Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Rutin Lari Sebabkan Plak di Jantung, Mitos atau Fakta?

Rutin Lari Sebabkan Plak di Jantung, Mitos atau Fakta?
ilustrasi lari jarak jauh (pexels.com/RUN 4 FFWPU)
Intinya Sih
  • Lari rutin tidak terbukti menyebabkan plak di pembuluh jantung pada kebanyakan orang.

  • Sejumlah penelitian memang menemukan lebih banyak plak pada sebagian atlet endurance laki-laki yang berlatih sangat intens selama puluhan tahun.

  • Pelari tidak perlu berhenti, tetapi tetap harus memperhatikan kolesterol, tekanan darah, diabetes, kebiasaan merokok, riwayat keluarga, dan gejala saat berolahraga.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Lari rutin itu sehat, tetapi beberapa orang khawatir aktivitas ini justru dapat meningkatkan plak di jantung. Kekhawatiran tersebut muncul setelah beberapa penelitian menemukan lebih banyak plak pada pembuluh darah sebagian atlet ketahanan (endurance).

Plak terbentuk di dinding arteri koroner, yaitu pembuluh yang membawa darah dan oksigen ke jantung. Penumpukan lemak, kolesterol, kalsium, dan zat lain di area tersebut disebut aterosklerosis.

Namun, klaim bahwa rutin lari pasti menyebabkan plak adalah kesimpulan yang keliru. Berikut ini penjelasannya lebih lanjut.

1. Penelitiannya melibatkan atlet yang berlatih sangat intens

Salah satu penelitian yang banyak dibicarakan adalah studi Master Heart. Para peneliti membandingkan 191 atlet endurance yang sudah berlatih sejak muda, 191 atlet yang baru mulai setelah berusia 30 tahun, dan 176 laki-laki sehat yang aktif berolahraga namun bukan atlet endurance.

Atlet dalam penelitian ini bukan pelari rekreasional biasa. Mereka berlari sedikitnya 6 jam per minggu, bersepeda sedikitnya 8 jam, atau menjalani latihan triatlon dalam volume serupa. Usia peserta berkisar 45–70 tahun dan semuanya laki-laki.

Hasil CT angiografi menunjukkan bahwa plak koroner lebih sering ditemukan pada atlet yang telah berlatih sepanjang hidup dibandingkan dengan kelompok aktif nonatlet. Jenis plak yang ditemukan tidak hanya plak terkalsifikasi, tetapi juga plak campuran dan tidak terkalsifikasi.

  • Plak terkalsifikasi: mengandung banyak kalsium; lebih keras dan terlihat jelas pada CT jantung; menandakan proses penyakit arteri yang sudah lama.
  • Plak tidak terkalsifikasi: tinggi lemak dan jaringan lunak; lebih rentan pecah sehingga berisiko menyebabkan serangan jantung mendadak.
  • Plak campuran: kombinasi kalsium dan bahan lunak; memiliki karakteristik antara kedua tipe di atas dan risikonya bergantung proporsi komponennya.

Penelitian tersebut tidak membuktikan bahwa latihan menjadi penyebab plak. Pemindaian dilakukan pada satu waktu sehingga para peneliti tidak dapat memastikan kapan plak mulai terbentuk. Pesertanya juga hanya laki-laki kulit putih sehingga hasilnya belum tentu berlaku bagi perempuan atau populasi Asia.

Studi MARC-2 memberikan gambaran tambahan. Para peneliti mengikuti 289 atlet laki-laki paruh baya dan lanjut usia selama sekitar 6 tahun. Total waktu berolahraga tidak berhubungan dengan perkembangan plak. Namun, peserta yang melakukan lebih banyak latihan dalam kategori sangat berat mengalami peningkatan kalsium koroner dan plak terkalsifikasi yang lebih besar.

Sebaliknya, latihan berat—tetapi tidak selalu sampai intensitas maksimal—berkaitan dengan perkembangan kalsium yang lebih lambat.

Artinya, intensitas latihan, usia, jenis kelamin, pola makan, genetik, dan faktor kesehatan lain kemungkinan saling memengaruhi.

2. Ada plak bukan berarti serangan jantung pasti terjadi

Seorang pelari berlari di lintasan atletik merah di bawah langit cerah dengan latar belakang pepohonan hijau dan lapangan rumput.
ilustrasi lari (pexels.com/Bohdan Hyrovych)

Plak tetap merupakan tanda aterosklerosis dan tidak boleh diabaikan. Namun, keberadaan plak pada hasil pemindaian tidak otomatis berarti seseorang akan segera mengalami serangan jantung.

Sebuah studi terhadap 21.758 laki-laki sehat menemukan bahwa aktivitas fisik dalam jumlah sangat tinggi memang berkaitan dengan kemungkinan ditemukannya kalsium koroner. Akan tetapi, kelompok yang sangat aktif tidak mengalami peningkatan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular maupun semua penyebab selama masa pengamatan.

Para ahli masih mempelajari alasan munculnya perbedaan tersebut. Atlet biasanya memiliki kebugaran lebih tinggi, pembuluh koroner yang lebih besar, kemampuan pembuluh melebar lebih baik, serta risiko diabetes dan tekanan darah tinggi yang lebih rendah. Itu mungkin membantu mengurangi dampak klinis plak, tetapi tidak membuat atlet kebal dari penyakit jantung.

Dengan demikian, dua fakta dapat terjadi bersamaan:

  • Sebagian atlet endurance laki-laki memiliki lebih banyak plak pada hasil pemindaian.
  • Aktivitas fisik dan kebugaran tinggi secara keseluruhan tetap berkaitan dengan risiko penyakit serta kematian kardiovaskular yang lebih rendah.

Para ahli tetap merekomendasikan orang dewasa melakukan 150–300 menit aktivitas aerobik intensitas sedang atau 75–150 menit aktivitas berat setiap minggu. Aktivitas fisik teratur membantu mencegah dan mengendalikan penyakit jantung, diabetes tipe 2, serta sejumlah penyakit kronis lainnya.

3. Apa yang sebaiknya dilakukan pelari?

Bagi kebanyakan orang, temuan penelitian tersebut bukan alasan untuk berhenti berlari. Pelari sehat tanpa gejala juga tidak perlu langsung melakukan CT scan jantung hanya karena rutin berolahraga.

Pemeriksaan jantung perlu disesuaikan dengan risiko masing-masing. Pelari paruh baya atau lebih tua yang berlatih dalam volume sangat tinggi sebaiknya tidak menganggap kebugaran sebagai jaminan bahwa pembuluh darahnya pasti bersih.

Faktor-faktor yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Kolesterol LDL dan tekanan darah tinggi.
  • Diabetes atau penyakit ginjal.
  • Riwayat merokok.
  • Riwayat serangan jantung pada usia muda dalam keluarga.
  • Pola makan tinggi lemak jenuh dan makanan ultraproses.
  • Penggunaan obat atau zat peningkat performa.
  • Gejala yang muncul saat berlari.

Pemeriksaan faktor risiko merupakan bagian terpenting dalam menilai atlet paruh baya. Pada mayoritas atlet yang tidak memiliki gejala atau gangguan aliran darah ke jantung, dokter umumnya tetap menganjurkan olahraga dilanjutkan dengan pengendalian faktor risiko secara individual.

Pelari juga sebaiknya meningkatkan jarak dan intensitas secara bertahap. Selingi latihan berat dengan sesi ringan, beri waktu cukup untuk pemulihan, dan jangan menganggap banyaknya kilometer dapat menghapus dampak kolesterol tinggi, merokok, atau pola makan yang buruk.

Hentikan latihan dan segera cari pertolongan medis jika muncul tekanan atau nyeri di dada, sesak yang tidak biasa, keringat dingin, mual, pusing, atau nyeri yang menjalar ke lengan, punggung, leher, atau rahang. Gejala tersebut perlu dinilai meskipun orang yang mengalaminya terlihat sangat bugar.

Apabila pemeriksaan menemukan plak, jangan langsung menghentikan olahraga atau mengubah latihan sendiri. Dokter perlu menilai jumlah plak, ada atau tidaknya penyempitan, gejala, kemampuan aliran darah, serta faktor risiko lainnya.

Penanganannya dapat mencakup perubahan pola makan, berhenti merokok, pengendalian tekanan darah dan diabetes, serta obat penurun kolesterol jika diperlukan.

Kesimpulannya, lari rutin tidak terbukti meningkatkan risiko plak pada kebanyakan orang. Temuan yang menjadi perhatian berasal dari kelompok yang jauh lebih spesifik, terutama atlet endurance laki-laki yang telah melakukan latihan sangat intens selama bertahun-tahun.

Referensi

Ruben De Bosscher et al., “Lifelong Endurance Exercise and Its Relation with Coronary Atherosclerosis,” European Heart Journal 44, no. 26 (2023): 2388–99, https://doi.org/10.1093/eurheartj/ehad152.

Vincent L. Aengevaeren et al., “Exercise Volume Versus Intensity and the Progression of Coronary Atherosclerosis in Middle-Aged and Older Athletes: Findings from the MARC-2 Study,” Circulation 147, no. 13 (2023): 993–1003, https://doi.org/10.1161/CIRCULATIONAHA.122.061173.

Laura F. DeFina et al., “Association of All-Cause and Cardiovascular Mortality with High Levels of Physical Activity and Concurrent Coronary Artery Calcification,” JAMA Cardiology 4, no. 2 (2019): 174–81, https://doi.org/10.1001/jamacardio.2018.4628.

Guido Claessen et al., “Coronary Atherosclerosis in Athletes: Emerging Concepts and Preventive Strategies,” European Heart Journal 46, no. 10 (2025): 890–903, https://doi.org/10.1093/eurheartj/ehae927.

World Health Organization, "WHO Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour: At a Glance," diakses Juli 2026.

American Heart Association, “Warning Signs of a Heart Attack,” diakses Juli 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More