Studi di Swedia bersifat observasional. Meskipun peneliti membandingkan periode penggunaan dan non penggunaan obat pada orang yang sama, tetapi masih ada kemungkinan faktor lain memengaruhi hasil.
Sebagai contoh, pasien yang kondisinya lebih stabil atau lebih aktif mengakses layanan kesehatan mungkin lebih berpeluang mendapatkan dan meneruskan semaglutide.
Hasilnya juga belum tentu berlaku pada populasi dan sistem layanan kesehatan di luar Swedia. Uji klinis acak diperlukan untuk mengetahui apakah semaglutide benar-benar dapat mengurangi kekambuhan bipolar serta siapa yang mungkin memperoleh manfaat.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa penanganan gangguan bipolar biasanya melibatkan kombinasi obat, intervensi psikologis, dan dukungan psikososial. Karena itu, temuan baru ini bukan alasan untuk menggunakan semaglutide tanpa indikasi medis, menghentikan obat penstabil suasana hati, atau mengubah pengobatan tanpa berkonsultasi dengan dokter.
Untuk saat ini, semaglutide merupakan kandidat yang perlu diteliti lebih lanjut—belum menjadi pengobatan baru untuk gangguan bipolar.
Referensi
Emma O’Connor, “Weight Loss Drugs May Help with Mental Health,” Griffith News, diakses Agustus 2026.
Heidi Taipale et al., “Use of Glucagon-Like Peptide 1 Receptor Agonists and the Associated Risk of Hospitalisation in Bipolar Disorder, From a Nationwide Cohort, 2009–2024,” Acta Psychiatrica Scandinavica 154, no. 4 (2026): 305–12, https://doi.org/10.1111/acps.70120.
Aureliane C. S. Pierret et al., “Glucagon-Like Peptide 1 Receptor Agonists and Mental Health: A Systematic Review and Meta-Analysis,” JAMA Psychiatry 82, no. 7 (2025): 643–53, https://doi.org/10.1001/jamapsychiatry.2025.0679.
World Health Organization, “Bipolar Disorder,” diakses Agustus 2026.