Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Obat GLP-1 Berpotensi Mengurangi Rawat Inap akibat Bipolar
ilustrasi seorang laki-laki menggunakan obat GLP-1 untuk menurunkan berat badan (IDN Times/NRF)
  • Penelitian ini secara khusus meneliti orang dengan gangguan bipolar yang juga menggunakan obat antidiabetes, bukan kesehatan mental masyarakat umum.

  • Penggunaan semaglutide dikaitkan dengan risiko rawat inap psikiatri 21 persen lebih rendah, tetapi hasil ini tidak membuktikan hubungan sebab-akibat.

  • Semaglutide belum menjadi terapi gangguan bipolar dan tidak dapat menggantikan obat maupun intervensi psikologis yang sudah direkomendasikan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kekambuhan gangguan bipolar dapat mengubah kehidupan dalam waktu singkat. Tidur terganggu, aktivitas sehari-hari terhenti, dan pada kondisi yang berat, seseorang mungkin membutuhkan perawatan di rumah sakit.

Sebuah obat yang lebih dikenal untuk diabetes dan penurunan berat badan kini diteliti mengenai kekambuhan tersebut. Studi di Swedia menemukan penggunaan semaglutide berkaitan dengan risiko rawat inap psikiatri yang lebih rendah pada orang dengan gangguan bipolar serta diabetes dan/atau obesitas.

Membandingkan orang yang sama pada waktu berbeda

Semaglutide termasuk agonis reseptor glucagon-like peptide-1 (GLP-1). Kelompok obat ini digunakan untuk mengendalikan diabetes tipe 2 dan, pada sebagian pasien, menangani obesitas.

Peneliti menganalisis data registrasi kesehatan Swedia dari 2009 hingga 2024. Studi mencakup 14.694 orang yang didiagnosis mengalami gangguan bipolar dan tercatat menggunakan obat antidiabetes. Sebanyak 5.200 orang pernah menggunakan obat GLP-1, termasuk 3.682 pengguna semaglutide.

Untuk mengurangi pengaruh perbedaan karakteristik antarpasien, peneliti membandingkan kondisi orang yang sama selama periode menggunakan GLP-1 dengan periode ketika tidak menggunakannya. Penggunaan obat psikiatri dan antidiabetes lain juga diperhitungkan dalam analisis.

Apa yang ditemukan?

ilustrasi perempuan dengan gangguan bipolar (pexels.com/SHVETS production)

Selama masa pengamatan, penggunaan semaglutide dikaitkan dengan:

  • Risiko rawat inap psikiatri karena penyebab apa pun yang 21 persen lebih rendah.

  • Risiko rawat inap akibat kekambuhan gangguan bipolar yang 17 persen lebih rendah.

Angka tersebut merupakan penurunan risiko relatif, bukan berarti semaglutide mencegah 21 dari setiap 100 kasus rawat inap.

Hasil serupa tidak ditemukan secara bermakna pada liraglutide dan dulaglutide, dua obat lain dalam kelompok GLP-1. Tidak ada pula hubungan yang signifikan antara penggunaan GLP-1 dan berkurangnya cuti sakit karena alasan psikiatri.

Ketika semaglutide dibandingkan langsung dengan obat diabetes lain bernama empagliflozin, hasilnya hanya menunjukkan kecenderungan penurunan risiko dan tidak mencapai batas kemaknaan statistik. Temuan ini menjadi alasan tambahan untuk tidak menganggap semua obat GLP-1 memiliki efek yang sama.

Bagaimana obat ini mungkin memengaruhi otak?

Ada beberapa kemungkinan. Efeknya bisa terjadi secara tidak langsung melalui penurunan berat badan dan perbaikan kesehatan metabolik. Aktivasi reseptor GLP-1 juga diduga dapat mengurangi peradangan saraf dan stres oksidatif—proses kerusakan sel yang telah dikaitkan dengan gangguan bipolar.

Akan tetapi, mekanisme tersebut belum diuji dalam penelitian ini. Data registrasi yang digunakan tidak memuat perubahan berat badan, indeks massa tubuh, kadar HbA1c, ataupun tingkat keparahan gejala setiap peserta.

Temuan ini sejalan dengan tinjauan sistematis dan metaanalisis dalam JAMA Psychiatry yang mencakup lebih dari 107.000 peserta uji klinis dengan diabetes dan/atau obesitas.

Penelitian tersebut tidak menemukan peningkatan risiko efek samping psikiatri pada pengguna GLP-1 dibandingkan plasebo. Obat ini juga dikaitkan dengan perbaikan kecil pada kualitas hidup terkait kesehatan mental. Namun, sebagian besar penelitian tersebut tidak dirancang untuk menguji GLP-1 sebagai pengobatan gangguan bipolar.

Belum bisa disebut sebagai terapi bipolar

Studi di Swedia bersifat observasional. Meskipun peneliti membandingkan periode penggunaan dan non penggunaan obat pada orang yang sama, tetapi masih ada kemungkinan faktor lain memengaruhi hasil.

Sebagai contoh, pasien yang kondisinya lebih stabil atau lebih aktif mengakses layanan kesehatan mungkin lebih berpeluang mendapatkan dan meneruskan semaglutide.

Hasilnya juga belum tentu berlaku pada populasi dan sistem layanan kesehatan di luar Swedia. Uji klinis acak diperlukan untuk mengetahui apakah semaglutide benar-benar dapat mengurangi kekambuhan bipolar serta siapa yang mungkin memperoleh manfaat.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa penanganan gangguan bipolar biasanya melibatkan kombinasi obat, intervensi psikologis, dan dukungan psikososial. Karena itu, temuan baru ini bukan alasan untuk menggunakan semaglutide tanpa indikasi medis, menghentikan obat penstabil suasana hati, atau mengubah pengobatan tanpa berkonsultasi dengan dokter.

Untuk saat ini, semaglutide merupakan kandidat yang perlu diteliti lebih lanjut—belum menjadi pengobatan baru untuk gangguan bipolar.

Referensi

Emma O’Connor, “Weight Loss Drugs May Help with Mental Health,” Griffith News, diakses Agustus 2026.

Heidi Taipale et al., “Use of Glucagon-Like Peptide 1 Receptor Agonists and the Associated Risk of Hospitalisation in Bipolar Disorder, From a Nationwide Cohort, 2009–2024,” Acta Psychiatrica Scandinavica 154, no. 4 (2026): 305–12, https://doi.org/10.1111/acps.70120.

Aureliane C. S. Pierret et al., “Glucagon-Like Peptide 1 Receptor Agonists and Mental Health: A Systematic Review and Meta-Analysis,” JAMA Psychiatry 82, no. 7 (2025): 643–53, https://doi.org/10.1001/jamapsychiatry.2025.0679.

World Health Organization, “Bipolar Disorder,” diakses Agustus 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article