American Academy of Ophthalmology. "Diakses pada Agustus 2026. Eye Strain and Sleepy Eyes: How to Prevent Eye Discomfort."
Ceenta. Diakses pada Agustus 2026. "Why DO My Eyes Water When I'm Tired?"
Medical News Today. Diakses pada Agustus 2026. "Why Do My Eyes Water When I Yawn?"
Science Insight. Diakses pada Agustus 2026. "Why Do My Eyes Water When I Yawn, and Is It Normal?"
Mengapa Mata Bisa Berair saat Mengantuk? Ini Penjelasannya

- Menguap dapat menekan kelenjar dan saluran air mata melalui kontraksi otot wajah, sehingga air mata menumpuk lalu keluar sebagai refleks mekanis.
- Saat mengantuk, mata lelah atau kurang tidur dapat mengganggu kedipan dan kestabilan lapisan air mata; kekeringan serta iritasi kemudian memicu produksi air mata refleks.
- AC, kipas, debu, asap, angin, dan menatap layar dapat memperparah mata berair; pemeriksaan diperlukan bila keluhan menetap atau disertai nyeri, merah, bengkak, atau pandangan kabur.
Pernah merasa mata tiba-tiba berair ketika sudah sangat mengantuk? Kondisi ini biasanya makin terasa setelah menguap, terutama ketika tubuh sudah lelah setelah beraktivitas seharian.
Kendati terlihat seperti menangis, tetapi mata berair saat mengantuk umumnya bukan karena emosi. Ada beberapa mekanisme alami yang membuat mata menghasilkan lebih banyak air mata ketika tubuh mulai lelah, mulai dari kebiasaan menguap hingga mata yang mengalami kekeringan.
Lantas, mengapa mata bisa berair saat mengantuk? Ini penjelasannya.
Table of Content
1. Menguap bisa membuat mata mengeluarkan air mata?
Saat menguap, berbagai otot di wajah ikut berkontraksi, termasuk otot yang berada di sekitar kelopak mata. Ketika menguap cukup kuat, kelopak mata biasanya ikut menyipit atau bahkan tertutup rapat. Gerakan tersebut dapat memberikan tekanan sementara pada area di sekitar kelenjar air mata.
Kelenjar air mata atau kelenjar lakrimal terletak di bagian atas setiap mata dan berfungsi menghasilkan air mata. Tekanan saat menguap dapat membuat cairan air mata keluar lebih banyak.
Di sisi lain, ketika kelopak mata terjepit atau tertutup rapat, saluran kecil yang berfungsi mengalirkan air mata juga dapat mengalami tekanan. Akibatnya, air mata yang seharusnya mengalir melalui saluran tersebut bisa menumpuk di permukaan mata dan akhirnya menetes.
Jadi, mata berair setelah menguap lebar merupakan refleks dan mekanis.
2. Mata lelah bisa menjadi kering
Rasa kantuk biasanya datang bersamaan dengan mata yang terasa berat dan lelah. Namun, mata lelah juga bisa mengalami kekeringan.
Ketika tubuh mulai mengantuk, frekuensi berkedip dapat berubah. Kondisi ini juga bisa terjadi setelah terlalu lama menatap layar atau berkonsentrasi pada sesuatu. Padahal, berkedip sangat penting untuk menjaga permukaan mata tetap lembap.
Setiap kali berkedip, kelopak mata membantu menyebarkan lapisan air mata tipis ke seluruh permukaan kornea. Lapisan ini terdiri dari air, minyak, dan lendir yang berfungsi menjaga mata tetap nyaman dan terlindungi.
Jika mata lebih jarang berkedip, lapisan tersebut bisa lebih cepat menguap. Akibatnya, mata menjadi kering dan terasa perih, panas, sepet, atau seperti kemasukan sesuatu.
Menariknya, mata yang kering justru dapat memicu keluarnya lebih banyak air mata. Tubuh secara refleks berusaha membilas dan melindungi permukaan mata yang mengalami iritasi.
3. Kurang tidur bisa memengaruhi kondisi air mata

ilustrasi kurang tidur (pexels.com/SHVETSproduction) Kurang tidur juga dapat mengganggu kondisi permukaan mata. Tidur yang tidak cukup dapat memengaruhi produksi dan kestabilan lapisan air mata. Ketika lapisan air mata tidak stabil, permukaan mata menjadi lebih mudah kering dan mengalami iritasi.
Tubuh kemudian dapat merespons iritasi tersebut dengan menghasilkan air mata refleks. Air mata ini diproduksi untuk membantu membersihkan permukaan mata dan mengurangi rasa tidak nyaman.
Itu bisa menjelaskan kalau kamu kamu kurang tidur, kamu mengalami mata yang terasa kering, merah, berat, atau malah lebih sering berair.
4. Lingkungan juga bisa membuat mata makin berair
Mata yang sudah lelah dan kering dapat menjadi lebih sensitif terhadap lingkungan sekitar. Paparan AC, kipas angin, udara berdebu, asap rokok, angin, hingga kelembapan udara yang rendah dapat mempercepat penguapan air mata.
Menatap layar dalam waktu lama juga dapat memperburuk kondisi karena frekuensi berkedip cenderung berkurang.
Jika kondisi tersebut terjadi ketika sedang mengantuk, mata bisa terasa makin tidak nyaman dan akhirnya mengeluarkan air mata.
Untuk membantu menguranginya, cobalah beristirahat sejenak dari layar, berkedip secara sadar, dan hindari mengarahkan embusan kipas atau AC langsung ke wajah.
5. Kapan mata berair perlu diperiksakan?
Mata berair sesekali ketika mengantuk atau setelah menguap biasanya bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Kondisi ini merupakan respons alami tubuh dan umumnya akan membaik setelah beristirahat.
Namun, sebaiknya periksakan mata jika air mata terus-menerus keluar atau hanya terjadi pada satu mata. Terlebih jika kondisi tersebut disertai mata merah, nyeri, bengkak, sensitif terhadap cahaya, pandangan kabur, keluar cairan dari mata, atau sensasi seperti ada benda yang mengganjal. Ini bisa berkaitan dengan masalah lain, seperti mata kering, alergi, infeksi, atau gangguan pada saluran air mata.
Jadi, mata berair saat mengantuk umumnya terjadi karena kombinasi beberapa hal. Ketika menguap, kontraksi otot di sekitar mata dapat memberikan tekanan pada kelenjar dan saluran air mata. Sementara itu, rasa lelah dan kurang tidur dapat membuat lapisan air mata lebih mudah terganggu sehingga mata menjadi kering dan teriritasi.
Jadi, kalau mata tiba-tiba berair setelah menguap saat sudah mengantuk, bisa jadi mata hanya sedang menjalankan mekanisme alaminya untuk tetap terlindungi.
ReferensiÂ





















