Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Aspartam: Batas Aman, Manfaat, dan Hal yang Perlu Diwaspadai
ilustrasi pemanis aspartam (unsplash.com/Melvyn Swingler)
  • Aspartam adalah pemanis rendah kalori sekitar 200 kali lebih manis dari gula, sehingga dapat mengurangi asupan gula dan kalori apabila menggantikan gula dalam produk.

  • Umumnya, batas aman asupannya 40 mg/kg berat badan per hari. IARC mengategorikannya "mungkin karsinogenik".

  • Kebanyakan orang dapat mengonsumsi aspartam sesuai batas; penderita fenilketonuria perlu menghindari atau membatasinya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Aspartam banyak digunakan dalam minuman rendah kalori, permen karet, dan berbagai produk tanpa gula. Karena tingkat kemanisannya jauh lebih tinggi daripada gula, hanya diperlukan dalam jumlah kecil untuk memberikan rasa manis. Namun, munculnya berbagai pemberitaan tentang kemungkinan kaitannya dengan kanker membuat sebagian orang mempertanyakan keamanannya.

Saat menilai keamanan aspartam, regulator tidak cuma melihat apakah suatu bahan berpotensi menimbulkan bahaya, tetapi juga apakah bahan tersebut menimbulkan risiko pada jumlah yang benar-benar dikonsumsi sehari-hari. Kedua hal ini penting karena suatu zat bisa memiliki potensi bahaya tertentu, tetapi risikonya berbeda ketika digunakan dalam jumlah yang diizinkan.

1. Apa itu aspartam?

Aspartam adalah pemanis rendah kalori yang digunakan dalam berbagai produk pangan. Karena tingkat kemanisannya sekitar 200 kali gula, jumlah yang dibutuhkan biasanya jauh lebih sedikit.

Aspartam juga diuraikan tubuh menjadi beberapa komponen, termasuk fenilalanin.

2. Berapa batas asupan hariannya?

JECFA, komite ahli aditif pangan gabungan WHO dan FAO, menetapkan Acceptable Daily Intake (ADI) aspartam sebesar 0–40 mg per kilogram berat badan per hari.

ADI adalah perkiraan jumlah yang dapat dikonsumsi setiap hari sepanjang hidup tanpa risiko kesehatan yang berarti berdasarkan bukti yang tersedia, bukan target konsumsi harian.

Sebagai gambaran, untuk orang dengan berat badan 60 kg, batas ADI-nya setara 2.400 mg per hari.

3. Mengapa aspartam disebut “mungkin karsinogenik”?

ilustrasi minuman soda yang mengandung aspartam (unsplash.com/id/@blakewisz)

Pada tahun 2023, IARC (lembaga penelitian kanker WHO) menggolongkan aspartam dalam Grup 2B, yaitu “mungkin bersifat karsinogenik bagi manusia.” Penilaian ini didasarkan pada bukti terbatas, terutama terkait kanker hati.

Kategori tersebut menjelaskan potensi suatu bahan untuk menimbulkan bahaya, tidak menyatakan seberapa besar risiko pada dosis konsumsi tertentu.

Penilaian JECFA berbeda. Setelah meninjau bukti yang tersedia, komite itu menyatakan hubungan aspartam dengan kanker pada manusia belum meyakinkan dan mempertahankan ADI 40 mg/kg berat badan per hari. BPOM juga menyampaikan bahwa penggunaan aspartam diizinkan sesuai batas yang berlaku.

Penilaian Otoritas Keamanan Makanan Eropa (EFSA) yang diterbitkan pada September 2026 membahas garam aspartam-acesulfame, E962. Disimpulkan bahwa penggunaannya pada tingkat yang dilaporkan tidak menimbulkan kekhawatiran keamanan dan mempertahankan ADI aspartam 40 mg/kg berat badan.

4. Apa manfaatnya?

Jika aspartam menggantikan gula dalam suatu produk, asupan gula dan kalori dari produk itu bisa berkurang. Namun, manfaat tersebut bergantung pada apa yang digantikan dan pola makan secara keseluruhan.

WHO pada 2023 mengeluarkan rekomendasi bersyarat agar pemanis non gula tidak digunakan sebagai strategi jangka panjang untuk mengendalikan berat badan atau mencegah penyakit kronis. Rekomendasi itu bukan penilaian bahwa aspartam beracun dan tidak dimaksudkan untuk menggantikan penilaian keamanan aditif pangan.

5. Adakah efek sampingnya?

Sakit kepala kerap dikaitkan dengan aspartam. Namun, bukti yang tersedia belum menunjukkan pola efek samping yang konsisten.

Sebuah uji silang kecil pada orang yang sebelumnya merasa sensitif terhadap aspartam menemukan lebih banyak hari sakit kepala selama konsumsi aspartam dibandingkan plasebo. Karena pesertanya sedikit dan dipilih berdasarkan keluhan sebelumnya, hasil itu tidak bisa digeneralisasi kepada semua orang.

Tinjauan sistematis pada 2025 yang merangkum 100 eksperimen pada manusia menemukan sedikit atau tidak ada dampak aspartam pada metabolisme glukosa. Namun, kepastian buktinya dinilai sangat rendah, sehingga belum cukup untuk menyimpulkan bahwa aspartam memberi manfaat khusus bagi pengendalian gula darah.

6. Siapa yang perlu menghindari aspartam?

ilustrasi membaca label di kemasan produk (pexels.com/Kevin Malik)

Orang dengan fenilketonuria (PKU) perlu membatasi atau menghindari aspartam sesuai arahan dokter atau ahli gizi.

PKU adalah kondisi langka yang membuat tubuh kesulitan mengolah fenilalanin, salah satu komponen hasil penguraian aspartam.

BPOM mensyaratkan peringatan pada label produk yang mengandung aspartam. Karena itu, orang dengan PKU perlu memeriksa label sebelum mengonsumsi produk pangan kemasan.

Intinya, bagi kebanyakan orang, aspartam dinilai aman apabila dikonsumsi dalam batas yang ditetapkan. Orang dengan PKU perlu mengikuti pembatasan khusus, sedangkan siapa pun yang berulang kali mengalami keluhan setelah mengonsumsi produk tertentu dapat mencatat pemicunya dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Referensi

European Food Safety Authority, “Aspartame,” diakses 29 Oktober 2026.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, “Penjelasan BPOM RI Nomor HM.01.1.2.07.23.24 tentang Keamanan Pemanis Buatan Aspartam,” diakses 29 Oktober 2026.

World Health Organization, “WHO and JECFA Assess Aspartame Safety,”diakses 29 Oktober 2026.

Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives, “Aspartame,” JECFA Database, diakses 29 Oktober 2026.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, "Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 11 Tahun 2019 tentang Bahan Tambahan Pangan," diakses 29 Oktober 2026.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, “Cek Bahan Tambahan Pangan,” diakses 29 Oktober 2026.

European Food Safety Authority, “EFSA Concludes the Salt of Aspartame-Acesulfame (E 962) Is Safe at Current Exposure Levels,” 10 September 2026, diakses 29 Oktober 2026.

EFSA Panel on Food Additives and Flavourings, “Re-evaluation of the Safety of the Salt of Aspartame-Acesulfame (E 962),” EFSA Journal 24, no. 9 (2026): e10259, https://doi.org/10.2903/j.efsa.2026.10259.

World Health Organization, “WHO Advises Not to Use Non-Sugar Sweeteners for Weight Control in Newly Released Guideline,” diakses 29 Oktober 2026.

World Health Organization, "Use of Non-Sugar Sweeteners: WHO Guideline," diakses 29 Oktober 2026.

R. A. Van Den Eeden et al., “Aspartame Ingestion and Headaches: A Randomized Crossover Trial,” Headache 34, no. 5 (1994), https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/7936222/.

Lucy R. Boxall et al., “The Effects of Aspartame on Glucose, Insulin, and Appetite-Regulating Hormone Responses in Humans: Systematic Review and Meta-Analyses,” Advances in Nutrition 16, no. 7 (2025): 100449, https://doi.org/10.1016/j.advnut.2025.100449.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, “Ketentuan Label Bahan Tambahan Pangan,” diakses 29 Oktober 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article