- 18,7 persen dengan semaglutide 7,2 mg.
- 15,6 persen dengan semaglutide 2,4 mg.
- 3,9 persen dengan plasebo.
GLP-1 Injeksi vs Oral, Mana yang Lebih Efektif Turunkan Berat Badan?

Bentuk injeksi tidak otomatis lebih efektif daripada oral; efektivitas bergantung pada molekul dan dosis yang digunakan.
Untuk semaglutide pada obesitas, injeksi 2,4–7,2 mg per minggu menghasilkan rata-rata penurunan berat badan sekitar 15,6–18,7 persen dalam STEP UP, sedangkan semaglutide oral 25 mg menghasilkan 13,6 persen dalam OASIS 4.
Angka dari kedua studi tidak boleh dibandingkan sebagai bukti head-to-head karena peserta, durasi, dan desain penelitiannya berbeda.
Selama beberapa tahun, obat GLP-1 identik dengan suntikan. Semaglutide, liraglutide, dan obat berbasis inkretin lainnya mengubah cara dokter menangani diabetes tipe 2 dan obesitas, tetapi tidak semua orang nyaman dengan obat suntik.
Sekarang pilihannya beragam. Di Amerika Serikat (AS), misalnya, Food and Drug Administration (FDA) telah menyetujui semaglutide oral 25 mg untuk pengelolaan berat badan pada akhir 2025. Pada 2026, obat GLP-1 oral lain, orforglipron, juga mendapat persetujuan FDA untuk obesitas.
Lantas, apakah tablet bisa bekerja sebaik obat suntik?
Table of Content
1. Untuk semaglutide, injeksi masih unggul
Studi STEP UP yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet Diabetes & Endocrinology pada 2025, sebanyak 1.407 orang dengan obesitas tanpa diabetes mendapat semaglutide injeksi seminggu sekali pada dosis 7,2 mg, 2,4 mg, atau plasebo.
Setelah 72 minggu, rata-rata berat badan turun:
Dosis injeksi 7,2 mg tersebut kemudian disetujui FDA pada Maret 2026 untuk pengelolaan berat badan pada kelompok dewasa tertentu.
Sementara itu, studi OASIS 4 menguji semaglutide oral 25 mg sekali sehari pada 307 orang dengan overweight atau obesitas tanpa diabetes. Setelah 64 minggu, rata-rata penurunan berat badan mencapai 13,6 persen, dibandingkan 2,2 persen pada kelompok plasebo.
Sekilas, injeksi terlihat lebih unggul. Namun, STEP UP dan OASIS 4 bukan penelitian yang membandingkan tablet dan suntikan secara langsung.
Peserta, durasi penelitian, dosis, dan rancangan studinya berbeda. Bahkan komentar ilmiah yang menyertai OASIS 4 menekankan bahwa tidak adanya kelompok pembanding aktif membuat efektivitas oral 25 mg tidak bisa langsung dibandingkan dengan semaglutide injeksi 2,4 mg.
2. Tablet dosis lebih tinggi bisa mendekati hasil injeksi

ilustrasi minum obat oral (IDN Times/NRF) Rute pemberian saja tidak cukup untuk menentukan efektivitas suatu obat.
Dalam studi OASIS 1, semaglutide oral 50 mg sehari menghasilkan rata-rata penurunan berat badan 15,1 persen setelah 68 minggu, dibandingkan 2,4 persen dengan plasebo.
Sebagai gambaran, studi STEP 1 terhadap semaglutide injeksi 2,4 mg seminggu sekali sebelumnya menemukan rata-rata penurunan berat badan 14,9 persen setelah 68 minggu.
Namun, sekali lagi, kedua kelompok tidak berasal dari uji klinis yang sama sehingga tidak boleh disimpulkan bahwa oral 50 mg terbukti sama efektifnya dengan injeksi 2,4 mg.
Selain itu, semaglutide oral 50 mg bukan dosis tablet Wegovy yang saat ini disetujui FDA untuk pengelolaan berat badan. Dosis pemeliharaan tablet yang disetujui adalah 25 mg sehari.
3. Obat injeksi juga tidak otomatis mengalahkan semua obat oral
Dalam uji klinis PIONEER 4, semaglutide oral 14 mg sekali sehari dibandingkan dengan liraglutide injeksi 1,8 mg sekali sehari pada 711 orang dengan diabetes tipe 2.
Setelah 26 minggu, HbA1c turun sekitar 1,2 poin persentase dengan semaglutide oral dan 1,1 poin dengan liraglutide injeksi. Semaglutide oral terbukti tidak lebih buruk untuk mengontrol gula darah dan menghasilkan penurunan berat badan lebih besar: 4,4 kg dibandingkan 3,1 kg.
Artinya, obat berbentuk suntikan tidak selalu lebih kuat. Molekul dan dosisnya tetap menentukan.
Metaanalisis 2025 yang secara khusus membandingkan berbagai uji semaglutide oral dan subkutan pada diabetes tipe 2 memang menemukan injeksi menghasilkan penurunan HbA1c lebih besar secara rata-rata, sekitar 1,4 poin persentase dibandingkan 1,16 dengan oral. Injeksi juga lebih unggul untuk penurunan berat badan dalam analisis tersebut. Namun, sebagian besar data bukan berasal dari perbandingan langsung antara kedua formulasi dalam populasi yang sama.
4. Pil belum tentu lebih praktis daripada suntikan

ilustrasi seorang laki-laki menggunakan obat GLP-1 untuk menurunkan berat badan (IDN Times/NRF) Semaglutide tablet perlu diminum setiap pagi dalam keadaan perut kosong dengan tidak lebih dari sekitar 120 mL air. Setelah itu, pengguna harus menunggu setidaknya 30 menit sebelum makan, minum, atau menggunakan obat oral lainnya. Sebaliknya, semaglutide injeksi untuk obesitas diberikan seminggu sekali.
Jadi, orang yang tidak suka jarum mungkin lebih memilih tablet, sedangkan orang lain justru merasa suntikan sekali seminggu lebih mudah daripada mengingat tablet setiap pagi dengan aturan khusus.
Obat oral juga tidak semuanya sama. Orforglipron, misalnya, merupakan molekul GLP-1 nonpeptida yang diminum sekali sehari dan tidak mempunyai pembatasan makanan serta air seperti semaglutide oral. FDA menyetujuinya untuk pengelolaan berat badan pada April 2026.
5. Efek samping keduanya tetap mirip
Pada studi OASIS 4, keluhan gastrointestinal terjadi pada 74 persen pengguna semaglutide oral 25 mg, dibandingkan 42,2 persen pada kelompok plasebo.
Pada studi STEP UP, keluhan gastrointestinal juga paling sering ditemukan pada semaglutide injeksi: sekitar 70,8 persen pada dosis 7,2 mg dan 61,2 persen pada dosis 2,4 mg. Keluhannya dapat berupa mual, muntah, diare, konstipasi, dan nyeri perut.
GLP-1 juga memiliki kontraindikasi, peringatan, dan potensi efek samping lain sehingga penggunaannya harus dipantau oleh dokter.
Jadi, oral atau injeksi?

ilustrasi obat-obatan dari dokter (IDN Times/Novaya Siantita) Jadi, efektivitas obat tidak bisa ditentukan hanya dari cara obat masuk ke tubuh.
Untuk semaglutide pada obesitas, data saat ini menunjukkan injeksi dosis yang disetujui dapat menghasilkan penurunan berat badan yang lebih besar daripada semaglutide oral 25 mg. Namun, belum ada uji head-to-head yang membuktikan secara langsung bahwa injeksi lebih baik daripada tablet 25 mg.
Lebih penting lagi, pilihan pengobatan terbaik akan didasarkan pada kondisi kesehatan, tujuan terapi, efek samping, kenyamanan dengan suntikan, rutinitas minum obat, akses dan biaya, serta obat lain yang digunakan.
Referensi
U.S. Food and Drug Administration, “NDA Approval: Wegovy (Semaglutide) Tablets,” December 22, 2025, NDA 218316.
U.S. Food and Drug Administration, “FDA Approves First New Molecular Entity Under National Priority Voucher Program,” diakses Agustus 2026.
Sean Wharton et al., “Once-Weekly Semaglutide 7.2 mg in Adults with Obesity (STEP UP): A Randomised, Controlled, Phase 3b Trial,” The Lancet Diabetes & Endocrinology 13, no. 11 (2025): 949–963, https://doi.org/10.1016/S2213-8587(25)00226-8.
Sean Wharton et al., “Oral Semaglutide at a Dose of 25 mg in Adults with Overweight or Obesity,” New England Journal of Medicine 393 (2025): 1077–1087, https://doi.org/10.1056/NEJMoa2500969.
Filip K. Knop et al., “Oral Semaglutide 50 mg Taken Once per Day in Adults with Overweight or Obesity (OASIS 1),” The Lancet 402, no. 10403 (2023): 705–719, https://doi.org/10.1016/S0140-6736(23)01185-6.
John P. H. Wilding et al., “Once-Weekly Semaglutide in Adults with Overweight or Obesity,” New England Journal of Medicine 384 (2021): 989–1002, https://doi.org/10.1056/NEJMoa2032183.
Richard Pratley et al., “Oral Semaglutide versus Subcutaneous Liraglutide and Placebo in Type 2 Diabetes (PIONEER 4),” The Lancet 394, no. 10192 (2019): 39–50, https://doi.org/10.1016/S0140-6736(19)31271-1.
Krzysztof Drygalski, Krzysztof Pastuszak, and Beata Modzelewska, “Assessment of Noninferiority of Oral vs Subcutaneous Semaglutide: A Systematic Review and Meta-Analysis,” Polish Archives of Internal Medicine 135, no. 12 (2025): 17141, https://doi.org/10.20452/pamw.17141.



![[QUIZ] Tebak Mana Olahraga Low Impact dan High Impact](https://image.idntimes.com/post/20260811/gambar-artikel-88_a0d2c204-98d6-41f0-954e-b4f448a7c9b1.png)



![[QUIZ] Mana yang Lebih Tinggi Natrium? Kamu Bisa Tebak?](https://image.idntimes.com/post/20260804/mwuep2hrca5w9qlbdxkci8rch_0a3c7963-22c0-42a8-afa2-de6c989c3307.png)










