Mengalami serangan jantung tidak berarti langsung pulih setelah pasien pulang dari rumah sakit. Proses pemulihan dan risiko yang dihadapi setelahnya bisa berbeda antara orang yang berusia 50 tahun dan mereka yang berusia 80 tahun.
Pada Serangan Jantung, Mengapa Usia Memengaruhi Peluang Bertahan?
Take a Deeper Read
Lansia memiliki risiko kematian lebih tinggi, tetapi usia bukan satu-satunya penentu
Studi kohort nasional yang terbit dalam jurnal Heart pada tahun 2025 menganalisis 852.914 pasien dewasa yang dirawat karena serangan jantung di Inggris dan Wales pada tahun 2005–2019. Secara keseluruhan, angka kematian dalam satu tahun turun dari 22,8 persen pada 2005 menjadi 14,2 persen pada tahun 2019. Meski begitu, pasien lansia tetap memiliki angka kematian lebih tinggi sepanjang periode penelitian.
Peneliti memperkirakan peningkatan penggunaan obat berbasis bukti—seperti statin, penghambat beta, dan ACE inhibitor—menyumbang 27,7 persen dari penurunan tersebut. Penggunaan prosedur untuk membuka kembali pembuluh darah yang tersumbat, yaitu intervensi koroner perkutan atau PCI, menyumbang 17,6 persen.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa hasil setelah serangan jantung dapat berubah seiring kemajuan pengobatan.
Usia berpengaruh antara lain karena lansia lebih mungkin memiliki beberapa penyakit sekaligus, mengalami kelemahan fisik, atau kondisi jantungnya lebih kompleks. Faktor-faktor itu dapat membuat diagnosis, pemilihan terapi, dan pemulihan menjadi lebih rumit. Karena itu, usia perlu dinilai bersama kondisi kesehatan pasien, bukan sebagai satu-satunya penentu hasil.
Pasien lebih muda bisa kehilangan lebih banyak tahun harapan hidup
Studi lain, yang diterbitkan dalam jurnal Circulation pada tahun 2024, membandingkan 335.748 orang yang mengalami serangan jantung pertama dengan lebih dari 1,6 juta orang yang tidak memiliki riwayat serangan jantung. Para pembanding dicocokkan berdasarkan usia, jenis kelamin, dan wilayah tempat tinggal.
Peneliti menemukan bahwa, dibandingkan orang seusianya yang tidak mengalami serangan jantung, pasien lebih muda rata-rata kehilangan lebih banyak tahun harapan hidup. Dalam estimasi untuk tahun 2022, kehilangan harapan hidup yang telah disesuaikan tercatat sekitar dua tahun pada pasien berusia 50 tahun—2,0 tahun pada perempuan dan 1,9 tahun pada laki-laki. Pada usia 80 tahun, angkanya sekitar satu tahun pada perempuan dan 0,9 tahun pada laki-laki.
Bukan berarti pasien berusia 50 tahun lebih mungkin meninggal daripada pasien berusia 80 tahun. Penelitian tersebut mengukur selisih perkiraan lama hidup pasien dibandingkan orang seusianya yang tidak mengalami serangan jantung. Lansia tetap bisa memiliki risiko kematian yang lebih tinggi secara keseluruhan, sementara pasien lebih muda berpotensi kehilangan lebih banyak tahun dari sisa harapan hidupnya.
Fungsi pompa jantung juga penting. Dalam studi yang sama, kehilangan harapan hidup lebih besar pada pasien dengan fraksi ejeksi ventrikel kiri di bawah 50 persen—ukuran yang menunjukkan seberapa baik ruang kiri jantung memompa darah. Penyakit penyerta dan faktor risiko turut memengaruhi hasil.
Karena itu, angka kelompok tidak bisa meramalkan nasib satu pasien. Jenis serangan jantung, seberapa cepat aliran darah dipulihkan, fungsi jantung, penyakit lain, dan perawatan setelah keluar dari rumah sakit ikut menentukan pemulihan.
Penanganan cepat tetap penting. Jika muncul gejala yang mengarah ke serangan jantung, segera cari pertolongan medis darurat. Perawatan lanjutan dan rehabilitasi jantung juga menjadi bagian dari pemulihan.
Referensi
Sharon Ayayo, Glen Martin, Salwa S. Zghebi, Vicky P. Taxiarchi, Muhammad Rashid, Evangelos Kontopantelis, dan Mamas Mamas, “Drivers of 1-Year Mortality Decline after Acute Myocardial Infarction in England and Wales: A 15-Year National Cohort Study,” Heart, dipublikasikan daring 21 Juli 2025, https://doi.org/10.1136/heartjnl-2024-325474.
American Heart Association, “Management of Acute Coronary Syndrome in the Older Adult Population: Top Things to Know,” diakses 3 November 2026.
Christian Reitan et al., “Excess Mortality and Loss of Life Expectancy After Myocardial Infarction: A Registry-Based Matched Cohort Study,” Circulation 150, no. 11 (2024): 826–35, https://doi.org/10.1161/CIRCULATIONAHA.124.068739.
American Heart Association, “Heart Attack Explained,” diakses 3 November 2026.
Curated For You
- Cara Mengatasi Serangan Jantung saat Sedang Sendirian19 Oct 2026, 11:11 WIB
- Flu Bisa Memicu Serangan Jantung, Ini Alasannya03 Oct 2026, 05:04 WIB
- 7 Hal yang Perlu Dikenali tentang Serangan Jantung pada Usia Muda29 Sep 2026, 08:01 WIB