Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi menstruasi (pexels.com/kaboompics.com)
  • Aroma darah menstruasi dapat berubah secara normal akibat zat besi, oksidasi darah yang terpapar udara, serta campuran keringat dan bakteri alami ketika pembalut digunakan terlalu lama.
  • Bau busuk atau amis menyengat yang menetap, terutama dengan keputihan abnormal, gatal, nyeri panggul, demam, atau dugaan tampon tertinggal, perlu segera diperiksakan.
  • Ganti pembalut tiap 3–4 jam atau saat penuh, bersihkan vulva dengan air, hindari produk berpewangi dan douching, serta konsultasikan jika bau tidak biasa terus muncul.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Aroma darah menstruasi terkadang terasa berbeda dari biasanya, mulai dari sedikit berbau logam hingga lebih amis ketika darah sudah cukup lama berada di pembalut. Perubahan tersebut bisa membuat sebagian orang khawatir, apalagi jika aromanya terasa lebih kuat pada hari-hari tertentu selama menstruasi. Padahal, darah haid memang memiliki aroma khas yang dapat dipengaruhi oleh proses alami di dalam tubuh maupun kondisi di sekitar area kewanitaan.

Bau menstruasi tidak selalu menjadi tanda adanya penyakit, tetapi perubahan yang sangat mencolok tetap perlu diperhatikan. Aroma yang muncul bersama keluhan lain, seperti gatal, keputihan tidak biasa, atau nyeri panggul, bisa menunjukkan adanya gangguan yang membutuhkan pemeriksaan. Yuk, kenali penyebab bau darah menstruasi berubah dan tanda-tanda yang sebaiknya tidak diabaikan!

1. Bau darah menstruasi bisa berubah karena proses alami dan kebersihan

ilustrasi menstruasi (pexels.com/kaboompics.com)

Darah menstruasi secara alami dapat memiliki aroma seperti logam atau besi karena mengandung zat besi dari hemoglobin dalam sel darah merah. Aroma ini biasanya masih tergolong normal selama tidak disertai bau busuk yang menyengat atau keluhan lain pada area kewanitaan. Intensitasnya juga bisa berbeda sepanjang menstruasi, tergantung jumlah darah yang keluar dan berapa lama darah tersebut berada di pembalut.

Pada awal atau akhir menstruasi, darah terkadang keluar lebih sedikit sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai pembalut. Darah yang sudah terpapar udara dapat mengalami oksidasi, yaitu proses reaksi dengan oksigen yang juga membuat warnanya berubah menjadi lebih gelap atau kecokelatan. Kondisi tersebut dapat membuat aromanya terasa sedikit berbeda dibandingkan darah yang baru keluar, tetapi bukan berarti darah sedang membusuk di dalam rahim.

Penggunaan pembalut atau tampon terlalu lama juga bisa membuat aroma menstruasi semakin kuat. Darah yang terkumpul akan bercampur dengan keringat, kelembapan, dan bakteri alami di sekitar area genital sehingga bau yang muncul bisa terasa lebih tajam. Pembalut sebaiknya diganti secara berkala, sekitar setiap 3–4 jam atau lebih cepat jika sudah penuh, sedangkan tampon perlu diganti sesuai petunjuk penggunaan dan tidak boleh dibiarkan terlalu lama.

Perubahan aroma yang tidak biasa juga dapat berkaitan dengan ketidakseimbangan bakteri atau infeksi. Vaginosis bakterialis, misalnya, terjadi ketika keseimbangan bakteri alami di vagina terganggu dan dapat menimbulkan bau amis yang cukup kuat, terutama setelah berhubungan seksual atau selama menstruasi. Infeksi menular seksual seperti trikomoniasis juga bisa menyebabkan perubahan bau yang disertai keputihan tidak normal, sementara klamidia dan gonore terkadang menimbulkan keputihan atau perdarahan yang tidak biasa.

2. Bau amis atau busuk yang menyengat perlu diperhatikan

ilustrasi menstruasi (pexels.com/kaboompics.com)

Bau darah menstruasi yang sedikit amis atau menyerupai logam belum tentu berbahaya, tetapi aroma busuk yang sangat menyengat sebaiknya tidak diabaikan. Terlebih jika perubahan tersebut tetap terasa setelah pembalut diganti dan area kewanitaan dibersihkan dengan cara yang tepat. Kondisi ini bisa berkaitan dengan infeksi vagina atau gangguan lain yang perlu diperiksa agar penyebabnya dapat diketahui.

Beberapa gejala yang perlu diperhatikan meliputi keputihan berwarna kuning atau hijau, keputihan dengan tekstur tidak biasa, rasa gatal, perih, serta sensasi terbakar di sekitar vagina. Nyeri saat buang air kecil, nyeri panggul, dan rasa sakit ketika berhubungan seksual juga dapat menyertai infeksi tertentu. Pemeriksaan sebaiknya tidak ditunda jika keluhan tersebut muncul bersamaan dengan perubahan bau menstruasi.

Demam, nyeri perut bagian bawah yang berat, atau kondisi tubuh yang terasa sangat lemah juga membutuhkan perhatian medis segera. Jika seseorang menggunakan tampon dan merasa ada kemungkinan tampon tertinggal di dalam vagina, pemeriksaan perlu dilakukan secepatnya, terutama ketika muncul bau busuk atau keputihan yang tidak biasa. Tampon yang tertinggal dapat memicu infeksi dan, meskipun jarang, berisiko menyebabkan sindrom syok toksik yang merupakan kondisi serius.

3. Jaga kebersihan area kewanitaan tanpa mengganggu keseimbangan alaminya

ilustrasi pembalut (unsplash.com/The Female Company)

Mengganti pembalut secara teratur dan membersihkan area genital dengan air bersih dapat membantu mengurangi aroma yang muncul akibat darah, keringat, dan kelembapan. Bagian luar vagina atau vulva bisa dibersihkan secara lembut, lalu dikeringkan sebelum memakai pembalut atau pakaian dalam kembali. Hindari penggunaan sabun berpewangi, cairan pembersih vagina, atau praktik douching karena dapat mengganggu keseimbangan bakteri alami dan justru meningkatkan risiko iritasi.

Pakaian dalam berbahan yang nyaman dan mampu menyerap keringat juga bisa membantu menjaga area genital tetap kering. Pembalut yang sudah lembap atau penuh sebaiknya segera diganti, sedangkan penggunaan tampon perlu mengikuti batas waktu yang tertera pada kemasan. Kebersihan selama menstruasi bukan berarti vagina harus dibuat steril karena bakteri alami tetap dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan lingkungan di dalamnya.

Jika bau tidak biasa terus muncul atau disertai gejala lain, pemeriksaan ke dokter atau dokter spesialis obstetri dan ginekologi dapat dilakukan untuk mengetahui penyebabnya. Dokter mungkin akan menanyakan perubahan keputihan, riwayat menstruasi, aktivitas seksual, serta keluhan lain sebelum menentukan pemeriksaan yang diperlukan. Penanganan pun akan disesuaikan dengan penyebabnya, sehingga penggunaan obat atau cairan pembersih tanpa mengetahui sumber masalah sebaiknya dihindari.

Bau darah menstruasi memang bisa berubah sepanjang siklus dan tidak selalu menunjukkan adanya infeksi. Perbedaan aroma perlu diperhatikan terutama ketika terasa sangat menyengat, menetap, atau muncul bersama keluhan lain. Mengenali penyebab bau darah menstruasi berubah dapat membantu kondisi pada area kewanitaan diperiksa lebih awal.

Referensi

“Why Does My Period Smell?” Healthline. Diakses pada November 2026.

“Why Your Period Smells and What to Do About It.” Verywell Health. Diakses pada November 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article