atau pilek yang disebabkan oleh virus, kecuali dokter menemukan infeksi bakteri yang memang membutuhkan antibiotik.

Mengonsumsi antibiotik ketika tidak diperlukan juga berisiko bagi kesehatan. Selain efek samping, penggunaan yang tidak tepat dapat menyebabkan bakteri kebal atau resistan, sehingga infeksi bakteri di masa depan menjadi lebih sulit diobati.

Batuk atau pilek yang tidak membaik tidak otomatis berarti kamu butuh antibiotik. Penyebab, durasi, dan tanda bahaya perlu dievaluasi dulu oleh dokter.

6. Mitos: Jus jambu biji bisa menyembuhkan demam berdarah

ilustrasi jus jambu biji (magnific.com/muhammad.abdullah)

Klaim jus jambu dapat menaikkan trombosit mungkin ada saat kamu membaca konten tentang demam berdarah (dengue).

Jambu biji boleh menjadi bagian dari asupan makanan dan cairan selama sakit jika pasien mampu mengonsumsinya. Namun, jus jambu biji belum terbukti sebagai pengobatan yang dapat menyembuhkan demam berdarah atau secara efektif menaikkan trombosit pasien demam berdarah.

Sampai detik ini tidak ada terapi antivirus spesifik untuk dengue. Pengobatannya berfokus pada pemantauan kondisi pasien, kecukupan cairan, pengendalian gejala, dan penanganan segera jika muncul tanda dengue berat.

Sejumlah temuan mengenai jambu biji dan dengue masih berasal dari penelitian laboratorium, bukan bukti klinis yang cukup untuk menjadikannya terapi.

Tinjauan terhadap uji klinis terapi dengue tahun 2026 bahkan menyimpulkan belum ada satu terapi kandidat pun dengan bukti yang cukup konsisten untuk direkomendasikan dalam praktik klinis.

Jus jambu boleh dikonsumsi sebagai makanan atau minuman, tetapi tidak boleh menggantikan pemantauan medis, cairan yang sesuai, dan pertolongan segera ketika muncul tanda bahaya.

7. Mitos: Kopi bikin tubuh dehidrasi

Kafein memang mempunyai efek diuretik dan dapat membuat produksi urine meningkat, terutama dalam dosis tinggi. Namun, itu tidak otomatis berarti secangkir kopi mengeluarkan lebih banyak cairan daripada yang masuk.

Dalam uji silang terkontrol terhadap 50 laki-laki yang terbiasa minum kopi, konsumsi 4 cangkir kopi per hari tidak menghasilkan perbedaan bermakna pada total air tubuh maupun berbagai indikator hidrasi dibandingkan konsumsi air dalam jumlah setara.

Efeknya bergantung pada dosis. Studi lain menemukan dosis kafein yang tinggi—sekitar 6 mg/kg berat badan—dapat meningkatkan diuresis akut, sementara dosis lebih rendah tidak mengganggu keseimbangan cairan.

Jadi, kopi dalam jumlah moderat tetap menyumbang cairan bagi tubuh, meski air putih tetap pilihan terbaik untuk hidrasi. Saat mengonsumsi kopi, selain jumlah kafein, perhatikan juga tambahan gula, krimer, dan bahan tinggi kalori lainnya.

8. Mitos: Luka harus dibiarkan terbuka supaya cepat kering

Mungkin kamu pernah baca komentar orang untuk membiarkan luka dalam keadaan terbuka agar luka bisa "bernapas". Padahal, untuk luka kecil dan bersih, prinsip perawatan modern biasanya mempertahankan permukaan luka lembap dan terlindungi.

American Academy of Dermatology menganjurkan membersihkan luka ringan, mengoleskan petroleum jelly agar tidak mengering, kemudian menutupnya dengan perban bersih. Lingkungan lembap membantu sel kulit bergerak menutupi luka dan mencegah terbentuknya keropeng tebal yang dapat memperlambat penyembuhan. Dan, perban perlu dijaga tetap bersih dan diganti sesuai kondisi luka.

Akan tetapi, luka dalam, gigitan, luka kotor, perdarahan yang tidak berhenti, atau tanda infeksi tetap membutuhkan pemeriksaan tenaga kesehatan.

9. Mitos: Gula menyebabkan anak hiperaktif

ilustrasi anak makan permen (unsplash.com/Sophie Elvis)

Gula sering jadi tersangka saat anak tampak hiperaktif. Namun, uji terkontrol dan metaanalisis klasik tidak menemukan bahwa pemberian gula secara akut secara konsisten meningkatkan hiperaktivitas atau menurunkan fungsi kognitif anak.

Dalam uji double-blind, bahkan anak yang dianggap orang tuanya sensitif terhadap gula tidak menunjukkan perubahan perilaku konsisten ketika mengonsumsi diet tinggi sukrosa.

Dalam bukti yang lebih baru, memang pola makan tinggi gula dan minuman manis ditemukan berkaitan dengan gejala ADHD dalam banyak studi observasional. Namun, para peneliti mengatakan hubungan sebab-akibat belum dapat dipastikan.

10. Mitos: Diabetes terjadi hanya karena kebanyakan makan gula

Di media sosial, mungkin kamu pernah melihat ada dua kubu. Ada yang menyebut diabetes disebabkan oleh kebanyakan makan gula, sementara ada yang yakin bahwa gula sama sekali tidak berkaitan dengan diabetes.

Diabetes tipe 2 berkembang ketika tubuh makin resistan terhadap insulin dan pada akhirnya tidak mampu mempertahankan kadar glukosa darah normal. Risikonya dipengaruhi oleh kombinasi berat badan, aktivitas fisik, usia, genetik, riwayat keluarga, riwayat diabetes gestasional, serta pola makan. Diabetes tipe 1 bahkan mempunyai mekanisme berbeda yang melibatkan proses autoimun.

Akan tetapi, bukan berarti minuman manis bebas risiko. Metaanalisis 29 kohort tahun 2025 menemukan setiap tambahan satu porsi minuman berpemanis per hari berkaitan dengan sekitar 25 persen risiko diabetes tipe 2 yang lebih tinggi. Menariknya, penelitian tersebut tidak menemukan semua bentuk gula makanan secara konsisten memiliki hubungan yang sama dengan risiko diabetes.

Jadi, gula bukan satu-satunya penyebab diabetes, tetapi pola konsumsi tertentu, terutama minuman berpemanis, dapat meningkatkan risikonya.

Kenapa mitos kesehatan masih dipercaya?

Banyak mitos terasa meyakinkan karena dirasa sesuai dengan pengalaman sehari-hari. Seseorang mandi malam, lalu sendinya terasa nyeri. Orang lain kehujanan, kemudian pilek dua hari setelahnya. Anak makan permen di pesta, lalu hiperaktif. Dari situ, otak mudah menyimpulkan bahwa kejadian pertama adalah penyebab kejadian kedua.

Padahal, ada banyak kemungkinan lain, seperti penyakit sudah mulai berkembang sebelum gejala muncul, seseorang terpapar virus dari orang lain, suasana pesta membuat anak lebih bersemangat, atau nyeri sendi dipengaruhi kondisi yang sudah ada sebelumnya.

Mitos juga mudah menyebar karena dikemas dalam kalimat singkat, emosional, dan terdengar seperti nasihat dari orang tepercaya. Klaim yang diulang berkali-kali bisa terasa benar walaupun buktinya tidak memadai atau bahkan tidak ada.

Beberapa mitos bahkan mengambil satu fakta ilmiah lalu membawanya terlalu jauh. Kafein memang diuretik, tetapi kopi moderat tidak otomatis membuat seseorang dehidrasi. Udara dingin dapat memengaruhi pertahanan hidung, tetapi tidak dapat menciptakan influenza tanpa virus. Gula berperan dalam kesehatan metabolik, tetapi diabetes tidak mempunyai satu penyebab tunggal.

Cara menyikapi klaim kesehatan yang viral

ilustrasi scroling media sosial (pexcels.com/Tuğçe Açıkyürek)

Sebelum membagikan atau mengikuti saran kesehatan dari media sosial, periksa hal-hal ini:

  • Siapa sumbernya? Apakah berasal dari dokter, lembaga kesehatan, jurnal ilmiah, atau hanya akun anonim?

  • Apa jenis buktinya? Testimoni pribadi tidak setara dengan uji klinis atau tinjauan sistematis.

  • Apakah klaimnya terlalu berlebihan? Kata-kata seperti “pasti”, “langsung”, “menyembuhkan”, atau “tanpa efek samping” perlu dicurigai.

  • Apakah ada penjelasan alternatif? Gejala yang muncul setelah suatu tindakan belum tentu disebabkan oleh tindakan tersebut.

  • Apakah saran itu menggantikan pengobatan? Jika iya, risikonya lebih besar, terutama pada penyakit seperti demam berdarah, infeksi berat, atau gangguan pernapasan.

  • Apakah ada tanda bahaya? Jangan menunda pemeriksaan hanya karena mengandalkan tips viral.

Referensi

Chao Hu et al., “Association between Weather Conditions and Rheumatoid Arthritis: A Systematic Review and Meta-analysis,” Autoimmunity Reviews 25, no. 1 (2026): 103941, https://doi.org/10.1016/j.autrev.2025.103941.

Centers for Disease Control and Prevention, “About Common Cold,” diakses Agustus 2026.

Di Huang et al., “Cold Exposure Impairs Extracellular Vesicle Swarm-Mediated Nasal Antiviral Immunity,” Journal of Allergy and Clinical Immunology 151, no. 2 (2023): 509–525.e8, https://doi.org/10.1016/j.jaci.2022.09.037.

Rachel M. Gorwitz et al., “Staphylococcus aureus–Associated Skin and Soft Tissue Infections in Ambulatory Care,” Emerging Infectious Diseases 12, no. 11 (2006): 1715–23.

John D. Fernstrom, “Monosodium Glutamate in the Diet Does Not Raise Brain Glutamate Concentrations or Disrupt Brain Functions,” Annals of Nutrition and Metabolism 73, suppl. 5 (2018): 43–52.

U.S. Food and Drug Administration, “Questions and Answers on Monosodium Glutamate (MSG),” diakses Agustus 2026.

“Systematic Review of Metabolism and Safety Aspects of Monosodium Glutamate Intake in Infants and Lactating Mothers: A Scientific and Regulatory Perspective,” 2026.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, “Penggunaan Antibiotik Bijak,” diakses Agustus 2026.

World Health Organization, “Dengue and Severe Dengue,” diakses Agustus 2026.

Huyen et al., “A Systematic Mapping Review of Therapeutic Clinical Trials in Dengue,” PLOS Neglected Tropical Diseases (2026), https://doi.org/10.1371/journal.pntd.0014382.

Sophie C. Killer, Andrew K. Blannin, and Asker E. Jeukendrup, “No Evidence of Dehydration with Moderate Daily Coffee Intake: A Counterbalanced Cross-Over Study in a Free-Living Population,” PLOS ONE 9, no. 1 (2014): e84154, https://doi.org/10.1371/journal.pone.0084154.

American Academy of Dermatology, “Minimize a Scar: Proper Wound Care Tips from Dermatologists,” diakses Agustus 2026.

Mark L. Wolraich, David B. Wilson, and J. Wade White, “The Effect of Sugar on Behavior or Cognition in Children: A Meta-analysis,” JAMA 274, no. 20 (1995): 1617–21, https://doi.org/10.1001/jama.1995.03530200053037.

Gabriela Georgieva Panayotova and Antoniya Hachmeriyan, “Dietary Carbohydrates and ADHD Symptoms: A Systematic Review,” Nutrients 18, no. 10 (2026): 1625, https://doi.org/10.3390/nu18101625.

World Health Organization, “Diabetes,” diakses Agustus 2026.

Karen A. Della Corte et al., “Dietary Sugar Intake and Incident Type 2 Diabetes Risk: A Systematic Review and Dose-Response Meta-Analysis of Prospective Cohort Studies,” Advances in Nutrition 16, no. 5 (2025): 100413, https://doi.org/10.1016/j.advnut.2025.100413.

Curated For You

Editorial Team

Related Article