- Mata terasa perih.
- Hidung dan sinus teriritasi.
- Tenggorokan terasa gatal atau sakit.
- Batuk.
- Mengi.
- Sesak atau sulit bernapas.
- Sakit kepala.
- Kelelahan.
- Nyeri dada.
- Denyut jantung terasa lebih cepat.
Karhutla Meluas, Ini Dampak Asapnya bagi Tubuh

Asap karhutla mengandung campuran polutan, tetapi PM2.5 menjadi salah satu ancaman utama karena dapat masuk jauh ke paru-paru dan sebagian komponennya berkaitan dengan efek sistemik.
Dampaknya tidak cuma mata perih dan batuk; paparan asap juga berkaitan dengan serangan asma, gangguan pernapasan, peningkatan kunjungan rumah sakit, serta risiko kardiovaskular.
Anak-anak, ibu hamil, lansia, orang dengan penyakit jantung atau paru, serta mereka yang banyak beraktivitas di luar ruangan perlu mendapat perlindungan lebih besar.
Langit yang berubah kelabu akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berdampak pada jarak padang. Lebih dari itu, di balik bau hangus dan kabut yang menyelimuti, terdapat campuran partikel dan gas yang ikut masuk ke tubuh setiap kali seseorang bernapas.
Ancaman ini kembali menjadi perhatian di Tanah Air Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) melaporkan lebih dari 3 juta warga di 37 kabupaten/kota pada tujuh provinsi terpapar langsung kabut asap karhutla.
Wilayah terdampak meliputi Jambi, Riau, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.
BMKG sebelumnya mendeteksi sebaran asap pada 19 Agustus di Sumatra bagian tengah dan selatan serta Kalimantan. Kondisi kering juga masih mendominasi: 76,5 persen Zona Musim telah memasuki musim kemarau pada Dasarian I Agustus 2026, di tengah kondisi El Niño yang kuat.
Berikut ini masalah kesehatan yang bisa terjadi akibat menghirup asap karhutla.
Table of Content
1. PM2.5 bisa mencapai bagian terdalam paru-paru
Asap karhutla merupakan campuran kompleks yang dapat mengandung karbon monoksida, nitrogen dioksida, sulfur dioksida, senyawa organik berbahaya, logam, serta berbagai ukuran particulate matter.
WHO menyebut, sekitar 90 persen massa partikel yang dilepaskan kebakaran berada pada ukuran PM2.5 atau lebih kecil.
PM2.5 merupakan partikel dengan diameter tidak lebih dari 2,5 mikrometer. Ukurannya yang sangat kecil membuatnya bisa melewati saluran napas bagian atas dan mencapai bagian terdalam paru-paru. Particulate matter juga dapat memicu efek di luar paru melalui peradangan sistemik dan komponen yang memasuki sirkulasi darah.
Udara masih dapat mengandung partikel berbahaya meski asap tidak terlihat sangat tebal.
2. Mata perih, tenggorokan gatal, sampai sesak napas

ilustrasi mengucek mata yang perih (unsplash.com/ahmad gunnaivi) Keluhan yang bisa muncul dalam hitungan jam pasca terpapar asap karhutla antara lain:
Pada orang dengan asma atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), efeknya bisa lebih berat karena asap dapat memicu eksaserbasi atau serangan penyakit yang sebelumnya terkendali.
Metaanalisis tahun 2025 yang mencakup 45 penelitian dan lebih dari 124 juta pasien menemukan, setiap peningkatan 10 µg/m³ PM2.5 yang berasal dari kebakaran berkaitan dengan sekitar 4 persen peningkatan risiko relatif rawat inap akibat gangguan pernapasan dan 4 persen peningkatan kunjungan ke unit gawat darurat karena masalah pernapasan.
3. Anak-anak termasuk yang paling rentan

Penanganan karhutla di Gunung Bromo. (IDN Times/Rizal Adhi Pratama) Anak menghirup lebih banyak udara dibandingkan ukuran tubuhnya daripada orang dewasa, sementara paru-paru dan sistem imunnya masih berkembang.
Anak juga cenderung lebih aktif secara fisik sehingga volume udara yang dihirup dapat meningkat.
Penelitian tahun 2026 terhadap data 366.632 kasus ISPA dan 27.574 kasus pneumonia pada anak di Palembang selama 2011–2020 menemukan hubungan antara peningkatan particulate matter saat periode kabut asap dan meningkatnya gangguan pernapasan. PM2.5 menunjukkan hubungan yang lebih konsisten dengan pneumonia, sementara PM10 lebih berkaitan dengan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Karena penelitian tersebut merupakan studi ekologis, hasilnya menunjukkan hubungan pada tingkat populasi dan tidak dapat membuktikan bahwa paparan asap menyebabkan setiap kasus pneumonia secara individual.
Kemenkes melaporkan kasus ISPA di Kalimantan Tengah meningkat dari 402 menjadi 716 dalam satu minggu di tengah karhutla pada Agustus 2026. Data surveilans ini menunjukkan peningkatan beban layanan kesehatan, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan semua kasus tersebut disebabkan oleh asap.
4. Dampaknya tidak berhenti di paru-paru
Partikel halus dapat memicu stres oksidatif dan peradangan. Ini menjelaskan mengapa efek polusi udara bisa melampaui saluran pernapasan.
Paparan asap kebakaran berkaitan dengan efek kardiovaskular seperti palpitasi dan peningkatan rawat inap, khususnya pada orang lanjut usia. Sebuah metaanalisis juga menemukan hubungan antara asap kebakaran dengan mortalitas kardiovaskular, walaupun besar risiko berbeda antarpenelitian dan bukti untuk beberapa outcome kardiovaskular masih belum sekonsisten bukti pada gangguan pernapasan.
Hal ini menjadi penting bagi orang yang sudah memiliki penyakit jantung, karena tubuh mereka mempunyai cadangan fisiologis yang lebih kecil ketika harus menghadapi tambahan beban akibat polusi udara.
5. Paparan berulang juga menjadi masalah
Karhutla di Indonesia bukan kejadian langka, terutama di wilayah dengan kebakaran lahan gambut berulang.
Penelitian mengenai kebakaran gambut di Sumatra dan Kalimantan menunjukkan bahwa paparan PM2.5 dari kebakaran tersebut dapat menghasilkan beban kesehatan jangka panjang yang besar, termasuk penyakit pernapasan, penyakit kardiovaskular, kasus asma berat pada anak, dan kematian prematur. Namun, angka beban penyakit dalam penelitian tersebut berasal dari pemodelan epidemiologis dan rentang ketidakpastiannya cukup besar.
Untuk asap kebakaran secara spesifik, konsekuensi jangka panjangnya masih terus diteliti. Bukti mengenai dampak akut dan gangguan pernapasan jauh lebih mapan dibandingkan beberapa kemungkinan efek kronis.
6. Ibu hamil juga perlu lebih berhati-hati

ilustrasi ibu hamil dan janin, bayi dalam kandungan (IDN Times/NRF) Ibu hamil lebih rentan terhadap dampak polusi udara. Tinjauan sistematis dan metaanalisis terhadap 31 penelitian menemukan bukti yang mengarah pada hubungan antara paparan asap kebakaran selama kehamilan dengan penurunan berat lahir, berat badan lahir rendah, dan kelahiran prematur. Namun, hasil antarstudi masih cukup heterogen sehingga besarnya risiko belum dapat dipastikan.
WHO karena itu memasukkan ibu hamil bersama anak-anak, lansia, dan pasien penyakit kronis sebagai kelompok yang membutuhkan perlindungan lebih besar selama episode asap kebakaran.
Cara mengurangi paparan asap karhutla
Jika kamu tinggal dekat lokasi karhutla, langkah terpenting adalah mengurangi jumlah asap yang masuk ke dalam tubuh.
Pantau kualitas udara, batasi kegiatan di luar ruangan, dan menggunakan masker ketika berada di wilayah terdampak. WHO menyarankan tetap berada di dalam ruangan jika aman, menutup pintu dan jendela saat asap tinggi, mengurangi aktivitas fisik di luar, serta mencari ruangan dengan udara lebih bersih.
Kalau harus keluar saat asap pekat, respirator seperti N95 atau FFP2 memberikan filtrasi partikel jauh lebih baik daripada masker kain atau masker bedah. Namun, perlindungannya sangat bergantung pada kecocokan masker dengan wajah dan respirator tidak menghilangkan semua komponen gas dalam asap.
Kurangi juga aktivitas berat di luar ruangan. Saat berlari atau melakukan pekerjaan fisik berat, frekuensi dan volume pernapasan meningkat sehingga lebih banyak udara, beserta polutannya, masuk ke paru-paru.
Batuk atau mata perih ringan dapat membaik setelah paparan berkurang. Namun, sesak napas yang berat atau memburuk, mengi yang tidak terkendali, nyeri dada, atau keluhan serius lainnya memerlukan pertolongan medis, terlebih pada orang dengan asma, PPOK, penyakit jantung, anak, lansia, dan ibu hamil.
Referensi
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, “Antisipasi Dampak Karhutla, Kemenkes Kerahkan Nakes dan Logistik ke 7 Provinsi,” diakses Agustus 2026.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, “Prakiraan Cuaca Indonesia Sepekan Periode 21–27 Agustus 2026: El Niño Sangat Kuat dan Kemarau Masih Mendominasi, Namun Hujan Lokal Tetap Berpotensi Terjadi,” diakses August 2026.
World Health Organization, “Wildfires,” diakses Agustus 2026.
Centers for Disease Control and Prevention, “How Wildfire Smoke Affects Your Body,” diakses August 2026.
Yiyi Wang et al., “Associations of Wildfire-Derived Particulate Matter with Hospitalization, Emergency Department Visits and Mortality: A Systematic Review and Meta-analysis,” Environmental Research 273 (2025): 121221, https://doi.org/10.1016/j.envres.2025.121221.
Budi Haryanto, Fitri Kurniasari, Indang Trihandini, Fajar Nugraha, Nabila Gayatri Widayana, and Nurul Laksmi Winarni, “Climate Change Adaptation to Smoke Haze for Improved Child Health in Southeast Asia: Analysis Situation in Palembang, Indonesia,” Annals of Global Health 92, no. 1 (2026): 52, https://doi.org/10.5334/aogh.5211.
Ying Lei, Tze-Huan Lei, Chan Lu, Xue Zhang, and Faming Wang, “Wildfire Smoke: Health Effects, Mechanisms, and Mitigation,” Environmental Science & Technology 58, no. 48 (2024): 21097–21119, https://doi.org/10.1021/acs.est.4c06653.
Lars Hein et al., “The Health Impacts of Indonesian Peatland Fires,” Environmental Health 21 (2022): 62, https://doi.org/10.1186/s12940-022-00872-w.
Damien Foo et al., “Wildfire Smoke Exposure during Pregnancy and Perinatal, Obstetric, and Early Childhood Health Outcomes: A Systematic Review and Meta-analysis,” Environmental Research 241 (2024): 117527, https://doi.org/10.1016/j.envres.2023.117527.
World Health Organization, “Public Health Advice during the Wildfires: How to Protect Your Health and Keep Safe,” diakses Agustus 2026.




















